Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kapitalisasi Sejarah

Kapitalisasi Sejarah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi (majalah-historia.com)
Ilustrasi (majalah-historia.com)

dakwatuna.com – Bahwa setiap episode kehidupan merupakan sintesis sejarah yang saling berkaitan satu sama lain, dalam merangkai impian masa depan menjadi harmoni yang mewarnai kehidupan. Adalah sebuah sunnatullah bahwa anak manusia harus merangkai dan memprediksi sejarah masa depan, berusaha memberikan citra progresivitas karena inilah tradisi nabawi yang diajarkan Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam kepada kita.

Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari pada hari ini. Ilham ini yang harus senantiasa didengungkan di benak anak bangsa jika ingin berubah lebih maju, insiden sejarah yang sedang dihadapi adalah sebuah takdir dan bagian dari masa depan. Kita lihat bagaimana tikungan sejarah yang dihadapi Nabi Yusuf ‘alaihissalam demi mewujudkan mimpinya, dia harus melewati sekian rentetan peristiwa sejarah pilu dalam kehidupannya. Mulai dari tipu daya, makar saudaranya, diperjualbelikan, godaan wanita, penjara, hingga muara akhirnya adalah sebuah impian masa kecilnya. Kenyataan ini mengajarkan kepada kita bahwa bagaimana seharusnya cara kita memandang kepiluan sejarah untuk menjadikannya sebagai lecutan semangat meraih obsesi masa depan. Dan menghentikan semua ratapan sejarah yang hanya berujung kepada distorsi jiwa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan kepada kita sebuah isyarat bahwa masalah yang ada pada mimpi dan masa depan adalah jarak, ruang, dan waktu. Selain itu, dilihat bagaimana cara kita berinteraksi dengan trio sejarah tersebut. Masalah yang dihadapi oleh Rasulullah sebenarnya bukan intimidasi, siksaan kaum Quraisy ataupun minoritas muslim Mekah. Akan tetapi berapa jarak, ruang, dan waktu yang harus dilewati antara tahannuts di gua Hira’ dan takluknya Persia dan Romawi. Ternyata lawan terberat kita adalah bersabar melawan jarak, ruang, dan waktu untuk menentukan takdir masa depan yang lebih layak dan menjanjikan.

Problematika sejarah yang dihadapi oleh PKS hari ini adalah bagian dari akumulasi sejarah dan bagaimana cara mengkapitalisasi aset sejarah, untuk membuat sebuah lonjakan sejarah masa depan yang mencengangkan. Siapa yang menyangka kalau kemudian seorang Yusuf kecil yang ditemukan di sebuah sumur lalu bisa bertengger di kursi kekuasaan. Siapa bisa mengira bahwa impian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika kelaparan dan kondisi kritis pada saat perang khandaq itu terwujud dengan takluknya Persia dan Romawi bersimpuh di bawah kendali dan peradaban Islam. Umur sebuah gerakan itu tidak diukur dengan umur personal anggotanya, tetapi umur sebuah gerakan itu hanya bisa diukur berapa panjang nafas fikrahnya dalam menuntaskan misteri sejarah masa depan. So, tidak ada ratapan sejarah bagi PKS. Bahwa kita sedih atas peristiwa yang menimpa kita adalah sebuah kewajaran, dengan syarat jangan terlalu lama larut dengan intermezzo tersebut sehingga melupakan kerja-kerja besar kita untuk bangsa. Wallahu a’lam. 

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa Linguistik Program Pasca Sarjana, di The Arab League Institute Of Arab Research & Studies, Cairo. Anggota Tim Sekretaris PIP PKS Mesir. Peminat Sejarah dan Sastra.

Lihat Juga

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November