Home / Narasi Islam / Sosial / Bagaimana Meng-Islam-kan Akhlaq Kita dan Sekitar Kita

Bagaimana Meng-Islam-kan Akhlaq Kita dan Sekitar Kita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi (iluvislam.com)
Ilustrasi (iluvislam.com)

dakwatuna.com – Sudah menjadi nilai universalitas tersendiri bagi Umat Manusia, bahwa perilaku yang baiklah yang akan diterima di masyarakat luas. Hal inilah yang menjadi nilai tawar setiap manusia, dalam menjalani interaksi sosial di masyarakat. Jika kita tinjau lebih dalam lagi, sebenarnya perilaku yang baik sudah menjadi core needed setiap insan, untuk mendapatkan hal yang serupa baiknya, entah itu dalam ranah tindakan maupun perkataan.

Hal tersebut menjadi menarik, kalau kita tinjau langsung ke peristiwa yang terjadi belakangan ini. Tentunya kita sudah sangat mengenal sosok Jokowi yang fenomenal. Maksud penulis di sini bukan berarti ingin mengangkat citra Gubernur DKI ini, melainkan melihat tindak tanduknya dari berbagai sisi. Entah strategi apa yang beliau lakukan, tindaknya langsung mengenai hati masyarakat. Mulai dari berbenah di Kota Solo selama satu periode penuh, turut berpartisipasi dalam Pilkada DKI, hingga saat ini turun langsung ke penanganan banjir yang terjadi di DKI Jakarta. Hal – hal tersebutlah yang menjadi posisi tawar yang memang menyentuh langsung pada hati nurani masyarakat. Menyoal apa yang dilakukan, dan bagaimana tindak tanduknya menjadi citra baik tersendiri baginya.

Maka apa pelajaran yang dapat diambil dari contoh kehidupan sehari – hari tersebut? Ya, perilaku sederhana dan sesuai dengan adab, norma, yang baik, menjadi kebutuhan dalam menjalani proses sosial di masyarakat. Seluruhnya sebenarnya sudah menjadi risalah yang termaktub dan disampaikan oleh Rasulullah SAW. Bahwa berakhlaq mulia, merupakan tujuan pokok dari risalah Islam. Sebagaimana dalam Hadits Rasulullah SAW, “Sesungguhnya, Aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Maka, sudahkah kita meng-Islam-kan akhlaq kita?

Untuk mengenali akhlaqul karimah – akhlaq yang terpuji, ada baiknya kita memang sudah menyadari, bahwa hal tersebut merupakan sebuah sistem yang berlaku dalam Islam, dan sejatinya menjadi kebutuhan kita. Islam yang syumuliyah mengatur dan menawarkan bagaimana seseorang harus bersikap. Akhlaq mulia merupakan bukti dan buah dari keimanan, yang mana akan menjadi timbangan amal seorang hamba untuk memaknai tiap perkataan dan tindakannya. Tanpa akhlaq yang mulia, ibadah tak ubahnya upacara dan gerakan-gerakan yang tidak memiliki nilai dan faedah sama sekali, seperti yang disampaikan pada Firman Allah SWT,

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-Ankabut: 45)

Hal ini tentunya ditunjukkan untuk kebaikan si pelaku dan lingkungan sekitarnya. Untuk hal itu maka, seyogianya kita sebagai umat yang sudah memahami akan hal tersebut dapat memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

  1.  Bersikap wara’ (hati-hati) terhadap yang syubhat : bahwasanya setiap kita perlu berhati-hati dalam melaksanakan hal – hal yang sudah di haramkan dan segala yang syubhat
  2. Menahan pandangan (Ghadhul bashar) : menahan pandangan dari segala yang dilarang oleh Allah SWT
  3. Menjaga lidah
  4. Malu (haya’)
  5. Pemaaf dan sabar
  6. Jujur
  7. Rendah hati
  8. Menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari cela sesama Muslim
  9. Dermawan dan pemurah
  10. Menjadi teladan yang baik

Pada akhirnya, setiap tindak tanduk kita perlulah disesuaikan dengan beberapa sikap di atas. Mulai dari paham untuk bersikap dan berhati – hati, menahan pandangan menjadi bekal dalam bergaul dan terjun langsung dalam sosial kemasyarakatan, menjaga perkataan untuk tetap malu, jujur, dan memiliki sikap yang rendah hati, senantiasa menjadi pemaaf akan suatu masalah yang sedang terjadi, serta menjaga lisan untuk tetap menjauhi prasangka, mengomongkan orang di belakang alias ghibah, serta mencari cela sesama Muslim. Kemudian hendaknya kita sebagai seorang Muslim untuk tetap senantiasa dermawan dan pemurah untuk bersedekah dan berjuang dijalan Allah, dan jauh dari kegelimangan harta dunia. Tentunya berbekal perilaku yang baik inilah, setiap dari kita menjadi Da’i atas dirinya sendiri, menjadi teladan yang baik dan menyeru lewat tindak tanduk yang baik dan mengena di lingkungan sekitar. Inilah bentuk Islam yang syumuliyah sebagai akhlaq, yang senantiasa membersamai setiap perkataan dan perbuatan yang dilakukan.

Wallahua’lam bishawab.

Sumber: Yakan, Fathi. 2006. Komitmen Muslim Sejati. Edisi Terjemahan. Era Intermedia. Solo. Hal: 39-56. 

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sering dipanggil teman-temannya dengan panggilan akrab Adit. Pemuda asal Bantul alias Bandung Tulen yang lahir Maret 1992, saat ini sedang menempuh masa studi strata satunya di Fakultas Biologi UGM angkatan 2010. Selain menempuh pendidikan strata satu di Fakultas Biologi UGM, kegiatan ekstrakurikuler lainnya dengan baik diikuti oleh Adit. Menurutnya, dengan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler selain menjalani perkuliahan dengan baik, menjadi salah satu bekal utama yang dibutuhkan setiap mahasiswa pada dasarnya, karena bisa jadi sehabis masa kuliah kelak, pengembangan kemampuan komunikasi, serta softskill- lah yang mampu mendukung kinerja serta membangun etos kerja yang baik. Social awareness yang tinggilah yang kemudian dipandang sosok humoris dan jail ini dapat membantu untuk bekal sosialisasi dengan lingkungan sekitar dengan baik. Hal ini menjadi dasar pergerakan yang dilakukan oleh Adit, ketika menjadi Kepala Departemen Riset dan Pengembangan Keilmuan di Badan Eksekutif Mahasiswa, dan pada tahun 2013 terpilih untuk menahkodai organisasi tersebut sebagai Ketua Umum. Selain aktif di lembaga eksekutif, pemuda yang senang dengan traveling ini juga aktif dalam kelompok studi yang bergerak dalam bidang kajian Biologi Laut, yaitu Kelompok Studi Kelautan, yang kemudian juga dipercaya untuk menjadi Pengurus Harian Staff Divisi Publikasi dan Jaringan. Baginya, belajar, berproses dan berkarya adalah sebuah keharusan untuk dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Selamat berproses!

Lihat Juga

Muslim membagi-bagikan Al-Quran di Eropa. (islammemo.cc)

Austria Larang Pembagian Al-Quran