Home / Berita / Opini / Anis Matta, Sang Manusia Malam

Anis Matta, Sang Manusia Malam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Presiden PKS Muhammad Anis Matta, Lc. (inet)
Presiden PKS Muhammad Anis Matta, Lc. (inet)

dakwatuna.comDalam hitungan kilat, KPK menangkap Luthfi Hasan Ishaaq. Tak butuh waktu lama, KPK langsung memvonis sebagai tersangka. Tamat sudah, riwayat politik sang ustadz dalam memimpin perahu Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tapi tidak untuk PKS, partai yang berdiri sejak reformasi ini terus berjalan dengan sang nakhoda baru.

Beberapa waktu lalu, KPK sempat membuat “kejutan” yang menarik untuk PKS dan rakyat Indonesia. Setelah sukses menangkap koruptor kelas kakap, KPK membidik seorang presiden partai yang diduga terjerat kasus impor sapi. Berbekal surat sakti penangkapan, penyidik KPK melancarkan “operasi senyap” menuju sebuah gedung partai politik bernomor urut tiga. Operasi tangkap tangan (versi KPK) itu berjalan sukses dan tanpa mendapatkan perlawanan berarti. Sang Presiden partai berslogan bersih, peduli dan professional itu akhirnya ditangkap dengan dugaan terlibat skandal panas daging impor sapi.

Adanya insiden penangkapan kilat yang dilakukan KPK, langsung membuat kaget rakyat Indonesia. Bagaimana tidak, seorang pejabat teras partai yang dikenal rajin mengumandangkan semboyan anti korupsi, harus menerima getah arisan korupsi. Belum selesai mengagetkan publik, lembaga pimpinan Abraham Samad ini kembali membuat kejutan yang mengoyak emosional kader PKS. Dalam waktu tidak kurang dari 1×24 jam, Luthfi ditetapkan sebagai tersangka sehingga kebingungan secepat kilat menjalar dalam tubuh kader maupun pengurus struktural partai tersebut.

Namun, selalu ada hikmah dalam segala takdir yang diciptakan Allah SWT. Di tengah kebingungan, para elit PKS bergerak cepat dan segera menunjuk pengganti Luthfi. Secepat kilat operasi KPK, pengganti Luthfi langsung ditentukan. Seorang tokoh muda, Anis Matta ditunjuk untuk mengendalikan hawa panas yang membakar PKS akibat virus korupsi impor sapi.  Usai dilantik, tugas besar menanti Anis Matta yakni bagaimana mengembalikan citra partai yang terkoyak dan menenangkan kadernya yang bingung akibat kejadian “serangan kilat” KPK.

Usai dipastikan terpilih, Anis Matta langsung bergerak cepat menggelar pelantikan. Dalam pidato pelantikannya, sang pengganti meminta kader dakwah untuk menjauhkan lambung mereka dari tempat tidurnya. Sebuah ungkapan manis di mana Anis meyakini “badai besar” yang menimpa PKS tak dapat dilepaskan dari skenario Allah SWT. Maka, ketika ujian datang, sesungguhnya perbaikan yang diprioritaskan adalah menstimulus, mengembalikan dan membangkitkan kembali spiritualitas kadernya.

“Yang ketiga adalah kerjasama. Hari ini, saya akan katakan pada semuanya dan juga seluruh kader PKS, saya ingin mengatakan hari ini berlaku ayat Allah SWT. “Lambung mereka tak bersahabat dengan tempat tidur” Tak ada lagi waktu tidur sejak hari ini, saudara-saudara sekalian. Kita akan memulai hari ini, Insya Allah sebagai momentum kebangkitan semuanya”

Pesan Manusia Malam

Dalam memulai gerakan, Anis Matta sudah memberikan pijakan penting untuk eksistensi dan masa depan Partai Keadilan Sejahtera. Secara umum, Anis meminta kadernya mengembalikan kembali mentalitas yang hilang. Disebut hilang, sebab musibah itu membuat mentalitas kader jatuh. Kondisi semakin diperburuk adanya kesulitan dalam menjawab tuntutan masyarakat yang kecewa sekaligus kaget mendengar penangkapan dan penetapan Luthfi Hasan Ishaaq sebagai tersangka korupsi sapi. Untuk itu, Anis berusaha keras mengembalikan mentalitas yang hilang melalui pendekatan spiritualitas kepada kadernya.

Dalam perkataan, “lambung mereka tak bersahabat dengan tempat tidur” jelas mengandung makna dahsyat. Para kader dakwah diminta kembali membangkitkan shalat malam sebagai ajang pengaduan kepada Allah SWT atas berbagai macam fitnah. Shalat malam juga dapat diartikan proses menguji kader dakwah melawan kemalasan. Ini mengingat, tak sembarangan manusia mampu mengerjakan shalat malam, ketika rasa kantuk begitu menggoda dan menyerang pelupuk mata.

“Sesungguhnya orang yang beriman kepada ayat-ayat kami adalah mereka yang apabila diperingatkan (ayat-ayat itu), mereka menyungkur sujud seraya bertasbih dan memuji Rabb-nya dan mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya. Mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan rasa haru serta menginfakkan rezeki yang Kami berikan kepada mereka (QS As Sajdah: 15-16)

Melalui pesan itu, Anis seakan bertitah kepada kadernya untuk menjadi manusia malam. Sosok manusia yang selalu merasa takut kepada Allah dan meminta agar terlindung dari fitnah duniawi. Seorang manusia yang lebih mencintai Allah, merindukan pertemuan dengannya dan mengurangi waktu tidur untuk kemudian bersujud, meminta ampunan.

Selain perbaikan spiritualitas, ajakan “lambung mereka tak bersahabat dengan tempat tidur” meninggalkan pesan strategis kader PKS untuk bekerja keras. Sebab, bagaikan kekokohan sebuah pohon, adanya penangkapan Luthfi menegaskan badai dan angin kencang akan terus menerjang. Untuk itu, tak ada waktu mengeluh dan hidup dalam kemalasan yang berkepanjangan. Badai memang belum berlalu, tapi kerja-kerja besar harus tetap berjalan dan meninggalkan karya nyata.

Untuk itu, adanya penangkapan Luthfi bukan untuk dikenang dan sibuk diperbincangkan. Upaya hukum akan berjalan terus dan partai yang dominan kelompok muda ini harus tetap berjalan. Apalagi, tak layak sebuah kekecewaan lahir sebab partai kader ini tak akan pernah kehilangan individu hebat. PKS bukan partai yang mengkultuskan seorang individu, tapi partai yang mengandalkan soliditas dan solidaritas dalam mengarungi mihwar dauly yang semakin berat ini.

Sebagai penutup, izinkan penulis mengutip sebuah kisah dari Imam Syahid Hasan Al Banna. Suatu ketika, Hasan Al Banna berada di dalam sebuah kongres mahasiswa yang diselenggarakan di kantor Syubban al-Muslimin. Ketika itu ada seorang peserta—yang saking cintanya—meneriakkan “Hidup Hasan Al-Banna”. Merespon itu, Imam Syahid Hasan Al Banna agak marah sambil berkata “Wahai Ikhwan, sesungguhnya hari di mana di dalam dakwah kita diteriakkan yel-yel figuritas tidak boleh terjadi sama sekali”.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (22 votes, average: 9,14 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan peneliti Insure. Tinggal di Jakarta.

Lihat Juga

Kamu adalah Temanmu