Home / Narasi Islam / Sosial / Percaya Tidak Percaya

Percaya Tidak Percaya

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

akwatuna.com – Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Al Hujurat: 6)

Setiap hari Kita menonton berita melalui TV, mendengarkan radio, membuka internet, atau membaca koran. Berbagai informasi masuk ke dalam pikiran pembaca berita. Bagaikan air bah yang datang dari berbagai arah sehingga informasi meluap datang dan pergi seolah-olah tak ada lagi yang tersisa di dalam benak kecuali dampak-dampak buruknya. Celakanya, media massa sekarang berpedoman pada istilah “Bed news are the good news” (berita jelek adalah berita yang bagus). Ini menjadikan media massa dibanjiri dengan cerita tentang “kejelekan”, “kejahatan”, “gossip”, “isapan jempol”, “sisi negatif”, hal-hal yang merangsang nafsu syahwat, dan sebagainya…. Manusia secara umum memang lemah dan mempunyai kecenderungan kepada syahwat dan hawa nafsu sehingga dengan mudah mereka terseret dalam arus yang menyesatkan dan membelokkan pikiran lurusnya…

Kewajiban Memilah dan Memilih

Seorang yang berpikir matang dan dewasa, tentu mempunyai ukuran dan kriteria dalam menerima informasi yang diperolehnya dari media. Dia dapat memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah… Dia tidak harus percaya pada setiap info, sebelum dipikirkan atau ditelaah sumbernya. Setiap berita mengandung kebohongan, dan tidak mustahil ada unsur rekayasa atau maksud-maksud tertentu dalam membangun opini atau mengarahkan pemikiran publik…. Bahkan tidak jarang rekayasa berita dilakukan oleh penguasa yang ingin mengalihkan pandangan publik terhadap suatu peristiwa sehingga menutup-nutupi kezhaliman dan kelemahan kepemimpinan mereka. Atau sebaliknya pihak-pihak tertentu ingin menjelek-jelekkan citra pemimpin mereka karena target-target politik di Pemilu mendatang. Ada pula berita yang terang-terangan ingin membunuh karakter pihak-pihak yang dianggap lawan politik penguasa. Kesemuanya dibungkus dengan sangat rapi dengan kata-kata, ucapan atau tulisan yang mengesankan, bahkan dibuat seolah-olah sesuatu yang benar.

Kaum muslimin ataupun seorang muslim hendaknya hati-hati dalam memutuskan sikap dan pandangannya. Sebab, jika dia mengambil sikap berdasarkan informasi yang keliru atau salah, pastilah sikapnya itu akan salah pula. Boleh jadi sikap dan tindakan yang keliru membawa bencana bagi orang lain, memecah belah rumahtangga, merugikan bagi masyarakat, bahkan bangsa dan negara…… Perhatikan ayat di bawah ini,

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Al Hujurat: 6)

Allah Azza wa Jalla menghendaki agar Umat ini bersikap teliti dalam berbagai keadaan. Tidak mudah diprovokasi bahkan tidak gampang diarahkan pada suatu opini tertentu yang dibuat orang-orang tertentu (fasiqiin). Pasalnya, memandang sesuatu secara keliru kepada saudara sesama muslim dapat membahayakan diri Kita… Allah telah memberi peringatan.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Alhujurat: 12)

Kabar bohong dan palsu dapat menimbulkan sangka buruk terhadap sesama muslim. Kabar yang datang dari orang yang tidak layak dipercaya dapat menyesatkan.

Pada masa Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam pernah beredar berita bohong (haditsul ifki) yang menyangkut kehormatan istri Baginda Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam yaitu Siti Aisyah Radliyallahu Anha. Siti Aisyah difitnah telah berselingkuh dengan sahabat Nabi bernama Sofwan Radliyallahu Anhu hanya karena Beliau (Aisyah) ketinggalan rombongan kemudian diantarkan oleh sahabat ini menyusul rombongan Nabi. Berita fitnah dari dahulu hingga kini menyebar dengan mudah, bagaikan api memakan rumput kering… Sumber berita ini tidak lain dari seorang munafik bernama Abdullah bin Ubay. Di dalam Al-Quran surat An Nur, Allah mengisahkan ini untuk menjadi pelajaran bagi kaum muslimin. Allah memberikan bimbingan kepada umat Muhammad bahwa dibalik kisah bohong itu juga terdapat hal positif bagi orang-orang yang mau berpikir dan menelaah secara jernih apa yang ada di balik setiap peristiwa dan berita.

