20:06 - Rabu, 30 Juli 2014
Farid Nu'man Hasan

Sujud Sahwi, Apa dan Bagaimana? (Bagian ke-1)

Rubrik: Dasar-Dasar Islam | Oleh: Farid Nu'man Hasan - 26/03/13 | 08:30 | 15 Jumada al-Ula 1434 H

Definisi (Ta’rif)

Ilustrasi (jr-photos.com)

Ilustrasi (jr-photos.com)

dakwatuna.com - Secara bahasa (etimologi), sahwi diambil dari kata sahaa – yashuu – sahwan – suhuwwan artinya lupa, lalai. Sahaa fil amri artinya lupa terhadap sesuatu.

Secara istilah (terminologi), sujud sahwi adalah dua kali sujud yang dikerjakan karena lupa terhadap suatu hal penting dalam shalat.

Kaifiyat (Cara)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

كيفيته: سجود السهو سجدتان يسجدهما المصلي قبل التسليم أو بعده

Caranya: sujud sahwi sebanyak dua kali sujud dilakukan oleh orang yang shalat sebelum salam atau sesudahnya. (Fiqhus Sunnah, 1/225)

Hanya saja para ulama berbeda pendapat apakah pada sujud sahwi terdapat tasyahud dan salam atau tidak. Atau tanpa tasyahud tapi dengan salam? Atau dibedakan antara sebelum salam dan sesudahnya? Atau bagaimanakah..?

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah meringkas perbedaan tersebut sebagai berikut:

واختلفوا في التشهد في سجدتي السهو والسلام منهما فقالت طائفة لا تشهد فيهما ولا تسليم وروي ذلك عن أنس بن مالك والحسن البصري ورواية عن عطاء وهو قول الأوزاعي،والشافعي لأن السجود كله عندهما قبل السلام فلا وجه لإعادة التشهد عندهما وقد روي عن عطاء إن شاء تشهد وسلم وإن شاء لم يفعل.
وقال آخرون يتشهد فيهما لا يسلم قاله يزيد بن قسيط ورواية عن الحكم وحماد والنخعي وقتادة والحكم وبه قال مالك وأكثر أصحابه والليث بن سعد والثوري وأبو حنيفة وأصحابه. وقال أحمد بن حنبل إن سجد قبل السلام لم يتشهد وإن سجد بعد السلام تشهد وبهذا قال جماعة من أصحاب مالك وروي أيضا عن مالك.
وقال ابن سيرين يسلم منهما ولا يتشهد فيهما.

Mereka berbeda pendapat tentang bertasyahud dan salam pada dua sujud sahwi. Sekelompok ulama mengatakan tidak ada tasyahud dan tidak ada salam, pendapat ini diriwayatkan dari Anas bin Malik, Al Hasan Al Bashri, dan riwayat dari ‘Atha, dan ini merupakan pendapat Al Auza’i dan Asy Syafi’i, karena menurut mereka berdua semua sujud dilakukan sebelum salam, maka tidak ada alasannya mengulangi tasyahud bagi dua sujud itu. Diriwayatkan dari ‘Atha: jika mau silakan tasyahud dan salam, jika tidak maka jangan lakukan.

Ulama lain berpendapat, tasyahud dilakukan pada dua sujud itu namun tidak salam, ini pendapat Zaid bin Qasith, dan merupakan riwayat dari Al Hakam, Hammad, An Nakha’i, Qatadah, dan ini pendapat Malik dan kebanyakan para sahabatnya, Al Laits bin Sa’ad, Ats Tsauri, Abu Hanifah dan para sahabatnya.

Berkata Ahmad bin Hambal, jika sujudnya sebelum salam maka tidak ada tasyahud, jika sujudnya sesudah salam maka bertasyahud. Dengan ini pula pendapat segolongan ulama dari sahabat Malik, dan diriwayatkan dari Malik pula. Ibnu Sirin mengatakan: salam pada kedua sujud itu tapi tanpa tasyahud. (Imam Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 10/207-208)

Apa yang dibaca ketika sujud sahwi?

Sebagian fuqaha menyebutkan dalam kitab-kitab mereka bahwa disunnahkan bacaan dalam sujud sahwi adalah:

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَسْهُو وَلَا يَنَامُ

Subhana man laa yashuu wa laa yanaam – Maha Suci Yang tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur.

Doa ini berserakan dalam kitab-kitab fiqih induk mazhab Hanafi dan Syafi’i seperti:

1. Mazhab Hanafi

-          Imam Ahmad bin Muhamamd bin Ismail Ath Thahawi, Miraqi Al Falah, Hal. 298

2. Mazhab Syafi’i

-          Imam An Nawawi, Raudhatuth Thalibin, 1/315

-          Imam Sulaiman bin Muhammad Al Bujirumi, Hasyiyah Al Bujirumi ‘Alal Minhaj, 3/106.

-          Imam Zakariya Al Anshari, Asna Al Mathalib, 3/156.

