Home / Pemuda / Cerpen / Istriku Nadia

Istriku Nadia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

“Menikah itu nggak gampang”.

Ilustrasi. (kawanimut)
Ilustrasi. (kawanimut)

dakwatuna.com – Ya, memang siapa yang bilang menikah itu mudah? Kata-kata itu dulu sering kudengar untuk mencegahku menikah muda kini terngiang kembali. Kata-kata yang dulu menjadi cambuk dan menguatkan tekadku untuk menikahi Nadia. Kata-kata yang kini, entah bagaimana, justru perlahan mengikis rasa percaya diriku sebagai suami, sebagai imam rumah tangga ini.

Menikah untuk menjaga hati, membentuk keluarga sakinah, dan terlebih lagi menikah karena Allah. Menikah sebagai ibadah dunia akhirat. Itulah segenap alasan klise yang kulontarkan ketika kuutarakan keinginanku menikah pada kedua orang tuaku yang sebetulnya enggan menyetujui. Bagaimana tidak, anak mereka ini baru berusia dua puluh tahun kala itu, masih kuliah, hidup masih nebeng orangtua, tak punya pekerjaan tetap…lalu tiba-tiba ingin menikah? Mau diberi makan apa anak orang nanti? Namun dengan segala ikhtiar melobi, berdoa, dan berbagai kemudahan yang diberikan Allah, akhirnya orangtua mengizinkanku juga untuk mempersunting Nadia, seorang gadis cantik yang shalihah dan juga menjadi incaran banyak teman-temanku di Rohis. Awalnya aku pun sempat minder…siapalah aku ini? Apalagi ketika berhadapan dengan kedua orangtua Nadia. Aku yang semula sudah siap-siap patah hati jika ditanya pekerjaan dan prospek hidup rumah tangga yang belum bisa kujanjikan, berbalik mengucap syukur ketika hanya dua pertanyaan yang diajukan ayah mertuaku yang juga seorang ustadz itu: “Siap menjaga Nadia dunia akhirat? Siap menjaga shalat selalu di awal waktu?”

“Insya Allah siap, Pak!”

Begitulah. Tanpa proses yang lama, hanya ta’aruf selama dua bulan, Nadia pun resmi menjadi istriku. Saat itu aku dan Nadia sama-sama berusia dua puluh tahun. Nadia masih semester empat, begitu juga aku. Meskipun aku cuma lebih tua beberapa bulan, namun Nadia selalu memanggilku dengan sebutan ‘Kakak’ karena ia sangat ingin punya kakak lelaki. Semua saudara Nadia, saudara-saudara iparku, semua perempuan. Keluarga Nadia tampak sangat welcome kepadaku. Beruntung, kedua orang tuaku dan kedua orangtua Nadia masih bersedia menanggung biaya kuliah kami masing-masing tetapi biaya hidup kami sehari-hari dan selebihnya…semua sudah menjadi tanggung jawab kami sendiri.

Bulan-bulan pertama menikah adalah masa-masa yang paling indah. Meski tinggal di kamar kost yang sempit, meski harus bekerja sana-sini sambil kuliah, semua kami jalani dengan penuh rasa syukur. Nadia mengajar privat tiga hari seminggu sepulang kuliah, sedangkan aku membuka usaha perakitan dan jual beli peralatan komputer bersama teman kuliahku sambil sesekali menulis untuk media massa.

Aku paling suka saat-saat sepertiga malam di mana Nadia membangunkanku untuk tahajud bersama, lalu dilanjutkan belajar untuk perkuliahan masing-masing sebab Nadia dan aku biasanya sudah tak bisa lagi konsentrasi belajar setelah sampai kost di malam hari. Sudah capek dari kegiatan di luar, ditambah…yah…tahulah sendiri agenda pasangan muda tiap malam. Hehehe. Memang benar kata orang, cinta itu membuat tahi kucing pun berasa coklat Cadburry. Memang berat menikah sambil kuliah, namun semua terasa begitu nikmat dijalani.

Tapi itu dulu.

