Home / Pemuda / Cerpen / Bidadari Terakhir

Bidadari Terakhir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (desainkawanimut.com)
Ilustrasi. (desainkawanimut.com)

dakwatuna.com – Aku memandangi deretan gambar buram dalam album foto tua yang tak sengaja kutemukan ketika sedang membersihkan atas lemari di kamar Ayah dengan mata nanar, terperangah tak percaya. Tiga foto pernikahan. Tiga momen bahagia. Tak ada yang dapat kusimpulkan dari ketiga foto itu kecuali bahwa sosok pengantin pria di foto-foto itu semua adalah sosok yang sama: Ayahku, yang tergambar masih muda, yang kutahu selama ini hanya mencintai Almarhumah Ibu seumur hidupnya.

***

“Maaf Riris, maaf…”

Ayah menunduk dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Giliran aku terhenyak. Ayah tetap tak mau menjelaskan tentang ketiga foto yang kutemukan tempo hari.

“Kenapa, Yah? Kenapa?”

Aku tak habis pikir. Jika memang foto-foto itu adalah masa lalu Ayah yang kelam, aku berjanji tak akan mempermasalahkannya. Aku akan tetap mencintai Ayah. Karena Allah menyuruh manusia berbuat baik terhadap orang tuanya bagaimana pun buruk keadaannya. Namun aku berhak tahu. Dua puluh tiga tahun hidup bersama Ayah, hanya Ayah yang kukenal. Aku hanya mengenal ibuku lewat foto-foto dan cerita sebab beliau telah meninggal dunia setelah melahirkanku. Hubunganku dan Ayah begitu dekat. Lebih dari itu, aku kagum pada Ayah yang tak ingin menikah lagi karena begitu mencintai Ibu. Bahkan ketika aku sewaktu kecil merengek meminta kehadiran seorang ibu tiri hingga, Ayah tetap tak mau.

“Hanya ibumu jodoh Ayah dunia akhirat, Ris…”jawab Ayah lembut tiap kali aku mendesaknya untuk mencari istri lagi.

Dan sekarang, dua minggu lagi adalah hari pernikahanku. Di satu sisi aku bahagia, di sisi lain aku begitu berat meninggalkan Ayah sendiri tanpa seseorang yang bisa mengurusinya di hari tuanya. Namun aku seperti terhempas keras begitu suatu kenyataan terkuak. Ayahku pernah menikah dengan wanita lain. Bukan saja satu, tapi tiga! Ayah tidak membenarkan, tidak juga menyangkal. Hanya kata ‘maaf’ yang ia ucapkan berulang-ulang.

Kupandangi punggung Ayah yang ringkih berlalu menuju kamarnya dengan iba. Lelaki itu terus menua, membesarkanku sendirian, menjadi ayah sekaligus ibu bagiku. Lelaki yang lembut dan penyayang itu…adakah menyimpan kebohongan besar?

Ini harus terjawab, tekadku. Sebelum aku menikah, sebelum aku meninggalkan rumah ini…sebelum ingatan suciku tentang Ayah berubah.

***

“Kamu siap mendengar semuanya, Ris?” tanya Eyang.

Aku mengangguk, “Insya Allah, Eyang. Ada apa sebenarnya, Yang? Kenapa Ayah menutup-nutupi ini semua?”

Wanita yang kupanggil Eyang adalah nenekku dari pihak Ayah, usianya sudah tujuh puluh dan tinggal tak jauh dari daerah rumahku.

Eyang terdiam agak lama. Mencoba mengumpulkan sisa-sisa ingatan di balik kepalanya yang sudah memutih seluruhnya oleh uban.

“Ayahmu pernah menikah empat kali, pernikahan dengan ibumu adalah pernikahan Ayahmu yang keempat…”

Sekaligus yang terakhir, sambungku dalam hati. Apakah Ibu adalah istri Ayah yang keempat? Lantas ke mana semua istri-istri Ayah yang lain? Kucoba mengatur emosiku.

“Kamu jangan suudzan dulu, Ris…Ayahmu menikah dengan ibumu setelah ia menjadi duda” sambung Eyang seperti dapat membaca pikiranku.

Aku menahan napas. Astaghfirullah.

“Pertama kali Ayahmu menikah dengan temannya semasa kuliah. Kalau tidak salah, Hanum namanya. Pernikahan yang bahagia…sampai akhirnya setahun setelah pernikahan, Hanum meninggal dunia karena sakit demam berdarah”

Innalillahi…

Eyang memandangi foto berikutnya. Foto sepasang pengantin dalam baju adat Sunda.

“Untuk menghilangkan kesedihannya, beberapa bulan kemudian Eyang menjodohkan ayahmu dengan anak gadis dari kerabat Eyang. Namanya Nina. Dia gadis yang baik, sayang umurnya tidak panjang…”

Aku tercekat. Lagi?!

