Home / Narasi Islam / Life Skill / Kedisiplinan Diri

Kedisiplinan Diri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (clock-desktop.com)
Ilustrasi. (clock-desktop.com)

dakwatuna.com – Banyak orang mengatakan bahwa sulit sekali untuk memiliki manajemen waktu yang baik? Tapi apakah benar kenyataannya seperti itu? Setiap manusia menyadari bahwa mereka memiliki waktu yang sama, yaitu 24 jam dalam sehari. Tetapi pada kenyataannya ada orang yang merasa bahwa waktu 24 jam tersebut cukup untuk melakukan berbagai aktivitas, tetapi ada juga yang merasa 24 jam dalam sehari selalu tidak cukup untuk melakukan aktivitasnya. Padahal, belum tentu orang yang mengatakan tidak cukup tersebut, kegiatannya lebih banyak daripada orang yang mengatakan cukup.

Lalu apa yang membedakan kedua orang tersebut? Saya pernah mendapatkan sebuah teori dari seorang teman bahwa dimensi waktu itu ada 2, yaitu panjang dan lebar. Setiap manusia memiliki panjang waktu yang sama yaitu 24 jam sehari. Tetapi, belum tentu memiliki lebar waktu yang sama. Lebarnya waktu itulah yang menjadi indikator apakah manusia tersebut produktif. Semakin lebar waktu yang kita miliki, semakin produktif hidup kita.

Apakah lebarnya waktu yang kita miliki ini ditentukan oleh manajemen waktu kita? Sering kali kita mendengar/membaca saran manajemen waktu dari orang lain. Ada yang mengatakan kita minimal harus bekerja 10 jam, tidur maksimal 5 jam, melakukan ini dan itu. Padahal kita sendiri lah yang paling mengenal apa yang perlu kita lakukan. Namun terkadang kita sendiri juga lah yang mengabaikan intuisi tersebut. Tetapi saya yakin, jika kita mau berpikir dan mendengar intuisi tersebut, kita adalah orang yang paling mampu untuk membuat manajemen waktu bagi diri kita.

Jadi menurut saya, kita semua sebenarnya sudah memiliki kemampuan untuk memanajemen waktu yang kita miliki. Hanya saja, kita tidak mau benar-benar fokus untuk melaksanakannya. Ketidak-fokus-an ini disebabkan karena kita kurang memiliki self-discipline, sehingga walaupun kita sudah merencanakan waktu kita dengan sebaik-baiknya, tetapi tidak diiringi dengan aksi. Menurut pepatah inggris, planning without action is just daydream.

Apa sih self-discipline ini sebenarnya? Menurut penulis buku Take the Stairs, Rory Vaden, self-discipline adalah kemampuan untuk melakukan aksi tanpa tergantung kepada keadaan emosi, kondisi keuangan atau kondisi fisik kita. Tanpa adanya self-discipline ini, kita tidak bisa meraih keberhasilan apapun. Mari coba kita pikirkan bersama hal-hal yang pernah kita raih dalam hidup ini, apakah kita bisa meraihnya secara instant atau kita berjuang dan secara disiplin dalam menggapainya. Oleh karena itu, self-discipline memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan seseorang, baik itu seorang pekerja, siswa ataupun pengusaha.

Ada beberapa hal yang bisa kita coba lakukan untuk meningkatkan self-discipline yang kita miliki. Yang pertama adalah dengan mengenal diri kita sendiri, yaitu mengenal kelemahan dan kelebihan yang kita miliki. Hal yang terpenting dalam mengenal diri sendiri adalah kita harus jujur dan menerima kondisi/keadaan kita saat ini. Yang kedua adalah kita harus memiliki cita-cita yang jelas dan terukur. Dengan memiliki cita-cita yang jelas, kita bisa dengan lebih mudah merencanakan bagaimana kita menggapai cita-cita tersebut. Hal ini juga akan sangat berpengaruh dalam mental kita, di mana kita mampu mengukur apakah kita berada di jalur yang tepat. Hal yang ketiga adalah komitmen dalam menjalani rencana yang sudah kita tetapkan. Rory Vaden, mengatakan bahwa komitmen yang harus kita pegang adalah unconditional commitment. Artinya komitmen tersebut tidak tergantung pada variabel lain. Misalnya kita sudah berkomitmen untuk lari pagi setiap hari, tetapi ketika suatu hari kita merasa demam, kita tetap berkomitmen untuk tetap lari pagi.  Yang keempat adalah keyakinan. Kita harus memiliki keyakinan bahwa usaha yang kita lakukan ini pasti akan membawa hasil yang positif di dalam hidup kita. Dan yang terakhir adalah aksi. Ini merupakan hal yang paling penting yang harus kita lakukan untuk memiliki self-discipline. Seperti yang dikatakan sebelumnya, planning without action is just daydream.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa dalam agama Islam, konsep disiplin ini sangatlah ditekankan. Tanpa disiplin, seseorang tidak akan mampu untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan dari Allah. Allah berfirman dalam surat Huud: 112, yang artinya “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” Kemampuan untuk tetap dalam jalan yang benar, tanpa terpengaruh oleh godaan-godaan dari luar merupakan sebuah kedisiplinan bagi seorang muslim. Semoga kita mampu untuk menjadikan diri kita pribadi yang disiplin. Aamiin.

Daftar Pustaka:

Vaden, Rory. 2012. Take the Stairs: 7 Steps to Achieving True Success. New York. Penguin Group

Pavlina, Steve.2005. Self Discipline. http://www.stevepavlina.com/blog/2005/06/self-discipline/

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,71 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mengenyam pendidikan sampai SMA di Surakarta. Kemudian merantau ke Singapura untuk melanjutkan pendidikan universitas di Nanyang Technological University di bidang Electrical Electronic Engineering. Sekarang masih menetap di Singapura dan bekerja di perusahaan semiconductor.

Lihat Juga

Kita Sebagai Manusia Terlahir Istimewa