-          Imam Ar Rafi’i, Syarh Al Kabir, 4/180.

-          Imam Ibnu Hajar Al Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, 7/136.

-          Imam Sulaiman bin Umar Al Jumal, Hasyiyah Al Jumal, 4/236.

-          Imam Syihabudin Al Qalyubi dan Imam Ahmad ‘Amirah, Hasyiyah Qalyubi wa ‘Amirah, 3/97

-          Imam Ibnu Ruslan, Syarh Kitab Ghayah Al Bayan, 1/ 209

-          Imam Zainuddin Al Malibari, Fathul Mu’in, 1/97

-          Imam Muhammad Al Khathib Asy Syarbini, Mughni Muhtaj, 3/93

-          Imam Syihabuddin Ar Ramli, Nihayatul Muhtaj, 5/233

Namun bacaan ini tidak shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak ada keterangan yang sah tentang ucapan yang mesti dibaca dalam sujud sahwi.

Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah mengomentari bacaan di atas:

لا يصح تقييد هذا التسبيح في سجود السهو.

Tidak benar mengaitkan tasbih ini pada sujud sahwi. (Muhadzdzab Mu’jam Al Manahi Al Lafzhiyah, Hal. 89)

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah juga telah menjelaskan:

قَوْلُهُ سَمِعْت بَعْضَ الْأَئِمَّةِ يَحْكِي أَنَّهُ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَقُولَ فِيهِمَا سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو أَيْ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ قُلْت لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا

Ucapannya (Ar Rafi’i): aku mendengar sebagian imam menceritakan bahwa disunnahkan membaca pada dua sujud itu: Subhana man laa yanaam wa laa yashuu, yaitu pada dua sujud sahwi. Aku (Imam Ibnu Hajar) berkata: “Saya tidak temukan asal usul ucapan ini.” (Al Hafizh Ibnu Hajar, At Talkhish Al Habir, 2/14. Cet. 1, 1989M-1419H. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Oleh karenanya sebagian ulama –seperti Imam Ibnu Qudamah- menyebutkan bahwa bacaan sujud sahwi adalah sama dengan sujud biasa. Inilah yang lebih baik.

Berkata Syaikh Abu Thayyib Ali Hasan faraaj:

والصواب: أن يقول في سجود السهو مثل ما يقول في سجود الصلاة

Yang benar adalah membaca pada sujud sahwi seperti membaca pada sujud shalat. (Tanbih As Saajid, Hal. 10)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

وبعض الفقهاء يستحب أن يقول في سجود السهو ( سبحان من لا يسهو ولا ينام ) ، ولكن لا دليل عليه ، فالمشروع هو الاقتصار على ما يذكر في سجود الصلاة، ولا يعتاد ذكرا غيره .

Sebagian fuqaha menganjurkan membaca pada sujud sahwi (subhana man laa yashuu wa laa yanaam), tetapi ini tidak ada dalilnya, maka yang disyariatkan adalah bacaan sebagaimana dibaca dalam sujud shalat, dan tidak ada pembiasaan dzikir selain itu. (Fatawa Islamiyah Su’al wa Jawab, No. 77430)

Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

قول في سجود السهو كما يقول في سجود الصلاة لعموم قول الرسول صلى الله عليه وسلم في قوله تعالى (سبح اسم ربك الأعلى) قال (اجعلوها في سجودكم) فهو يقول كما يقول في سجود الصلاة وكذلك في الجلسة بين السجدتين يقول فيها كما يقول في الجلسة بين السجدتين في صلب الصلاة ولا ينبغي أن يقول سبحان من لا ينسى سبحان من لا يسهو أو ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا لأن هذا لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم

Ucapan pada sujud sahwi adalah sama seperti sujud shalat, karena keumuman sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang firman Allah Ta’ala: (sabbihisma rabbikal a’la) jadikanlah ia pada sujud kalian. Maka, bacaannya sebagaimana bacaan pada sujud shalat, begitu juga ketika duduk di antara dua sujud, bacaannya adalah sama dengan bacaan duduk di antara dua sujud dalam shalat. Semestinya tidak membaca: subhana man laa yansaa subhana man laa yashuu atau rabbanaa laa tu’akhidzna innaa siina aw akhtha’naa, karena bacaan ini tidak ada riwayatnya dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. (Syaikh Ibnul ‘Utsaimin, Fatawa Nur ‘Alad Darb, Bab Shalat No. 1531)

— Bersambung…

Farid Nu'man Hasan

Tentang Farid Nu'man Hasan

Lahir di Jakarta, Juni 1978. Alumni S1 Sastra Arab UI Depok (1996 - 2000). Pengajar di Bimbingan Konsultasi Belajar Nurul Fikri sejak tahun 1999, dan seorang muballigh. Juga pengisi majelis… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (15 orang menilai, rata-rata: 9,93 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
86 queries in 1,554 seconds.