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. (Annuur: 11-12)

Dalam peristiwa haditsul ifki ini, pembawa berita bohong berasal dari dalam barisan Umat Islam sendiri, dengan maksud untuk menimbulkan fitnah dan kegundahan di tengah kaum muslimin. Namun jika disikapi dengan benar tidak akan membawa kerusakan bagi kesatuan umat, malahan dapat membuat mereka lebih solid… Selanjutnya, yang menyebarkan berita bohong akan mendapat adzab di sisi Allah.

Kaum muslimin wajib bersangka baik terhadap saudaranya. Mereka tidak boleh mudah menerima berita fitnah apalagi terhadap orang yang selama ini dikenal baik dan bermartabat oleh mereka.. Jika ingin membuktikan suatu kesalahan diperlukan saksi yang dapat dipercaya, bukan hanya menyebar-nyebar berita yang kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sementara itu setiap muslim diwajibkan namun mendahulukan sangka baik pada sesama mereka apalagi kepada para pemimpin mereka.

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”. Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (an Nuur13-12)

Para Penyiar Berita, Berhati-hatilah!!!

Dalam berkomunikasi, Islam mendidik umatnya agar berhati-hati, tidak menyiarkan berita bohong, kisah rekayasa, atau pun cerita-cerita tidak berguna di tengah masyarakat, karena segala yang keluar dari mulut Kita akan dimintai pertanggungjawabannya… Islam memandang penting individu yang menyampaikan berita diteliti… sehingga pastilah bahwa yang didengar itu dapat dipertanggungjawabkan. Ingatlah bahwa Allah Maha mengetahui dan mengawasi apa yang Kita ucapkan. Maksud dan tujuan Kita menyatakan sesuatu dengan lisan yang ada dalam hati Kita sekali pun pasti diketahui Allah,

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaf: 16-18)

Jika Anda berprofesi sebagai wartawan, penyebar berita, atau pembawa berita dan mereka yang menunjang profesi ini maka berhati-hatilah. Setiap kata dan kalimat manusia itu diperhitungkan oleh Allah Azza wa jalla. Karenanya mereka harus hati-hati dari melakukan dusta atau kata-kata yang provokatif yang boleh jadi menyulut pertentangan dan perseteruan keluarga sehingga terjadilah permusuhan dan pertikaian … Para penyebar berita hendaknya sadar bahwa setiap ucapan dan tulisan akan mendapat nilai… Pepatah orangtua-tua kita dahulu sungguh tepat, “Mulutmu harimaumu”, atau “Karena mulut badan binasa”. Para pengadu domba itu tempatnya di neraka. Syaitan memanfaatkan kelemahan manusia melalui ucapan-ucapan yang keluar dari mulut mereka. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Al Israa; 53)

Lidah dan tulisan para penyampai berita dimanfaatkan syaitan untuk kepentingan merusak manusia… Boleh jadi apa yang Anda ucapkan, tulis atau laporkan membawa fitnah yang membahayakan seseorang, satu keluarga atau satu kaum… Bisa jadi apa yang Anda tulis atau ucapkan menyesatkan manusia dari jalan Allah atau menghalang-halangi manusia memperoleh hidayah Allah… Anda pasti ikut andil dalam kerusakan hubungan tersebut yang mengakibatkan Anda akan menerima murka Allah Azza wa Jalla. Dosa dan kesalahan manusia yang terbanyak menyeret mereka berasal dari lidah, ucapan atau tulisannya… Sungguh benar pernyataan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam, “Aktsaru khotoya ibni aadama min lisaanihi” (Kebanyakan dosa Bani Adam berasal dari lidahnya. HR. At-Thabrani dan Al Bayhaqi).

