Home / Pemuda / Essay / Syndrome 20: Memilih Berangan Menikah atau Sabar

Syndrome 20: Memilih Berangan Menikah atau Sabar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Berapa usia kalian? Sudah 20 tahunkah? Pastinya pernah berpikir kata menikah? Ya. yaa. Itulah syndrome 20.

Belakangan ini saya membaca status dan obrolan teman-teman yang heboh tentang pernikahan. Apalagi kalau ada temannya yang menikah. Pastinya sepekan bahkan sebulan akan dibahas teruusss,  zzzttt  -___-”

Unik memang di negara kita ini heboh sekali pembahasan tentang menikah, semenjak usia sudah menyandangkan angka dua. Dimulai dengan maraknya grup jomblo di sosial media. Dan juga yah… budaya di Indonesia yang suka manas-manasin menikah.

Dampaknya gimana? Tentunya ada positif dan negatifnya.

Efek positifnya tentu saja dengan menikah akan menutup kemungkinan kasus kejahatan di luar nikah. Melestarikan keturunan khususnya untuk generasi usia produktif . Kemudian yah… lebih irit. Kan katanya bisa makan sepiring berdua. *eh

Manfaatnya banyak memang. Bisa disebutkan lagi. Silakan…

Oia yang dimaksud resiko negatif ini bukan setelah menikah. Tapi dampak dari “grup komunitas jomblo itu” yang tema utamanya adalah membicarakan menikah dan hal yang kadang malah membuat PHP. Hmm… Apa saja resiko negatifnya :

1. Bisa mengganggu konsentrasi (khususnya mahasiswa tingkat akhir. *eh)

Maksudnya jikalau tipe orang yang ”kepikiran” hal-hal yang ngebahas tentang menikah bisa dibahas seharian tuh. Hadeuh. Coba sampai saat rapat pun jadi membicarakan kapan nikah? Hmm. Padahal lagi membahas bakti sosial. Kok malah bakti pada suami bagaimana nanti? Masya Allah.

Padahal ada hal lain yang harus dipikirkan dan dilakukan saat ini oleh kita seperti mengabdi pada masyarakat, dakwah, dsb. Kan lebih baik :) *sambil menunggu

2. Ingat dalam Islam itu ada tingkatan orang yang diwajibkan menikah. Dengan berbagai kondisinya. Coba kalau yang dipanas-panasin buat nikah yang belum mapan. Sebaiknya diingatkan untuk berpuasa. Sekarang ini esensi berpuasa mulai pudar diingatkan namun lebih kepada pemaksaan halus untuk menikah. Hmm…

3. Larut pada obrolan menikah. Bisa jadi ghibah tanpa disadari dan jadi obrolan yang berujung sia-sia jika berlebihan. Ingat Allah akan menetapkan takdirnya. Jikalau takdir Allah yang belum kunjung datang diomongin terus. Bisa jadi itu ujian kesabaran. Nah loh? Ga sadar diuji. Masya Allah.

Secara umum di negara maju. Seperti singapura, jepang. Dsb. menikah itu baru di usia hampir kepala tiga. Dan menikah adalah pertanyaan sensitif dan tabu untuk dibicarakan. Yah, memang ada negatifnya. Lihat di jepang sampai kekurangan sumber daya pemuda.

Tapi hal positif yang diperoleh yakni mereka mau berkarya, bekerja keras serta bersungguh-sungguh untuk bangsa dalam masa penantian untuk menikah. Subhanallah. Dan ga heboh ngomongin nikah terus. :)

Ini hanya sebuah intermezzo di antara fenomena syndrome 20. Menikah itu memang dianjurkan tapi bukan untuk dihebohkan katanya saja. Tapi memahami esensi menikah dalam masa penantian adalah “tetap bermanfaat” dan menjauhi angan-angan untuk menikah. Kamu kapan?

“Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (Al Kahfi: 68)

jadi memilih berangan dan selalu mempertanyakan menikah kapan atau memilih satu kata yakni “sabar”? Sabar dan kuatkan kesabaran kawan!

Wallahu’alam bishawab.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 6,73 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi dan Pengajar.

Lihat Juga

Wakaf Sebagai Solusi Pengembangan Infrastruktur di Indonesia