Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Stop Menjadi Guru!

Stop Menjadi Guru!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul : Stop Menjadi Guru!
Penulis : Asep Sapa’at
Penerbit : PT Tangga Pustaka
Terbit : 2012
Tebal : 288 halaman
Harga : Rp 45.000

Menjadi Guru, Berinvestasi Untuk Indonesia

Cover buku "Stop Menjadi Guru!"
Cover buku “Stop Menjadi Guru!”

dakwatuna.com – Pada bagian pendahuluan Asep Sapa’at menuliskan bahwa kita harus menanamkan sikap untuk memiliki harapan dan impian yang tinggi kepada peserta didik, karena harapan dan impian itu akan berpengaruh kepada perilaku. Asep Sapa’at mencontohkan kisah para atlet atletik yang percaya bahwa tidak mungkin bagi manusia untuk berlari menempuh jarak satu mil (1,6 km) dalam waktu empat menit. Namun setelah seorang pelari Inggris bernama Roger Bannister membuktikan keyakinannya untuk menjadi orang pertama yang bisa menempuh jarak satu mil dalam waktu kurang dari empat menit dengan mengubah pola larinya, maka para pelari terbaik kelas dunia pun mulai mampu menempuh jarak satu mil dengan waktu kurang dari empat menit. Yang uniknya mereka tidak harus mengubah pola berlarinya, akan tetapi yang berubah hanyalah pemikiran mereka.

Restorasi Meiji yang dilakukan oleh Bangsa Jepang menjadikan negeri mereka mengalami kemajuan yang pesat di berbagai bidang. Mereka mengirim para pemudanya ke berbagai negara, termasuk Amerika dan Eropa. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka: Belajar. Tidak lama, hanya dalam jangka waktu 100 tahun, Bangsa Jepang telah mampu menjadi negara dengan kekuatan ekonomi dan militer yang patut diperhitungkan di kawasan Asia bahkan dunia. Komitmen, konsistensi dan berorientasi masa depan, kunci sukses Bangsa Jepang dalam menata sistem pendidikan mereka. (Pada bahagian: Sebuah Cermin Untuk Berbenah, Hal 7-8).

Bahagialah orang yang sudah mendedikasikan dirinya untuk menjadi seorang guru. Dengan menjadi guru, dia sudah menanamkan investasi untuk Indonesia. Seorang guru adalah pahlawan karena ia berjuang mendidik para penerus bangsa yang berkarakter dan berakhlaq mulia.

Sistem persekolahan kita belum mampu menjadikan guru sebagai sosok yang patut diteladani oleh siswanya. Itu terjadi karena guru bekerja setengah hati. Dan tidak bisa juga dipungkiri bahwa profesi guru tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah. Pendidikan akan semakin kehilangan ruhnya andai sekolah menjadi komoditas politik dan ekonomi.

Pembiasaan dan peneladanan mesti menjadi ciri utama dalam proses pendidikan, baik di rumah maupun di sekolah. Orangtua dan lingkungan punya peran begitu besar membentuk perilaku anak. Contoh sederhana saja, banyak perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma adat dan agama yang ditiru oleh anak dari tayangan-tayangan di media. Dan itu akan menjadi perilaku anak yang permanen. Maka pendidikanlah yang akan menjadi penyelamat bangsa ini pada masa yang akan datang.

Kegagalan terbesar sistem pendidikan Indonesia bukan terletak pada lemahnya pendidikan mencerdaskan rakyat, namun terletak pada masalah ketidakmampuan pendidikan menyadarkan rakyat terhadap permasalahan hidup yang nyata.

Begitu kompleksnya permasalahan pendidikan sehingga perlu dicarikan solusi yang tepat untuk mengatasinya. Pelanggaran prinsip penilaian dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN) merupakan salah satu masalah itu. Pelanggaran itu adalah anak hanya diajarkan tentang apa yang akan diujikan, sementara makna belajar bukan hanya mengerjakan soal-soal ujian semata, melainkan memberdayakan seluruh potensi kognitif-afektif-psikomotirik siswa.

Pada bahagian akhir dituliskan bahwa pentingnya seorang guru itu gemar membaca dan menulis. Sebab, dua hal ini melatarbelakangi maju dan berkembangnya negara-negara di dunia lantaran rakyatnya suka membaca buku dan menulis karangan.

Secara keseluruhan, buku ini menggambarkan dan memetakan secara brutal permasalahan yang dihadapi oleh pendidikan Indonesia agar mampu dicarikan solusinya secara bersama. Para guru khususnya, dan semua orang yang peduli akan pendidikan pada umumnya perlu memiliki buku ini agar mampu lebih kreatif, inovatif, semangat, bersabar dan memiliki dedikasi yang tinggi dalam mendidik anak-anak penerus bangsa ini.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 6,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pegawai Swasta. Anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: lensaindonesia.com)

Islam di Indonesia, Jangan Ibarat Air Susu Dibalas Air Tuba

Organization