Kini setelah usiaku menginjak dua puluh dua, bayang-bayang kehidupan yang lebih baik terus mengejar. Sampai kapan akan terus kuliah dan mengandalkan penghasilan yang tak tetap? Usaha perakitan dan jual beli peralatan komputerku pasang surut, tergantung orderan. Menulis pun tertatih-tatih. Ada beberapa tulisanku yang dimuat, namun banyak juga yang ditolak, kalah dalam perlombaan, atau berakhir dalam ketiadaakhiran alias mandek, tidak selesai. Nadia kini sudah berhenti mengajar privat dengan alasan: agar lebih fokus mengerjakan skripsi. Bah! Itu juga mauku. Aku juga ingin seperti mahasiswa lainnya yang mengerjakan skripsi dengan tenang, berkonsentrasi melakukan penelitian, lalu lulus dengan cepat dan hasil memuaskan. Tentu saja akan lain ceritanya ketika mahasiswa itu juga seorang suami, yang dibebani tugas memimpin keluarga dan mencari nafkah.

“Nadia ingin lulus secepat mungkin, Kak. Biar cepat dapat kerja, biar kita nggak terus-terusan tinggal di kost-kostan sempit begini!” ujar Nadia.

Ya, ya, ya, aku paham. Tapi itu juga mauku.

“Kakak jangan cuma mengandalkan usaha komputer itu dong. Coba cari usaha lain. Nadia sekarang kan’ udah nggak ngajar privat lagi, Kakak mesti lebih giat kerja dong!” kata Nadia di waktu lain.

Ah. Itu juga mauku. Namun apalah dayaku? Bukankah aku juga mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk menyusun skripsi sama seperti dirinya? Kini aku merasa Nadia menjadi egois.

Kugelengkan kepalaku keras-keras, menepis segala buruk sangkaku pada Nadia. Biar bagaimana pun Nadia adalah istriku, wanita yang paling kucintai setelah ibuku. Bukankah jika kita mencintai seseorang, kita juga harus menerima segala kekurangan yang ada pada dirinya? Aku masygul.

“Kakak kapan selesai skripsinya? Kakak harusnya lebih cepat lulus daripada Nadia. Kakak kan’ yang seharusnya mencari nafkah…”sungut Nadia.

Iya, iya, itu juga mauku! Sudah berapa kali kukatakan bahwa semua tuntutannya padaku juga sebenarnya adalah impianku?! Tentu saja Nadia tak mendengar kata-kataku, sebab semua kekesalan dan kemuakanku hanya kupendam dalam hati. Kutahan-tahan sebab aku paling tak suka masalah ekonomi menjadi momok dalam rumah tangga. Berulang kali kuberi pengertian dengan lembut pada Nadia agar bersabar.

“Sabar, sabar, sabar! Sampai kapan Nadia mesti sabar, Kak?! Ini sudah seminggu kita tak pernah makan malam lagi. Tidur sambil kelaparan. Nadia bahkan sudah puasa Senin-Kamis…dan Kakak menyuruhku bersabar lagi? Memangnya aku kurang sabar apa?!”

Nadia muntab. Kemarahannya menyulut emosiku pula.

“Kamu egois, Nadia! Kamu egois! Aku juga capek, tahu?! Aku juga capek hidup begini! Aku juga ingin bisa menyelesaikan skripsi secepatnya…tapi apa? Kamu selalu menuntutku begini begitu sedangkan kamu nggak ngapa-ngapain, enak-enakan di kamar mengerjakan skripsi! Kamu egois!”

“Oh jadi Kakak sekarang bilang Nadia egois? Menyesal nikah sama Nadia?!”

“Bukan begitu, Nadia…tapi kenapa kamu nggak pernah mengerti?!”

Kepalaku berdenyut-denyut. Ini adalah pertengkaran terhebat kami selama dua tahun menikah.

“Kakak yang nggak pernah ngerti! Nadia korbankan semua hidup Nadia yang enak dulu cuma untuk nikah sama lelaki seperti Kakak!”

Seperti tersadar kata-katanya telah sangat keterlaluan, Nadia menutup bibirnya dengan tangan. Sebaliknya, aku meledak.

