Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Surat untuk Aktivis Pergerakan Islam

Surat untuk Aktivis Pergerakan Islam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com – Jujur saja, saya menulis tulisan ini karena miris melihat interaksi antar aktivis dakwah, khususnya aktivis beda harakah. Kita masih disibukkan dengan sesuatu yang berpuluh tahun telah diperdebatkan oleh orang sebelum kita, masalah konsep, masalah sistem dan metode dalam berdakwah. Apakah tema ini akan tetap kita wariskan kepada generasi akan datang? Sehingga dari generasi ke generasi akan tetap memperdebatkan masalah ini? Inikah umat terbaik? Tentunya kita merasakan “konflik” yang sering melanda aktivis harakah, saya tidak melibatkan organisasinya, saya menyebut “konflik” ini lebih kepada personal, karena itulah yang kita jumpai di lapangan. Tak hanya di dunia nyata tapi juga di dunia maya.

Indonesia kini menjadi lahan subur bagi pergerakan Islam. Sehingga geliat dakwah dan keislaman terasa membahana di bumi pertiwi, di mana-mana selalu saja ada yang menyeru kepada kebenaran Islam, seolah tidak ada ruang yang kosong. Alhamdulillah, geliat dakwah itu berasal dari aktivis pergerakan Islam yang aktif berdakwah, seolah tidak pernah letih dalam mengemban amanah yang memberatkan punggungnya, aktivis yang selalu berpeluh demi kerja-kerja besar, aktivis pergerakan yang selalu menghiasi bibirnya dengan kata hikmah. Subhanallah, semoga Allah membalas kalian dengan syurgaNya. Peluhmu, letihmu, waktumu yang tersita, perasaanmu, dan semua yang telah kalian korbankan demi pencerahan kepada umat.

Saya pikir semua aktivis harakah Islam paham dan hafal, sebuah surat cinta dari Allah yang mengatakan bahwa Allah mencintai orang yang berjuang di jalannya dengan shaff yang rapi. Renungkan ayat ini, karena tanpa shaf yang rapi maka kejayaan itu mustahil akan tercapai. Dan shaf yang dimaksud di sini bukan shaf dalam satu harakah saja, namun shaf seluruh umat Islam.
Fakta di lapangan berbeda dengan ukhuwah yang sering dibahas dalam kajian yang kita geluti, seolah perbedaan harakah di antara kita menjadi hijab yang rentan dengan konflik. Konflik itu biasanya tergambar dari sikap dan tanggapan kita terhadap saudara di lintas harakah. Bukankah kita hafal di luar kepala, ayat Allah yang menegaskan bahwa semua orang beriman itu bersaudara. Apakah kita lupa dengan ayat sering kita baca berulang-ulang itu? Ayat yang semakin mengokohkan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar, hingga tidak ada lagi kata perbedaan status di antara mereka. Lalu ada apa dengan kita?

Subhanallah, kudapati dalam diri kalian wahai para aktivis pergerakan Islam, tanpa membedakan harakah kalian. Ruh semangat juang yang begitu tinggi, kita mempunyai cita yang sama. Kembalinya sebuah kejayaan yang dijanjikan Rasulullah. Cita itu begitu agung dan telah menyatu dengan aliran darah dan desahan nafas kita. Sebuah impian yang sebentar lagi akan terwujud saudaraku, jangan hancurkan impian itu! Yah mungkin kita menatap impian yang masih di puncak gunung itu di tempat yang berbeda, ada yang menatap impian itu dari sebelah kanan, kiri, depan, belakang. Atau mungkin kita menatap impian itu dalam keadaan yang berbeda pula, ada dengan posisi miring, ada yang sementara duduk, berdiri, berjalan, berlari. Dan karena keadaan dan tempat yang berbeda itulah sehingga menjadikan kita berbeda, yang penting tidak ada di antara kita yang menatap impian itu dengan keadaan berpangku tangan.

Ada pepatah yang menyatakan, banyak jalan menuju roma. Itulah yang terjadi dengan kita saat ini, semua harakah mempunyai jalan tersendiri untuk mencapai tujuan. Yang jelasnya kompas yang digunakan sebagai penunjuk jalan adalah Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga tidak ada yang melenceng dan tersesat, saya yakin semua mempunyai pegangan yang kuat. dan inilah yang membuat kita sering larut dalam “konflik” antar aktivis, karena kita masih saja memperdebatkan apa yang memang tidak bisa kita persatukan, karena memang dasar dalam memandang suatu masalah yang berbeda. Di antara sekian banyak perbedaan, kenapa kita tidak mencari persamaan?

