Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Dakwah Membuat Hidup Lebih Hidup

Dakwah Membuat Hidup Lebih Hidup

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Hidup layaknya manusia lain, dengan berbagai aktivitasnya. Pasti ingin selalu menjalani dengan perasaan aman, tenang dan santai. Namun tantangan hidup seolah nada kehidupan yang selalu mewarnai. Ada kalanya tertawa, menangis, kecewa, bahagia, datang, pergi dan semua memang telah diciptakan Allah untuk kita.

Tapi ada rasa berbeda saat kita telah mengalami ‘cinta’ yang luar biasa dengan jalan para nabi, para rasul untuk berdakwah di jalan Allah. Semua warna terasa sama rasanya di akhir ceritanya yaitu BAHAGIA. Karena ada balutan rasa cinta yang telah terlapis dalam hati kita, balutan cinta Allah untuk kita dan cahaya-Nya tidak pernah redup menyinari hati juga diri kita.

Indahnya dakwah, berkumpul dan berjumpa dengan para pecinta Allah. Banyak cinta di sana, ada doa di setiap diri mereka untuk kita. Bagaimana mungkin ku tidak mencintai dakwah dan jalan Allah ini? Karena di dalamnya kita mampu melepaskan setiap benang kesulitan dan menguraikannya bersama, saudara yang kita temukan dan bersama kita karena cintanya pada Allah.

Dengan kesibukan selayaknya manusia lain, ternyata lebih indah dengan tambahan kesibukan baru. Kesibukan untuk memikirkan saudara seiman dan umat ini. Serasa Hidup Lebih Hidup. Tidak ada kata monoton, semua ada warnanya yang indah.

Meski semuanya perlu perjuangan dan pengorbanan, tapi semuanya terasa nyaman di hati dan nikmat dirasa. Kita akan merindukannya selalu dalam kehidupan kita, kala diri kita pernah merasakan nikmatnya cinta dalam dakwah ini.

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam Al-Qur’an ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat, dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dialah Pelindungmu, Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong”(Al-hajj: 78)

Dan telah jelas dengan turunnya ayat ini, Allah menyuruh kita untuk bersama-sama berdakwah. Mengikuti jalan suci para Rasul dan Nabi-Nya. Dan Allah telah menjadikan kita seorang muslim yang harus berpegang teguh pada Allah. Tidak akan ada yang memberi kenikmatan, ketenangan dan perlindungan sesempurna pemberian-Nya.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar Dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (Q. S. Al-Ankabut: 2-3)

Dan ujian kita adalah perasaan terlalu nyaman dengan kehidupan kita dan segala yang kita miliki berupa harta dan keluarga. Hingga kita tidak mau bergerak untuk menegakkan agama-Nya di muka bumi ini. Bagaimana kondisi keimanan kita?

Allah tidak pernah menjanjikan hari-hari kita akan berlalu tanpa sakit, berhias tawa tanpa kesedihan, berselimut senang tanpa kesulitan, terpancari matahari tanpa hujan atau siang tanpa malam. Tapi semua itu Allah janjikan kekuatan untuk kita dalam melaluinya. Jika kita mau, sebenarnya Allah menjanjikan kita kasih sayang yang tak kenal batas dan tak pernah berhenti, dan Allah memberikan pelita agar kita mampu menjalani kehidupan ini.

Keselamatan hidup ada pada seberapa mampu kita untuk tetap bertahan, mengawal dan memelihara jiwa kita dalam menempuh hidup untuk tetap berada di jalur Allah. Tetap istiqamah dengan berbagai keadaan dan berusaha untuk melakukan yang terbaik dan benar menurut Allah.

Kita hanyalah hamba-Nya yang dhaif dan fakir, yang tidak bisa melakukan apapun tanpa kehendak-Nya. Dia yang memiliki kita. Maha suci Allah yang jadikan kepasrahan kepada-Nya sebagai kekuatan, rasa perlu pada-Nya sebagai kekayaan, permohonan padaNya sebagai kemuliaan, rasa rendah diri kepada-Nya sebagai ketinggian dan tawakal hanya pada-Nya sebagai kecukupan.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,” (Q. S. Qaf: 16).

Semoga Allah melimpahkan kepada kita kekuatan untuk mampu memikul sakit dan beratnya melakukan ketaatan, untuk bisa meraih kebaikan dan keringanan di akhirat.

Subhanallah…Alhamdulillah…Allahu Akbar!

Betapa indahnya saat kita masih diberi kesempatan untuk hidup, menghirup nafas. Dan kesempatan kita untuk memperbaiki diri dan mengejar segala ketertinggalan. Sungguh di setiap yang Allah berikan terkandung hikmah yang teramat besar dan berarti bagi kita yang mampu memikirkannya. Dialah Pemilik Cinta yang sebenarnya, dengan cinta-Nya kita dapat menatap indahnya fajar.

Ya Allah Bantu kami untuk tetap berada dijalan-Mu. Jalan dakwah yang penuh cinta dari-Mu. Izinkan kami untuk mencintai-Mu semampu kami, kuatkan kecintaan kami. Bimbinglah kami untuk selalu berderap dijalan-Mu menggapai ridha dan jannah-Mu bersama hamba-hamba-Mu yang mencintai-Mu…matikan kami dalam syahid di jalanMu.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Choiriyah
Nama lengkap Choiriyah, lahir dan besar di kota Malang-Jawa Timur, domisili di Batam. Mulai ikut dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMA, dan menang juara II Karya Ilmiah Remaja di Malang. Saat bekerja di perindustrian Batam, ikut aktif dalam pembuatan buletin dan berita perusahaan se-Asia. Mulai tahun 2011-2014 aktif di FLP Johor. Sekarang Aktif dalam FLP Batam. Semoga dapat lebih banyak berkarya untuk dakwah bil Qolam.

Lihat Juga

Reaktualisasi Pengamalan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sosial