22:24 - Rabu, 22 Oktober 2014

Perjuangan Pemuda dan Tradisi Ilmu

Rubrik: Mimbar Kampus | Oleh: Muhamad Ihsan - 01/04/13 | 10:30 | 21 Jumada al-Ula 1434 H

Ilustrasi (inet)

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Masa Muda adalah Masa Kekuatan prima seorang Manusia. Dr. Yusuf Qaradhawi mengibaratkan usia Muda bagaikan matahari ketika pukul 12.00 yang bersinar paling terang dan panas. Tidak hanya kekuatan namun juga semangat yang membara dari seorang pemuda. Karena itu jangan heran jika Pemuda dan Mahasiswa sering kali menjadi tumpuan dalam setiap perubahan bagi suatu Negara. Tetapi kebangkitan suatu Negara tentu tidak cukup hanya didasari kekuatan dan semangat. Perlu penempatan yang jelas bagaimana Kekuatan dan semangat yang berlebih itu digunakan. Tentu saja bukan untuk menuruti hawa nafsu pemuda yang menggebu, namun bagaimana semua itu bisa digunakan untuk membangun tradisi ilmu.

Kenapa sih tradisi ilmu? Semua peradaban yang pernah tercatat dengan tinta emas di lembaran sejarah manusia pasti diawali dengan kebangkitan tradisi ilmu. Kejayaan Islam lahir karena Rasulullah mengajarkan bagaimana pentingnya menuntut ilmu. Beliau telah mengubah kebiasaan bangsa Arab yang hanya mengandalkan budaya lisan menjadi budaya menulis. Para sahabat tidak hanya di suruh menghafalkan namun juga menuliskan setiap firman Allah yang turun.

Kebangkitan Eropa juga diawali dengan lahirnya Zaman renaissance yang mengubah kehidupan Masyarakat eropa yang dahulu sangat percaya takhayul, menjadi masyarakat yang percaya akan ilmu pengetahuan. Begitu juga dengan Jepang, Cina, dan India. Kebangkitan Suatu Negara tanpa didahului dengan bangkitnya tradisi ilmu rasanya adalah suatu hal yang mustahil.

Keutamaan Ilmu

Semangat seseorang dalam menuntut ilmu tentu didasari seberapa besar dia memahami apa itu ilmu, apa keutamaan ilmu? Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa dengan ilmu, manusia jadi tahu mana jalan yang mendaki, dan bagaimana cara mendakinya, tahu bagaimana melewati halangan dan rintangan yang melintang di jalan tersebut. Pendakian yang akan dilakukan tentu semata-mata agar bisa semakin dekat dengan Allah SWT.

“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9)

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujadilah: 11)

Dalam Al Qur’an sangat jelas menerangkan bahwa Manusia yang berilmu memiliki derajat yang lebih tinggi dari orang yang tidak berilmu. Imam Syafi’i pernah berkata “Demi Allah hakikat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan taqwa; jika kedua hal itu tiada padanya maka tak bisa disebut pemuda”. Pesan yang ingin disampaikan oleh Imam Syafi’i adalah Pemuda harus memiliki Ilmu yang membuat dirinya Semakin Bertaqwa. Bukan ilmu para kaum liberal, yang akan membuat semakin bingung apa itu sebuah kebenaran. Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, akan semakin kabur pandangan ia tentang kebenaran.

Tradisi ilmu dalam Islam

Tradisi ilmu yang dibangun dalam Islam bukanlah tradisi ilmu secular seperti apa yang dibangun oleh barat. Jika kita membaca kisah Imam Besar seperti keempat Imam Mazhab, Para cendikiawan seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun dan seterusnya. Mereka adalah manusia-manusia mulia yang memulai tradisi ilmunya dengan menghafal Al-Quran. Mereka bukan pribadi yang memisahkan Agama dengan Ilmu dunia. Seperti apa yang dikatakan Imam Al Ghazali, ilmu itu digunakan untuk mendaki agar kita sampai pada suatu tempat di mana kita akan semakin dekat dengan sang Maha Pencipta.

Tujuan yang mulia ini telah melahirkan Tradisi ilmu yang sangat militan. Imam Syafi’i selama kurun waktu 16 tahun, beliau hanya pernah makan sampai kenyang satu kali saja, dan kemudian disesalinya, karena berdampak negatif terhadap daya pikir dan ibadah. Sedangkan Imam Nawawi beliau setiap hari belajar 8 cabang ilmu dari subuh sampai larut malam.

Peran Pemuda

Pemuda sering kali disebut sebagai agent of change suatu bangsa. Agen perubahan yang kita inginkan tentu bukan hanya bermodalkan semangat dan otot. Para Pendiri Bangsa ini pun adalah pegiat ilmu semenjak muda. Soekarno dan Natsir misalnya, di masa mudanya mereka telah berdiskusi melalui tulisan-tulisannya di media massa. Bung Hatta yang seorang maniak Buku, Surat bung Karno ketika meminta A. Hassan untuk mengirimkan Buku ke tempat pengasingan Beliau. Bukti yang paling nyata adalah semua pejuang kemerdekaan adalah seorang penulis di media massa. Menulis adalah kegiatan yang tidak akan pernah terpisahkan dengan Membaca.

Sudah saatnya pemuda hari ini untuk membangun perjuangannya di atas pondasi yang kokoh. Bukan lagi bermodalkan nekat, semangat, dan otot. Semangat dan kekuatan yang Allah berikan di massa muda harus kita gunakan untuk membangun tradisi intelektualitas. Tradisi ilmu yang kita bangun bukanlah tradisi akademik yang hanya menilai siswa dari angka dan nilai tes. Bukan juga tradisi sekuler yang membuat manusia semakin relatif menilai suatu kebenaran. Tetapi tradisi ilmu yang kita bangun adalah tradisi yang membuat orang semakin hidup mulia dan berpihak pada kebenaran dengan cara-cara yang benar.

Demi Allah hakikat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan taqwa; jika kedua hal itu tiada padanya maka tak bisa disebut pemuda”. (Imam Syafi’i)

Tentang Muhamad Ihsan

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (1 orang menilai, rata-rata: 8,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
78 queries in 1,682 seconds.