Harakah Islam saya gambarkan sebagai pelangi yang indah, semua mata akan betah memandangnya seraya bibirnya mengucap tasbih akan keindahan ciptaan Ilahi. Namun bagaimana jika pelangi itu menjadi tidak beraturan? Apakah masih akan indah kelihatan? Ataukah itu menjadi tanda kiamat?

Ada hadits yang mengatakan bahwa perbedaan umatku adalah rahmat, walaupun disebutkan bahwa hadits itu dhaif, Tapi setidaknya kita bisa mengambil pelajaran, karena isi dari kalimat tersebut tidak salah, bahkan sesuai dengan kondisi kita saat ini. Anggap perbedaan ini rahmat sehingga “konflik” bisa kita hilangkan. Lihatlah dalam satu kebun, pasti akan menambah keindahan jika ditumbuhi beraneka ragam bunga. Ada berwarna kuning, putih, merah, ungu. Sebenarnya jika kita ingin saling mengerti dan memahami, maka semuanya akan menjadi indah. Islam mengatur hubungan interaksi dengan non muslim dengan baik, lalu kenapa kita harus memelihara hubungan yang kurang harmonis?

Saudaraku, lihatlah impian yang di puncak gunung sana sedang melambaikan tangannya kepada kita, dia merindukan kita untuk segera sampai ke sana, dan kita pun dengan segala upaya menghampirinya, sekarang kita sementara berlari ke arahnya, jangan sampai karena perbedaan latar belakang membuat kita saling menjatuhkan di tengah jalan, jika kita saling menjatuhkan maka siapakah yang akan sampai ke sana? Impian itu semakin melambaikan tangannya, jangan sampai impian itu dihancurkan oleh ego kita semua. Saatnya kita saling memapah, menopang dan saling menguatkan. Jika ada saudaramu yang terjatuh mari kita papah dia, bukan malah menyumpahi dengan sumpah serapah atau menertawakannya.

Ada penyakit yang menjangkiti hati kita sebagai aktivis harakah Islam. Ketika kita menganggap harakah kita paling sempurna dan harakah yang lain buruk, bahkan membid’ahkan dan menyesatkan harakah lain. Padahal tidak ada satu pun harakah yang sempurna, semua ada celahnya dan kekurangannya, karena buatan manusia jadi tidak ada yang sempurna. Namun celah dan kekurangan itu bisa ditutupi dengan bersatunya semua harakah Islam, kita saling melengkapi dan menutup kekurangan. Bukan malah saling membongkar kekurangan, tidak cukupkah Rasulullah menjadi panutan kita? Pernahkah beliau mengajari kita untuk membongkar aib dan kekurangan saudara sendiri? Rasulullah bersabda barang siapa yang menjaga aib saudaranya maka Allah akan menjaga aibnya di hari kiamat.

Maaf atas segala kesalahan, Wallahu A’lam bis shawab!

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswa Syariah Al-Azhar Makassar.
  • indah

    keren tulisannya

  • MUSLEHUDIN MUSTOFA

    Smoga kita sadar akan hal ini, Tujuan kita sama hanya cara & jalannya yg berbeda asal tidk bertentangan dg Alqur’an & Sunnah.

  • fikri

    Bagaimana klo ada sekelompok orang yang mengingatkan kelompok lain yang
    menyimpang dari cara & jalan yang sesuai al Qur’an & as Sunnah..
    Apakah ini jg dikategorikan “Konflik” atau kah lebih tepat dikatakan
    sebagai ‘amar makruf nahyi munkar yg diperintahkan Allah pada kita..Moso
    kita mau membiarkan saudara2 kita dari penyimpangan karena takut
    dianggap menuai konflik dan sebagainya.. Tentu dgn cara yg sesuai dgn
    etika Islam.. misalnya dgn jalan dialog yg mengedepankan syariah dan
    obyektif serta argumen-argumen yg berlandaskan ajaran Islam.

Lihat Juga

Rohingya

DPR Desak Pemerintah Indonesia Bersikap Tegas atas Insiden Kekerasan di Rohingya

Organization