“Lelaki seperti apa memangnya aku ini?! Lelaki miskin maksudmu? Lelaki payah, nggak punya uang banyak, belum lulus kuliah…begitu? Jadi sekarang kamu menyesal nikah sama aku!” bentakku.

Tangis Nadia pecah. Aku terdiam sambil menghela napas, tubuhku menggelosor ke lantai. Saling membentak sungguh menguras energi. Dan menimbulkan luka yang dalam. Inikah bayangan keluarga muda sakinah yang dulu kuimpikan? Ke mana semua kebahagiaan yang penuh syukur itu? Ke mana semua manisnya rumah tangga yang dibina karena ibadah?

Malam itu Nadia tidur di ranjang sedangkan aku tidur di atas lantai beralaskan sajadah dan tumpukan sarung.

***

“Kenapa sih, Bang? Lesu amat?” tegur Opik, teman kuliah sekaligus partnerku dalam usaha peralatan dan jual beli peralatan komputer yang kami dirikan bersama. Opik memanggilku dengan sebutan ‘Bang’ sebab ia satu tingkat lebih muda dariku.

Aku menggeleng tak bersemangat.

“Lagi berantem ya sama istri? Hehehe…” goda Opik.

“Huss, kamu nih suka ngawur kalo ngomong!” timpal Ahmad, temanku yang lain yang juga ikut menjadi partnerku dalam bisnis ini. Opik nyengir.

“Ya gitu deh. Nadia lagi marah-marah melulu” jawabku sekadarnya. Ahmad yang tadinya melarang Opik tanya-tanya urusan pribadiku justru malah mendekatiku duluan, “Benar, Riq kamu lagi ada masalah? Pantesan tiga hari ini kamu…”

“Huss, Bang Ahmad jangan suka ngawur kalo ngomong!” kali ini Opik balas menimpali mengikuti kata-kata Ahmad sambil tersenyum jahil. Ahmad menunjukkan wajah pura-pura sewot.

“Ya begitulah, Mad…Nadia sering marah-marah sekarang”

Aku tak ingin menjelaskan secara rinci. Rasanya tidak etis membicarakan masalah rumah tangga, apalagi keburukan istri sendiri…pada teman, sedekat apapun teman itu.

“Mungkin Mbak Nadia lagi PMS, Bang…itu lho, yang suka bikin cewek-cewek sensi” celetuk Opik diiringi pelototan Ahmad.

Mana mungkin, pikirku. Biasanya kalau sedang PMS, Nadia juga tak sampai sebegininya. Paling-paling suka berubah jadi anak muda labil di Twitter.

“Atau jangan-jangan Mbak Nadia lagi hamil, Bang? Kan’ orang lagi hamil kadang suka sensian…”kata Opik lagi.

Aku tersentak. Hamil? Bisa jadi. Tapi…bukankah di awal pernikahan aku dan Nadia sudah sepakat untuk menunda punya momongan hingga lulus kuliah? Nadia sangat disiplin soal rencana penundaan ini. Ah, jika Nadia hamil…sudah siapkah aku menjadi ayah? Seorang anak adalah berkah, tapi juga menambah tanggungan biaya hidup. Tentu saja konsumsi tubuh Nadia akan membengkak selama kehamilan yang artinya membengkak pula beban nafkah yang harus kucari. Belum-belum pikiranku sudah membayangkan kemungkinan terburuk.

Aku bergegas pergi. Aku harus segera menemui Nadia. Entah untuk apa, mungkin untuk memastikan atau apalah. Walau aku tak tahu sama sekali cara memastikan kehamilan.

“Lho, Riq? Mau ke mana?”Ahmad keheranan melihatku cepat-cepat mencangklong tas ranselku.

“Mau pulang!” jawabku sambil berlalu dengan sepeda motor bututku.

