Home / Narasi Islam / Wanita / Jilbab Pakaian Taqwa

Jilbab Pakaian Taqwa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Perputaran roda kehidupan meninggalkan pergeseran sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat. Kaum feminisme dan liberalisme bersatu membuat propaganda pemikiran perempuan untuk dapat hidup bebas tanpa batas. Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim diiming-imingi dengan pemikiran Barat atas nama bias gender.

Islam oleh kaum feminisme dianggap agama yang mengekang kebebasan perempuan serta pembagian yang tidak adil terhadap hak waris, pernikahan, perwalian, perceraian, poligami dan hak berekspresi mengenakan pakaian. Padahal, saat ditelisik lebih jauh justru Islam hadir untuk memuliakan kaum perempuan dengan berbagai aturan yang ada.

Segala aturan yang ditetapkan Allah bukan untuk memberatkan manusia, melainkan untuk mempermudah urusan. Sebagai contoh jika harta waris sama antara laki-laki dan perempuan, maka kaum laki-laki terzhalimi karena ia juga menanggung beban hidup istri dan anak-anaknya. Sedangkan hak waris perempuan 100% untuk kepentingan dirinya sendiri.

Pada sisi yang lain, model berpakaian menjadi salah satu tameng yang digencarkan kaum feminisme dengan kebebasan mengumbar aurat. Ibarat sebuah intan, semakin bagus kualitas barang maka sang pemilik akan semakin hati-hati merawatnya. Tidak mungkin intan dibuang di tong sampah, sang pemilik tentu akan merawat dan menyimpan di tempat yang aman.

Logika berjilbab

Allah membuat aturan untuk manusia dengan pandangan kasih sayang, sedangkan manusia yang tidak bersyukur memandang aturan tersebut dengan pandangan nafsu syahwat. Hanya orang- orang yang beriman yang mampu berfikir dan menerima bahwa dengan menutup aurat kehormatan lebih terjaga.

Menutup aurat bukan berarti menanggalkan budaya modis dalam berekspresi. Perkembangan pemikiran para desainer jilbab menawarkan begitu banyak pakaian modis yang bisa tampil cantik. Namun tetap ada batasan bagi perempuan dalam berpakaian. Karena pakaian muslimah tidak hanya cukup menutup aurat, namun ada esensi yang akan dicapai.

Kewajiban menutup aurat berlaku bagi perempuan dan laki-laki. Hanya saja batasan di antara keduanya berbeda. Aurat laki-laki dari pusat hingga lutut, sedangkan perempuan seluruh anggota tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Pun aurat tersebut bukan tidak boleh dilihat oleh semua orang, hanya segelintir orang saja yang tidak boleh melihat yaitu yang bukan muhrim

Muhrim maksudnya adalah yang termaktub dalam Q.S. An Nur ayat 31 yaitu suami, ayah, mertua laki-laki, anak laki-laki, anak laki-laki suami jika beda istri, saudara kandung, keponakan laki-laki, sesama muslimah, anak – anak yang belum tahu aurat perempuan dan hamba sahaya pada zaman dulu. Jadi tidak semua laki-laki tidak boleh melihat aurat perempuan.

Sehingga, seorang muslimah tidak harus mengenakan jilbab di rumah selama yang ada di rumah adalah yang semuhrim. Berbeda saat ada tamu laki-laki atau sepupu yang bertamu, seorang muslimah harus menutup auratnya. Jika ia tidak menutup aurat, maka selama ada laki-laki yang bukan muhrim memandang aurat perempuan, selama itu pula dosa terus mengalir.

Menutup aurat hukumnya wajib, bukan sunat. Sehingga jika tidak dilakukan akan mendapat dosa. Dan jika dilakukan mendapat pahala. Anekdot yang dipahami masyarakat adalah jika mengenakan jilbab tidak boleh meninggalkan shalat, memfitnah dan bentuk dosa lain. Artinya, masyarakat memandang lebih bagus buka aurat asalkan perilaku baik. Dari pada mengenakan jilbab tapi perilaku bejat.

Padahal, dengan berjilbab justru akan memotivasi agar berperilaku baik. Sehingga jilbab yang dikenakan muslimah merupakan pendorong dan penyebab untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang lain.

Kalaupun ada seorang muslimah yang memakai jilbab namun perilakunya tidak baik, maka selama ia menutup aurat, ia terbebas dari dosa dan mendapat pahala. Sedangkan perilaku buruknya bernilai dosa. Kondisi ini sebagai cerminan bahwa manusia adalah makhluk lemah yang perlu selalu minta bimbingan kepada Allah swt.

