Home / Berita / Silaturahim / Talk Show Kemuslimahan dan Kesetaraan Gender

Talk Show Kemuslimahan dan Kesetaraan Gender

Talk show Kemuslimahan yang diselenggarakan hari Ahad (31/3/2013) dalam rangka RAPIMNAS FSLDK (Rapat Pimpinan Nasional Forum Silaturahmi Dakwah Kampus) 2013. (Dok LDK Janur UNAIR)
Talk show Kemuslimahan yang diselenggarakan hari Ahad (31/3/2013) dalam rangka RAPIMNAS FSLDK (Rapat Pimpinan Nasional Forum Silaturahmi Dakwah Kampus) 2013. (Dok LDK Janur UNAIR)

dakwatuna.comSurabaya. Talk show Kemuslimahan diselenggarakan hari Ahad (31/3/2013) dalam rangka RAPIMNAS FSLDK (Rapat Pimpinan Nasional Forum Silaturahmi Dakwah Kampus) 2013. Berangkat dari isu bahwa LDK Indonesia menolak tegas RUU Kesetaraan Gender, tema yang diangkat pada talk show ini adalah bergerak mewujudkan keshalihan sosial untuk meluruskan persepsi masyarakat tentang kesetaraan gender.

Sekarang ini, banyak kita temui perempuan berjuang menafkahi keluarganya, perempuan yang bekerja keras untuk anak-anak maupun keluarganya, contohnya: perempuan menjadi penarik becak, tukang batu, dll.  Di balik kelembutan seorang perempuan, dia memiliki jiwa yang mandiri. Di tengah-tengah perjuangannya menegakkan kemandirian, masyarakat justru banyak menilai bahwa kemandirian-kemandirian perempuan tersebut merupakan usaha kesetaraan gender. Kesetaraan gender bagi perempuan, menjadi perang pemikiran liberal yang menggaung di tengah-tengah masyarakat.

Muslimah memiliki porsi yang sama dengan perempuan dalam menyerukan kebaikan. Sebagai mahasiswa, muslimah harus berprestasi dalam bidang akademik dan non akademik. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. At Taubah 71)

“Dengan membawa visi dan misi PUSKOMNAS yakni bergerak, bersinergi dan bersahabat menuju Indonesia madani, seorang muslimah harus cerdas, cerdas dalam membangun peradaban karena muslimah merupakan penyokong utama terbentuknya Indonesia madani. Dialah yang akan melahirkan generasi-generasi cerdas pembangun Indonesia madani di masa depan”, ujar Wulan Apriliani, Ketua Komisi C PUSKOMNAS 2012-2015. Muslimah harus mampu memberikan motivasi yang baik dalam hal kebajikan di manapun dia berada. “Dakwah paling baik adalah memberikan teladan”, tambahnya.

“Di suatu negara, ada perempuan yang menjadi imam shalat Jum’at dan masyarakat di sana membenarkan hal itu, menganggapnya normal.  Itu merupakan pemikiran yang salah kaprah”, ungkap Diana Agustin Tri Nugraeni, FKM, Ex. Koordinator PUSKOMNAS 2007-2010

Ketua Divisi Kemuslimahan JANUR UKMKI (Jama’ah Nuruzzaman Uni Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam) 2013, Lia nur’aini mengungkapkan bahwa ketika kita masih mahasiswa, posisi perempuan dengan laki-laki adalah sama, sama untuk berlomba–lomba menuntut ilmu dan berprestasi. Nanti ketika telah terjun ke masyarakat, posisi perempuan berbeda karena pada dasarnya perempuan dan laki-laki memiliki fitrah yang berbeda.  Perempuan lebih mengemban perasaan emosional sedangkan laki-laki justru lebih mengedepankan logika dan teknis. Itulah bekal alami kekuatan laki-laki untuk menjadi seorang pemimpin yang bisa tegas dan rasional untuk menjadi garda depan sebuah barisan.

Seyogianya perempuan-perempuan khususnya muslimah, harus mengimani fitrah mereka sebagai seorang pembentuk generasi bangsa. (obi/janurunair/hdn)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 2,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Fahira Minta Anak dan Perempuan Korban Kekerasan ‘Melawan’