Betapa terkejutnya aku begitu sampai di kamar kost, kutemukan Nadia sedang mengepak barang-barang. Semua pakaiannya dikeluarkan dari lemari, begitu juga pakaian kotornya dipisahkan dan dimasukkan ke plastik, sepatu-sepatu dibungkus, buku-buku kuliah dijejalkan…

“Lho, apa-apaan ini, Nadia? Kamu mau ke mana?!” aku mulai naik pitam.

Apa Nadia ingin pergi dariku? Apa ia ingin bercerai dariku? Oh, jadi seperti inilah rupa gadis shalihah yang kunikahi dulu. Ternyata seorang istri yang durhaka! Segala pikiran jahat merasukiku.

Namun Nadia tetap duduk tegak sambil merapikan pakaiannya. Ia tak bergeming.

“Nadia! Jawab!”

Nadia tersentak, lalu sesaat kemudian ia mendekatiku. Tangannya diulurkan meraih tanganku, lalu ia mencium tanganku. Kulepaskan tanganku dengan marah.

“Jelaskan padaku…apa-apaan ini semua?” aku masih emosi. Entah sudah berapa kali, sejak pertengkaran kami tempo hari, aku tak pernah lagi berbicara lembut padanya.

“Kak, Nadia mohon izin…untuk empat bulan ini, selama menyusun skripsi, Nadia ingin tinggal di rumah Bapak saja. Nadia sudah bicara dengan Bapak dan Ibu, dan mereka setuju…lagipula Nadia juga kasihan melihat Kakak, seenggaknya dengan Nadia tinggal di rumah, Kakak nggak begitu terbebani dan bisa fokus juga menyusun skripsi…”

Aku tak mampu berkata-kata. Pundakku lemas. Nadia…Nadia…mengapa engkau begitu meragukan usahaku untuk menghidupimu? Semampuku…aku sudah bertahan sejauh ini, mengapa semua ini tak juga cukup di mata Nadia? Empat bulan tanpa Nadia? Sungguh tak terbayang!

Aku tak tahu harus bereaksi bagaimana dengan gagasan Nadia barusan. Aku merasa sudah gagal menjadi seorang suami bagi Nadia, menjadi imamnya. Entah apa kata mertuaku. Bagaimana jika mereka menilaiku tak becus memimpin rumah tangga? Tak sanggup menafkahi anak mereka? Lalu bagaimana dengan orang tuaku jika mengetahui aku pisah rumah dengan Nadia? Mereka pasti merasa ‘menang’ karena anjuran mereka untuk tidak menikah muda menjadi terbukti. Aku menutup mata lama, begitu tertekan dengan semua ini.

“Kak…”Nadia mengusap bahuku. Aku menoleh, dan kulihat senyumannya. Senyuman yang begitu manis dan membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama dulu.

Innallaha ma’ashabiriin…” ucapnya pelan. Sederhana, namun begitu jauh menelusup batinku, memberikan kesejukan di tiap rongga dadaku, mengalirkan ketenangan tiada tara. Allah bersama orang-orang yang sabar. Bukankah pernikahan ini aku dan Nadia bina atas nama Allah? Mengapa kami tak dapat bersabar dengan masalah yang datang menerpa? Apa kami telah lupa bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar?

Aku meraih tangan Nadia di bahuku, kutatap matanya dalam-dalam. Akhirnya kupaksakan untuk mengangguk menyetujui solusi yang ia tawarkan. Tak lama, Nadia benar-benar pergi meninggalkanku dengan dua kopor besar di tangannya. Aku mengantarnya sampai rumah mertuaku. Kini kamar kost ku benar-benar terasa sunyi. Sepertiga malam dalam kesendirian, kudirikan tahajud dua rakaat.

“Nadia, jangan tinggalkan aku, kembalilah…”lirihku di sela-sela sujud.

***

Seminggu, dua minggu, tiga minggu…hidupku sudah tak karuan tanpa Nadia. Biasanya kamar kost rapi jali terkena sentuhan tangan wanita, sekarang kamar kost kami benar-benar mirip kamar kost mahasiswa depresi menyusun skripsi. Depresi, menyusun skripsi…dan juga ditinggal istri, tambahku lagi. Skripsiku pun maju mundur, terengah-engah. Aku tidak konsentrasi mengerjakannya.

