Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Berkontempelasi dari Bapak Tua Penjaga Masjid

Berkontempelasi dari Bapak Tua Penjaga Masjid

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Di suatu malam setelah saya hendak menyalakan motor untuk pulang setelah baru saja turun dari Masjid Syuhada Yogyakarta, seorang bapak berumur sekitar 55 tahun menghampiri saya. Nampaknya beliau adalah salah satu petugas masjid yang bertugas untuk menjaga parkir dan menjaga penitipan barang. Raut lelah nampaknya hadir di wajahnya.

Bapak : (dengan logat Jogjanya) “Plat motornya E… Dari Madiun ya mas”

Saya : “Ooh, bukan pak. Saya dari Indramayu, Jawa barat.” (mengimbangi dengan menyerupai logat Jogja)

Bapak : “Ooh, Indramayu toh, kuliah di sini mas?”

Saya : “Nggih pak, saya kuliah di sini. Di UGM.”

Bapak : “Di UGM? Alhamdulillah ya mas bisa kuliah di UGM” (Dengan muka berseri-seri)

Saya : “…..” (Terdiam sejenak, padahal ingin melanjutkan bahwa saya kuliah di Fakultas Kedokteran. Fakultas yang mungkin menjadi impian para siswa yang ingin melanjutkan kuliah

Ketika saya mengalami kisah di atas, jiwa ini seperti runtuh tertancap keniscayaan bahwa selayaknya kita patut bersyukur kepada Allah sepanjang hayat kita. Saya yang selama ini (barangkali) lupa akan nikmat-Nya yang selalu Ia berikan termasuk mata, telinga, tangan, kaki, dan anggota tubuh lain yang tak pernah saya minta menjadikan pengalaman di atas menjadi pengingat diri akan diri ini yang sepatutnya senantiasa terus menerus bersyukur kepada Allah.

Berbicara mengenai syukur maka memang sudah selayaknya kita sebagai manusia menjadikan syukur sebagai kata yang selalu lekat dalam hati kita. Rasa syukur tak akan pernah lepas akan ketauhidan kita kepada Allah. Karena bagaimanapun ketauhidan ini menjadi landasan pokok dalam keimanan kita kepada Allah yang dimanifestasikan ke dalam bentuk syukur.

Tauhidullah memiliki makna mengesakan Allah, menunggalkan Allah, dan menjadikan satu-satunya Dzat yang berhak untuk dijadikan Tuhan semesta alam.

Tauhid Rububiyyah

Artian Tauhid Rububiyyah di sini berarti menjadikan Allah sebagai satu-satunya Dzat Yang Maha Menentukan. Allah memiliki ketentuan-ketentuan-Nya yang mana ketentuannya tersebut berlaku mutlak tidak dapat dikalahkan oleh kekuatan yang lain. Ketentuan Allah dalam hal ini meliputi: (1) Allah sebagai pencipta alam semesta ini dari ketiadaan menjadi dalam wujud nyata seperti yang kita rasakan saat ini. Allah lah yang menciptakan segala sesuatu dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya; (2) Allah sebagai pemberi rezeki yang mana setiap makhluk di dunia ini sudah Allah tentukan rezeki masing-masing sesuai dengan yang tertulis dalam lawh mahfudz. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Pemberi Rezeki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh seperti tercantum dalam QS Adz Dzaariyaat: 58; (3) Allah sebagai pemilik yang memiliki segala hal dalam alam semesta ini termasuk diri dan ruh kita yang kini melekat satu sama lain. Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan (4) Allah sebagai Raja di muka bumi ini yang menguasai segala makhluk beserta dengan ketentuan-ketentuannya.

Tauhid Mulkiyyah

Ketauhidan ini dalam artian mengesakan Allah dalam hal kekuasaannya. Kekuasaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tauhid Mulkiyyah menjabarkan bahwa Allah memiliki kuasa dalam hal: (1) Sebagai pelindung di alam semesta ini. Allah yang telah menurunkan Al Qur’an dan Allah pula yang melindungi orang-orang saleh. Maka sudah selayaknya kita sebagai manusia memohon perlindungan hanya kepada Allah SWT, (2) Allah sebagai Pembuat Hukum dan menjadi Hakim bagi seluruh makhlukNya di hari pembalasan nanti, (3) Allah sebagai Dzat yang memiliki hak untuk memerintah, dan (4) Allah sebagai Dzat Yang Dituju para makhlukNya.

Tauhid Uluhiyah

Setelah tauhid rububiyyah dan mulkiyyah maka tujuan yang terakhir adalah menjadikan Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah dan menjadikannya sebagai Ilah yang abadi. Tiada lain dan tiada bukan hanya kepada Allah-lah manusia wajib menyembah.

Tauhid kita kepada Allah dan rasa syukur memang selayaknya tak dapat dipisahkan. Karena dengan kita mengesakan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang Maha Kuasa, yang mana Ia dengan mudah menghidupkan manusia semudah Ia mematikannya, maka timbul rasa syukur kita kepada Allah karena masih diberikan banyak kesempatan hingga detik ini. Begitu pula sebaliknya, dengan kita banyak bersyukur akan nikmat yang terus diberikannya maka kita akan selalu ingat bahwa memang Allah lah satu-satunya Dzat yang patut disembah.

Saya : “…, Iya pak Alhamdulillah.”

“Minta doanya ya Pak”.

Bapak : “Loh kok minta ke saya? Minta ke Gusti Allah”

Saya : “Hehe, minta doa Bapak ke Gusti Allah supaya saya bisa sukses. Biasanya doa orang tua diijabah sama Allah”

Bapak : (tersenyum) “Nggih, nggiih…”

Saya : “Saya pamit dulu ya pak” (siap-siap menyalakan motor)

Bapak : “Kos di mana mas?”

Saya : “Di Jalan Kaliurang pak, kilometer 8 belakang PLN”

Bapak : “Ooh, lumayan jauh juga ya.”

Saya : “Iya pak, hehe.. Ya sudah pak, saya mohon pamit. Assalamu’alaikum…”

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Albistamy Mosadi Putra
Mahasiswa kedokteran yang sedang menggiati akademiknya dan tertarik dalam menekuni ilmu agama. Aktif berorganisasi salah satunya kini sebagai Ketua di Lembaga Dakwah Fakultas KaLAM FK UGM 1434 H dan juga sebagai seorang santri di Asrama Mahasiswa PPSDMS Yogyakarta Putra.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Aki Awan)

Kelu Lidah di Lelantai Haramain