Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Antara Ilmu dan Dakwah

Antara Ilmu dan Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – “…sungguh besar karunia Allah yang diberikan, dengan ayat kauniyah sebagai salah satu bukti untuk menjadikan manusia berpikir, beriman, dan berislam, serta berihsan terhadapNya…”

Ayat Kauniyah sebagai Penguat dan Pengantar akan Keimanan

            Allah dalam Al-Quran telah menjelaskan secara sempurna mengenai teori penciptaan alam semesta, kejadian penciptaan manusia, dan hal-hal lainnya yang menyangkut mengenai kebesaran Allah yang dituliskan dalam ayat-ayat di alam ini. Ayat kauniyah merupakan sebuah sebutan bagi mereka yang sudah memahami makna akan kebesaran yang telah menjadi pelajaran bagi semua umat manusia.

Sejatinya, ayat kauniyah merupakan tanda kebesaran lain, yang tidak Allah tuliskan dalam ayat-ayat Al-Quran. Sebagai insan yang Allah berikan kepemahaman dan kecerdasan, keimanan terhadap ayat-ayat kauniyah tentu saja harus terus terpatri dan menjadi gerbang cakrawala dalam memahami konsep kehidupan yang Allah berikan melalui berbagai peristiwa yang terjadi di alam ini. Sebagai contoh misalnya, ketika terjadi peristiwa jatuhnya meteor yang terjadi di Rusia, selayaknya manusia yang telah memiliki kecerdasan, maka peristiwa ini seharusnya menjadi suatu kajian tersendiri dan pengembangan dalam dunia astronomi untuk membahasnya dari segi keilmuan dan kepastian yang sudah Allah berikan dalam Al-Quran.

Allah dalam Surat Ash-Shaffat ayat 6-10 menjelaskan

“Sesungguhnya Aku telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, Akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang terang.” (QS. As-Shaffat: 6 – 10).

Dalam surat tersebut telah dijelaskan secara terperinci bahwa meteor merupakan bagian dari benda langit yang Allah ciptakan selain matahari, bumi, bulan, dan planet-planet lainnya. Ayat kauniyah memiliki sinkronisasi yang jelas dengan ayat-ayat Al-Quran (ayat kauliyah) yang sejatinya, adanya kesinambungan menjadikan ayat-ayat kauniyah sebagai penguat dan pengantar terhadap keimanan kepada Allah.

Berdakwah di Bidang Ilmu

Dakwah tidak hanya terpusatkan bagi mereka para kalangan aktivis masjid (da’awi) ataupun aktivitas garis siyasi dalam Islam, namun dakwah juga menyangkut pada mereka para aktivis yang mengkaji mengenai ilmu tentang ayat-ayat kauniyah. Bagi mereka yang bergerak dalam pemikiran ilmu pengetahuan, dakwah menjadi kewajiban tersendiri yang harus disebarluaskan untuk tujuan mulia yaitu menjadikan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin.

Para peneliti dan ilmuwan (scientist) memiliki potensi besar dalam mengaitkan fenomena alam dalam keseharian di masyarakat dengan ayat-ayat kauliyah sehingga mampu memberikan pemahaman jelas bagi umat dan meyakinkan umat untuk tetap berpegang teguh terhadap ketentuan yang sudah menjadi garis yang Allah tentukan. Misalnya saja mengenai peristiwa jatuhnya meteor yang terjadi di Rusia, para ilmuwan bisa memberikan penjelasan yang utuh dan menyeluruh menjelaskan mengenai fenomena ini. Mengapa hal ini perlu dilakukan? Tentu saja, hal ini dilakukan demi mencegah adanya perspektif yang dapat mengarah pada takhayyul ataupun ramalan-ramalan yang bahkan menjadikan umat jauh dari keimanan kepada Allah

Hal utama dan jelas bagi mereka para aktivis dakwah dalam bidang ilmu adalah menjalankan fungsinya dalam upaya menjaga umat untuk tetap memahami bahwasanya segala fenomena yang terjadi di alam semesta dan fenomena alam di dunia memiliki suatu penjelasan alamiah dan nalar yang logis bahkan mampu menjadikannya sebagai penguat keimanan dan keislaman bagi Rabb mereka. Selain itu, fungsi mereka para aktivis dakwah di bidang ilmu adalah memberikan pembenaran dan pelurusan terhadap umat, jika pada suatu saat fenomena alam yang terjadi dikaitkan dengan sifat-sifat yang akan menjerumuskan umat dalam kesyirikan.

Ilmu, dakwah, dan penjelasan problematika umat dalam bidang ilmu merupakan suatu tantangan tersendiri yang mampu menjadikan mereka yang berjuang di ranah ini memahami bahwa dakwah tidak hanya di masjid ataupun langgar-langgar. Namun, di ranah penelitian, penalaran ilmiah, bahkan di meja dan kursi laboratorium dakwah mampu dijalankan dan diikhtiarkan sebagai usaha dalam menjawab tantangan dan memberikan solusi bagi problematika umat saat ini. Pembagian ranah dakwah tidak lagi harus menjadi masalah utama, namun kebersinambungan dan kesinergisan bagi mereka yang berdakwah haruslah menjadi penguat dalam barisan untuk menjadikan Islam sebagai agama yang Rahmatan Lil Alamin di Negeri Indonesia.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Abrory Agus Cahya Pramana
Mahasiswa S1 Fakultas Biologi, Ketua Kelompok Studi Herpetologi Fak. Biologi UGM, Santri PPSDMS Nurul Fikri Regional 3 Yogyakarta, Anggota Jamaah Mahasiswa Muslim Biologi. Tertarik dengan dakwah dan penyebaran Islam melalui spreading knowledge.

Lihat Juga

Muslim membagi-bagikan Al-Quran di Eropa. (islammemo.cc)

Austria Larang Pembagian Al-Quran