Dari bahan-bahan skripsi yang njelimet, mataku beralih memandangi seluruh penjuru ruangan kamar kost dengan sayu. Makanan yang biasanya sudah tersedia kini harus kusiapkan sendiri. Meski Nadia tak bisa memasak, namun sebisa mungkin ia menyiapkan makanan dengan apik. Tiap subuh, Nadia sudah stand by memasak nasi dan air. Lantai kamar selalu kesat karena disapu dan dipel dua kali sehari, setiap sudut kamar dan kamar mandi pun bersih tanpa debu. Sungguh berbeda keadaannya tanpa Nadia. Aku selalu lupa memasak nasi dan air, tak bisa menyapu dan mengepel sebersih dan sekesat yang Nadia lakukan, setrikaanku tak pernah licin, dan aku selalu mencuci pakaian dengan tergesa-gesa. Aku benci dengan semua pekerjaan rumah tangga ini. Aku tak bisa melakukannya sebaik yang Nadia lakukan.

Kini aku bisa membayangkan begitu lelahnya Nadia dulu ketika masih kerja sambilan. Kuliah, kerja sambilan sebagai guru privat, mengurus kamar kost kami yang mungil ini, mengurusi berbagai keperluan, melayani suami…ah. Sekarang aku semakin mengerti mengapa Nadia tak sanggup lagi untuk mengajar sambilan selama mengerjakan skripsi. Bukan Nadia yang tak bisa memahamiku, akulah yang tak pernah bisa memahaminya. Aku bahkan mencap dirinya egois. Padahal Nadia telah berusaha menjadi istri yang baik untukku. Lalu, siapakah yang sebenarnya egois?

Diam-diam, aku mulai merindukan Nadia. Tak ada lagi yang cerewet jika kaos kaki ditaruh sembarangan, tak ada lagi yang selalu bawel mengingatkanku untuk makan ketika aku sedang asyik menulis, tak ada lagi yang menyeduhkan secangkir kopi hangat untukku di pagi hari…ah, bukan atas dasar itu semua sesungguhnya merindukan Nadia. Aku merindukannya sebab ia adalah perempuan yang pantas dirindukan. Hey, mengapa aku jadi melankolis begini?

Aku jadi teringat ledekan teman-temanku ketika aku baru menikah dulu.

“Asik deh yang baru nikah…no more galau nih yee!”

Huh, siapa bilang orang menikah tidak bakal galau lagi? Justru setelah menikah galaunya lebih akut, lebih kompleks, mirip lagu dangdut zaman dulu. Makan, makan sendiri…nyuci baju sendiri…Plus, pakai acara minggat-minggatan segala macam sinetron…

Kuraih handphone. Kosong, tidak ada panggilan atau pesan masuk dari Nadia. Mungkin dia benar-benar marah padaku. Atau dia sedang berusaha menenangkan diri? Atau ia sedang mengujiku? Atau ia memang hanya sedang benar-benar berkonsentrasi pada skripsinya? Aku gamang. Ingin rasanya menghubungi Nadia duluan, tapi gengsi. Sampai ketika mengantarkan Nadia pulang ke rumahnya, tak terucap maaf sedikit pun dariku. Bodohnya aku. Mungkin kata maaf itulah yang dinantikannya, namun tak kunjung juga kuucapkan. Mengapa? Apa karena Nadia pun tidak meminta maaf padaku? Lalu siapakah yang seharusnya memulai duluan? Ah, masih pentingkah siapa yang harus memulai duluan?

Kutekan tuts-tuts handphone, mengetik sebuah pesan singkat dengan perasaan campur aduk:

Nadia, maafkan aku. Pulang ya sayang.

Bah! Bahkan untuk menyentuh hati wanita saja aku tak pandai berkata-kata. Kubaca sekali lagi pesan terkirim. Sebuah permintaan maaf yang sederhana, terkesan terpaksa, tak menyentuh sama sekali. Semenit, dua menit, kutunggu balasan Nadia. Lima menit, sepuluh menit…masih belum ada balasan. Sudahlah, yang penting aku sudah minta maaf, egoku bersuara. Kantuk menguasai pelupuk mataku, membuatku pulas tak lama kemudian. Dalam tidur aku bermimpi Nadia.