Apabila ada seorang muslimah yang mengenakan jilbab namun perilaku sangat jauh dari tuntunan Islam, sepengamatan penulis orang-orang seperti ini berada di persimpangan jalan. Seiring berjalannya waktu, jika hati muslimah tersebut condong pada kebaikan maka perlahan perilakunya membaik. Sebaliknya jika hatinya condong kepada keburukan maka ia akan menanggalkan jilbabnya.

Sebagaimana minyak dan air tidak akan pernah bersatu dalam satu wadah. Begitu pula dengan kebaikan dan keburukan.  Sesungguhnya menutup aurat ringan dilakukan bagi yang menyadari bahwa diri perempuan adalah perhiasan dan barang mahal yang ditak bisa diobral. Sedangkan berat bagi yang mendahulukan nafsu syahwat sebagai Tuhan.

Menutup yang Syar’i

Perintah menutup aurat terdapat dalam Q. S. An Nur ayat 31 ” Dan katakanlah kepada para perempuan beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasan (auratnya) kecuali yang bisa terlihat….”

Para desainer pakaian tidak semua yang memperhatikan esensi dari jilbab yang digunakan yaitu untuk melindungi dan mudah dikenal. Melainkan untuk bisnis yang terkadang mengenyampingkan tujuan awal berjilbab, yaitu menutup aurat.

Pakaian boleh modis asalkan memenuhi kriteria agar tetap dianggap Allah menutup aurat, yaitu tebal agar tidak menerawang, tidak membentuk lekuk tubuh dan menutupi seluruh aurat.

Batasan tersebut agar muslimah tidak termasuk dalam hadits berikut “Sesungguhnya sebilangan ahli neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang yang condong kepada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesalahan dalam menutup aurat yang biasanya terjadi adalah jilbab yang digunakan berukuran kecil sehingga tetap nampak bentuk dada perempuan, baik saat dilihat dari depan atau dari samping. Kemudian tidak mengenakan kaus kaki dan manset untuk melindungi pergelangan tangan.

 

Baju yang digunakan muslimah hendaknya menjulur hingga di bawah pinggul atau sampai paha, agar bentuk bokong tidak terlihat. Selain itu baju dan rok yang digunakan harus longgar, karena jika sempit akan membentuk tubuh.

Dari sisi kesehatan, perempuan yang menutup aurat akan terlindungi dari terik matahari. Kulit pun menjadi putih bersih dan tidak kering. Dengan pakaian yang longgar, sirkulasi angin dan darah akan lebih lancar dibandingkan pakaian jean yang ketat.

Pakaian seksi hanya akan menyiksa perempuan. Bagaimana tidak? Saat ingin duduk tangan sibuk menutupi bokong atau paha yang terbuka, sesekali menutupi dada saat ingin jongkok. Akhirnya, fungsi tangan tidak bebas beraktivitas. Tidak hanya itu, perasaan lekuk tubuh yang dilihat laki-laki ganjen juga akan merusak konsentrasi dan menurunkan produktivitas.

Sedangkan perempuan yang berpakaian menutup aurat dengan benar, ia akan bebas berlompat, lari, jongkok, duduk maupun berbaring. Karena pakaian yang dikenakan longgar dan seluruh auratnya telah tertutupi, sehingga bergerak seperti apapun tidak akan tersingkap. Untuk menjadi lebih shalihah perempuan membutuhkan lingkungan yang kondusif, teman yang baik dan jalan menuju surga membutuhkan proses belajar yang berkepanjangan.

Yang paling penting bagi perempuan yang dengan benar menutup aurat adalah, ia dipandang mulia tidak hanya di hadapan manusia, terlebih di hadapan Allah. “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa  itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raaf: 26).

Pakaian taqwa yang dikenakan perempuan shalihah mencerminkan dirinya sebagai simbol perhiasan dunia akhirat. Bahkan bidadari surga cemburu padanya. Di akhirat kelak, ia akan menjadi ratu, bidadari adalah dayang -dayang mereka.

Lalu mengapa perempuan tidak menahan diri sejenak dan bersabar menahan nafsu? Bukankah Allah tidak pernah ingkar janji dan negeri akhirat itu lebih kekal? Allah menunjuki kita jalan ke surga, dan setan selalu menggiring kita menuju neraka. Hidup adalah pilihan.

Wallahu’Alam…

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Rusmini Bintis
Entrepreneur, Redpel Majalah As -Syifa, Aktivis PD KAMMI Medan.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Wakaf Sebagai Solusi Pengembangan Infrastruktur di Indonesia