Kebijakan Sang Pemimpin

Menurut DR Ramadhan Al Buthi penulis buku “As Sierotun Nabawiyah”, metode Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam menghadapi dan mengatasi persoalan “haditsul ifki” (berita bohong) yang dieksploitasi oleh Abdullah bin Ubay bin Salul menunjukkan sejauh mana kecerdasan dan kepintaran yang dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Beliau. Dalam mengatasi masalah, membina masyarakat, dan menyelesaikan problematika mereka, Nabi Muhammad menjadi teladan Kita semua.

Ucapan yang didengar oleh Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam dari mulut Abdullah bin Ubay secara langsung mestinya sudah cukup menjadi alasan untuk membunuhnya. Tetapi Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam menghadapi masalah tersebut dengan lapang dada. Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam telah mendengar semua fitnah yang disebarluaskan dan akibat yang telah terjadi. Bahkan di antara pasukan perang itu terdapat sejumlah besar kaum Munafiqin yang sejak lama mencari-cari kesempatan seperti ini untuk menjatuhkan martabat beliau, tetapi Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam tidak menghadapinya dengan emosi atau kemarahan. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam menghadapinya dengan penuh kebijaksanaan. Beliau memerintahkan kaum muslimin terus bekerja, Beliau memberangkatkan pasukan di luar waktu yang sudah menjadi kebiasaan mereka, agar mereka tidak memiliki kesempatan untuk membicarakan masalah yang ada. Mereka terus berjalan, selama sehari semalam, sehingga kaum Munafiqin tidak mendapatkan kesempatan untuk menyebar kebatilan di tengah kaum Muslimin. Sampai ketika mereka terduduk di tanah karena keletihan mereka tidak sempat membicarakan karena langsung tertidur pulas.

Sesampainya di Madinah orang-orang pun menunggu-nunggu tindakan keras yang akan dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam kepada kaum Munafiqin. Mereka tidak menyaksikan lagi bahwa tindakan yang akan diambil ialah dengan membunuh Abdullah bin Ubay bin Salul. Oleh karena itu, anaknya sendiri yaitu Abdulah (RA) bin Abdullah bin Ubay datang kepada Nabi menawarkan diri untuk bertindak melaksanakan eksekusi hukuman mati terhadap ayahnya, apabila Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam menghendaki hukuman itu. Tetapi ia dikejutkan oleh jawaban dan sikap Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, “Bahkan kita akan bertindak lemah lembut dan berlaku baik kepadanya, selama ia masih tinggal bersama kita.”

Perhatikan alasan tindakan ini sebagaimana dikemukakan Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam kepada Umar, “Bagaimana wahai Umar, jika orang-orang berbicara bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya (sendiri).“

Tindakan bijaksana yang dilakukan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam ini mengakibatkan Abdullah bin Ubay selalu dikecam dan ditentang oleh kaumnya sendiri, setiap kali dia berbicara tentang sesuatu. Selain itu, Anda tentunya mengetahui bahwa orang munafiq dianggap sama dengan orang Muslim dalam hukum peradilan di dunia ini, kendatipun kita diharuskan tetap waspada dan hati-hati terhadapnya.

Nabi dan para sahabatnya Radliyallahu Anhum adalah manusia yang tidak lepas dari upaya fitnah dan rekayasa yang dilakukan oleh musuh-musuhnya. Nabi memberi contoh dan teladan kepada Kaum Muslimin khususnya para pemimpin mereka agar bersabar dan berlapang dada menghadapi persoalan fitnah seperti itu. Sebab akibat dari fitnah itu akan kembali kepada sumber pertamanya dan mereka yang menyebarkannya akan mendapat adzab Allah.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Aus Hidayat Nur
Dilahirkan di Garut pada Juli 1961, aktif dalam kegiatan dakwah dan tulis-menulis sejak SMU dan Mahasiswa di Univ. Indonesia.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Survei APJII: Jumlah Pengguna Internet Indonesia 2016 Telah Melewati 50% Populasi Penduduk

Organization