***

“Kak Thariq! Kak, bangun Kak!”

Sebuah suara lembut membangunkanku. Aku membuka mataku dengan berat, masih sangat mengantuk. Kukucek mataku dan saat itulah kedua mataku menangkap sosok ayu berkerudung biru.

“Nadia?”

“Kakak ketiduran ya? Udah Subuh belum?” tegur Nadia sambil tersenyum.

“Astaghfirullah!” aku tersentak. Aku kesiangan. Kutatap jam dinding, sudah pukul enam lewat. Segera aku beranjak mengambil wudhu dengan tergesa. Berulang kali aku menyesali diri tak sempat menyetel alarm semalam. Setelah shalat Subuh yang sangat sangat terlambat, aku mendekati Nadia. Ia sedang sibuk merapikan meja belajar. Buku-buku berantakan, kertas-kertas berserakan…rupanya semalam aku ketiduran di meja belajar.

“Nadia, kamu kapan pulang?” aku membuka percakapan dengan canggung.

“Baru aja Kak…jam setengah enam Nadia berangkat dari rumah naik motor” jawab Nadia lembut tanpa menoleh padaku. Tangannya masih sibuk membereskan.

“Nadia…ehm…aku, aku, aku…”

Bagaimana aku ini? Masak mau minta maaf saja lidahku kelu bukan main?

“Kak,” Nadia menoleh, menatapku lurus-lurus.

“Ya?”

“Nadia minta maaf ya…Nadia udah durhaka sama Kakak, Nadia kasar, Nadia banyak nuntut…maafin Nadia ya, Kak, Nadia salah. Nadia nyesel…”

Cesss. Seperti ada sesuatu yang lumer di benakku. Ada bening-bening kristal di sudut mata Nadia.

“Aku…aku juga minta maaf Nadia, aku juga salah. Kita sama-sama salah. Aku minta maaf…”

Nadia meraih tanganku, mencium punggung tanganku dengan khidmat sambil berulang kali mengucapkan maaf. Aku terharu, kuusap kepala Nadia dengan lembut.

“Kalau memang solusi itu yang terbaik buat kamu, buat kita, aku ridha Nadia…aku ikhlas” kataku tegar. Tak apa Nadia tak ada di sisiku, toh hanya untuk sementara, asal Nadia bahagia.

Nadia menggeleng, ia menatapku lekat-lekat.

“Enggak, Kak…Nadia bakal tetap di sini. Nadia mau sama Kakak aja”

“Tapi…gimana dengan…?” sanggahku. Bagaimana dengan masalah keuangan kami sehari-hari?

“Ssst! Innallaha ma’ashabiriin Kak…”

Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Jika memang semua harus dihadapi dengan kesabaran, bagaimana dengan tuntutan-tuntutan Nadia untuk hidup enak? Apakah juga harus kuhadapi saja dengan rasa sabar mentah-mentah?

Seperti bisa membaca pikiranku, Nadia menggenggam tanganku erat.

“Nadia juga akan belajar untuk lebih bersabar sama hidup kita. Nadia nggak akan nuntut macem-macem lagi…dan inget Kak, Nadia nggak pernah nyesel jadi istri Kakak”

Kali ini tak dapat kutahan-tahan lagi. Air mataku menitik, begitu tersentuh dengan kelembutan dan kasih yang tulus dari istriku.

“Iya, Nadia…Innallaha ma’ashabiriin…

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 8,21 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sarah Annisa Jahja
Mahasiswi jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Indonesia. Saat ini aktif di LDK SALAM UI sebagai Deputi Departemen Islamic Learning Center, sebagai pendidik tetap di Rumah Belajar BEM UI dan Staf Departemen Olahraga dan Seni LDF FORMASI FIB UI serta menulis cerpen di berbagai media.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Facebook.com)

Miskomunikasi Suami Istri