“Eyang lupa kapan tepatnya…tapi tidak lama setelah menikah, Nina meninggal karena kecelakaan. Ayahmu dan Nina sedang berboncengan, lalu motor ayahmu terserempet truk yang melaju kencang. Ayahmu luka parah, sedangkan Nina tewas saat itu juga”

“Ayahmu sangat tabah, Ris. Semua keluarga Nina menyalahkan ayahmu. Ayahmu difitnah sebagai pembawa sial, membawa kematian bagi setiap perempuan yang dinikahinya…”

Tangisku pecah. Ternyata selama ini Ayah menanggung beban fitnah yang begitu kejam. Oh, padahal hidup dan mati manusia sudah digariskan oleh Allah Ta’ala. Eyang kembali melanjutkan ceritanya.

“Selang dua tahun kemudian, ia menikah lagi dengan seorang perempuan yang cantik. Anita namanya. Tapi sayang, Anita bukan istri yang baik. Belum sampai dua tahun pernikahan, Anita menunjukkan gelagat perselingkuhan. Dan ternyata benar…”

Eyang mendesah, seakan hendak menceritakan sesuatu yang amat berat.

“Terus? Apa yang terjadi, Eyang?”

“Anita dan kekasih gelapnya ditemukan meninggal di kamar hotel. Mungkin karena narkoba, mungkin kecelakaan…Eyang tak tahu pasti. Sebab ayahmu langsung menutup kasus itu. Ia tak ingin kasus itu diselidiki, Eyang mengerti ia begitu terpukul…ia tak mau menyalatkan, menguburkan bahkan ia tak mau datang ke pemakaman dan melihat lagi jenazah Anita. Ayahmu kemudian menjadi pemurung, lebih banyak diam sampai lima tahun kemudian, ia bertemu dengan ibumu”

Allah!

“Awalnya ayahmu trauma, takut terjadi kesialan lagi dalam pernikahannya…namun ibumu adalah perempuan shalihah, Ris. Ibumu meyakinkan bahwa maut itu telah ditentukan oleh Allah. Ibumu tak gentar menikahi ayahmu, meski banyak orang mencegahnya. Setelah menikah dengan ibumu, ayahmu menjadi lebih religius. Alhamdulillah, pernikahan mereka benar-benar pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah…rezeki mengalir, semua fitnah yang menimpa ayahmu lama-lama hilang. Sampai akhirnya setelah tiga tahun menikah, ibumu hamil kemudian melahirkanmu, Ris…”

Aku terisak, begitu juga Eyang.

“Setelah melahirkanmu, ibumu mengalami pendarahan. Seperti yang kamu sudah tahu, di hari ketiga ibumu meninggal…kondisimu juga begitu lemah. Waktu itu ayahmu berdoa siang malam supaya kamu tetap hidup. Eyang masih ingat waktu itu ayahmu menangis memeluk Eyang setelah pemakaman ibumu. Ayahmu berdoa, ‘Ya Allah, istriku telah menemui-Mu, suatu saat aku pun akan menemui-Mu. Biarkan anak perempuan ini hidup, Ya Allah, biarkan anak ini jadi bidadari terakhirku’. Ayahmu sangat menyayangimu Ris. Sekarang kamu pasti mengerti kenapa ayahmu tak ingin membuka cerita ini lagi….”

“Riris mengerti Yang…Riris mengerti…Riris juga sayang Ayah…”

Aku dan Eyang berpelukan sembari sesenggukan. Berulang kali aku beristighfar sudah suudzan pada Ayah. Aku semakin mencintai Ayah, begitu juga Almarhumah Ibu. Aku yakin Ayah bukanlah suami pembawa sial. Dalam hati aku berjanji akan segera pulang dan meminta maaf pada Ayah.

***

Dadaku disesaki oleh haru ketika mendengar suara Ayah dari balik ruang rias pengantin. Suara Ayah begitu mantap menjadi wali saat menikahkanku dengan Mas Thariq. Prosesi akad berjalan dengan lancar hingga aku digiring keluar menemui Mas Thariq yang kini resmi menjadi suamiku. Dan ketika sungkem dengan Ayah, tak kuasa aku menahan tangis. Beliau menepuk-nepuk bahu Mas Thariq di sebelahku sambil berbisik, “Jaga Riris ya, Riq. Jaga bidadari terakhirku”

Tidak, Yah. Aku bukan bidadari terakhirmu. Masih banyak bidadari surga yang menantimu di sana.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 9,08 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sarah Annisa Jahja
Mahasiswi jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Indonesia. Saat ini aktif di LDK SALAM UI sebagai Deputi Departemen Islamic Learning Center, sebagai pendidik tetap di Rumah Belajar BEM UI dan Staf Departemen Olahraga dan Seni LDF FORMASI FIB UI serta menulis cerpen di berbagai media.
  • Muhammad Usamah

    Cerpen yang sarat hikmah :)

  • Nice Stories :)

  • subhaanallah….ceritanya menyentuh banget…

Lihat Juga

Pacaran Lewat Surat Nikah