Makar

Ilustrasi. (nanafrans.wordpress.com)
Ilustrasi. (nanafrans.wordpress.com)

dakwatuna.com – Makar, menurut kamus besar bahasa Indonesia bisa didefinisikan sebagai perbuatan tipu muslihat, atau akal busuk yang dilakukan manusia untuk menjatuhkan atau menyerang seseorang. Atau bisa juga diartikan sebagai tipu muslihat untuk menjatuhkan pemimpin atau pemerintahan yang sah. Dalam bahasa internasional disetarakan juga dengan istilah konspirasi.

Makar bukanlah hal yang baru. Istilah makar dan perbuatan makar telah dikenal sejak dulu. Bahkan di zaman Nabi Muhammad SAW sering terjadi peristiwa makar untuk menjatuhkan Nabi bahkan berbagai upaya dan tipu daya banyak dilakukan oleh orang-orang kafir untuk membunuh Nabi. Peristiwa itu dengan jelas dan rinci dijelaskan Allah dalam Al Quran.

Seperti firman Allah pada QS.  Al Anfaal: 30, “Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakan atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya (makar) dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah sebaik- baiknya pembalas tipu daya (makar).”

Ayat ini mengingatkan apa yang terjadi di Mekah, sekaligus mengingatkan bagaimana rencana qadar Allah dan kebijaksanaanNya terhadap apa yang diputuskan dan diperintahkannya. Manusia boleh saja melakukan makar (tipu daya). Namun Allah mempunyai makar (tipu daya) yang lebih hebat dibandingkan apa yang mampu dilakukan manusia.

Seperti diceritakan dalam sejarah Islam dan Al Quran, pada suatu malam kaum Quraisy berunding di Mekah untuk menyingkirkan Nabi Muhammad SAW.  Sebagian mereka berkata, “Besok pagi kita ikat dia (Nabi Muhammad). Sebagian lagi berkata, “Usir saja dia.” Sebagian lainnya berkata sambil berteriak berkata, “Bunuh saja dia.” Lalu kaum kafir Quraisy menyusun strategi untuk menangkap, menyingkirkan dan membunuh Nabi Muhammad SAW.

Namun semua rencana busuk itu dibocorkan Allah kepada Nabi Muhammad.  Maka Ali RA disuruh tidur menggantikan Nabi di tempat tidur beliau. Sedangkan beliau mengungsi ke gua (Tsur). Semalaman kaum musyrikin mengepung kediaman Nabi. Namun mereka kaget dan kecewa saat menyergap Nabi menjelang subuh, ternyata yang mereka tunggui semalaman itu bukan Nabi Muhammad, tetapi sahabat Nabi, Ali RA.

Lalu mereka melacak jejak Nabi yang diduga meloloskan diri ke arah gunung.  Namun mendekati sebuah gua (Tsur) jejak Nabi menjadi kabur.  Mereka curiga Nabi bersembunyi di gua itu, namun mereka jadi ragu karena gua itu tertutup oleh sarang laba-laba. Lagi pula di sana bersarang seekor burung. Bagaimana mungkin Nabi bersembunyi di sana?

Itulah yang dimaksud dalam Surat Al Anfaal ayat 30 di atas yang bunyinya (dalam ejaan latin), wayam kuruna wayam kurullahu wallahu chairu almakirin. Artinya “… mereka memikirkan tipu daya (makar) dan Allah menggagalkan tipu daya (makar) itu.” Allah menciptakan tipu daya yang lebih hebat dari yang mereka pikirkan. Allah lah yang menyuruh laba-laba dan burung di sana untuk memperdaya kaum Quraisy.

Dalam surat Al Ankabut ayat 69 Allah juga berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang yang berbuat baik.”

Kesimpulannya, boleh saja manusia melakukan makar, tipu daya dengan segala cara apapun,  namun Allah mempunyai makar, tipu daya yang jauh lebih baik dari apa yang bisa dilakukan manusia.  Dan Allah Maha Tahu dan Maha Melihat mana yang salah dan mana yang benar dan Allah melindungi orang yang berbuat baik dan sabar.

Oleh karena itu mari kita berlomba-lomba berbuat kebaikan di bumi ranah Minang yang kita cintai ini dan katakanlah yang benar itu benar. Selalulah berbuat kebaikan  dan jadikanlah Al Quran sebagai pedoman hidup kita.

Al Quran adalah pedoman/petunjuk yang paling tepat untuk manusia. Jika kita membeli mobil, maka pembuat mobil (pabrik) akan memberikan buku petunjuk (buku manual) agar mobil yang kita gunakan berfungsi baik, tidak bermasalah dan panjang umurnya. Begitu juga manusia, Tuhan sebagai pencipta manusia telah memberikan buku petunjuk (seperti buku manual) untuk manusia agar manusia bisa hidup dengan baik dan selamat di dunia sampai akhirat. Kitab itu adalah Al Quran.

Jika masyarakat Sumatera Barat menjadikan Al Quran sebagai pedoman hidupnya dalam arti yang sesungguhnya, insya Allah masyarakat Sumatera Barat akan menjadi masyarakat yang aman, damai dan sejahtera dunia dan akhirat. Dan Insya Allah akan diberkahi bumi Minangkabau ini sebagai ranah yang baldatun toyyibatun warabbun ghofur, terhindar dari segala mara bahaya. Aamiin…

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi. M.Sc
Gubernur Sumatera Barat (Sumbar).
  • Farhan Gustama

    Conspirashit is not dat good
    Fight me, conspiracy theorists! I dare you

Lihat Juga

Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman, PhD. (ist)

Sikap PKS Terkait Kekerasan yang Menimpa Etnis Rohingya

Organization