Home / Pemuda / Cerpen / Setitik Cahaya Di Abu-Abu

Setitik Cahaya Di Abu-Abu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

(Kisah Maret 2004)

Ilustrasi (flickr.com/aremac)
Ilustrasi (flickr.com/aremac)

dakwatuna.com – Jam berputar dengan cepatnya, Mentari pun kian panas. Wijay segera menyiapkan segala keperluan sekolahnya secepat kilat. Beruntung kerudung Wijay praktis hanya tinggal dipasang di kepala dan di ikat. Selesai. Wijay begitu semangat melangkah menuju stasiun kereta api Bojonggede. Beruntung kereta tujuan Jakarta belum datang, tak berapa lama kereta datang dan segera membawa Wijay ke stasiun Depok lama. Wijay menyusuri jalan Dewi Sartika lalu ke jalan pemuda dan terakhir di jalan kenanga, Nah di situlah letak sekolah Wijay.

Wijay mencoba memasuki lorong kelas menuju kantin, tempat di mana Wijay, Debora, Devi dan Wenny biasa ngumpul. “Wijay… woi. Uda ngerjain PR belum? Matematika?” Tanya Wenny seraya mengunyah bakwan yang masih panas. Wijay yang ditanya narik nafas dan mengipaskan kerudungnya agar ada angin yang di hasilkan. “Udah, baru sedikit”. Dari kejauhan muncul sosok Devi yang berbadan agak gemuk dan berteriak: “Eh… Uda pada dateng? Kirain Devi yang pertama ternyata ada Wijay dan Wenny, heheh” “Iya dong… kita kan anak rajin, hahah” Ujar Wijay.

Oia si Debora, tadi nelpon Devi, katanya dia mau ngerayain Ulang tahun yang ke tujuh belas di rumahnya” Ujar Devi seraya nyeruput es milik Wenny. “Iya? Trus kita di undang?” Tanya Wenny dan Wijay serempak. “Ya pastilah, secara kita kan satu geng. Masa ngga di undang. Orang sekelas diundang kok! Dan kita menjadi tamu kehormatannya hehe”. Acaranya kapan? “ Selidik Wenny. “Iya kapan?” Wijay menambahkan. “Katanya sie, malam minggu jam 6 sore. Di rumahnya di jalan Nangka gang cempedak, rumahnya bapak …” Devi berusaha menjelaskan dengan sedetail mungkin. Namun diprotes Wenny dan Wijay. Persahabatan mereka memang sangat erat bahkan sudah saling tahu tentang nama orang tua masing-masing walau jarang berkunjung ke rumah.

“Ya elah… Komplit amat kita juga tau rumahnya Debora, bapaknya Debora…” Wenny memajukan mulutnya kearah Devi. Dengan lepas mereka tertawa dan saling bercanda. Sejak kelas 1 mereka selalu duduk bersama berpasang pasangan. Kalau Wenny berpasangan dengan Devi yang sama-sama gemuk dan agak pendek, sedangkan Wijay berpasangan dengan Debora, yang sama-sama Tinggi dan kurus.

Mereka berempat adalah sahabat sejati dalam sekolah, yang tidak bisa dipisahkan, di mana ada yang satu pasti ada yang lain. Geng mereka di sekolah adalah geng yang dihormati. Paling kompak, bagai pelangi yang indah. Geng yang terkenal pintar, jail, ramai dan lucu dan suka iseng sama orang. Kesetiaan adalah segalanya. Tak lama Debora dateng, dan di sambut ketiga sahabatnya. “Debora……kebiasaan selalu karet kalau janjian!!!” Seru Devi, Wenny dan Wijay kompak. Debora yang ditegur hanya senyum senyum seraya memberikan tangannya yang diciumkan ke tangan dan menyebar ke hadapan sahabatnya, bak selebritis kesiangan.

***

 Kado di meja belajar Wijay sudah siap untuk sahabat yang sangat dicintai yaitu Debora, namun entah mengapa seakan ada yang menghalangi hati Wijay untuk hadir ke pesta Debora. Rasanya ada bimbang yang menyerang di rongga hati, seakan ada bisikan halus yang mengatakan: “Jangan. Jangan pergi ke Pesta Debora, Acaranya bertepatan dengan azan Maghrib, dan kamu pakai kerudung. Jangan… jangan pergi”. Bisikan itu begitu kuat.

Namun segera Wijay tepis dan membantahnya: “Ngga mungkin aku ngga dateng, dia kan sahabat terbaik aku, teman yang selalu jadi teman dudukku. Sahabat setia aku, Nanti kalau aku ngga dateng pasti Debora, Wenny, dan Devi marah lagi.”. Bisik hati Wijay.

Akhirnya Wijay melangkah juga dengan kaos lengan pendek yang sedikit ketat berwarna putih, dengan menggunakan Jacket pink dan tentu saja dengan kerudung gaulnya. Sepanjang perjalanan bayangan pesta Debora yang membuat batinnya bimbang, dan pada sisi yang lain seakan ada yang Wijay bohongi.

Entah batinnyakah yang Wijay bohongi, ataukah Ibu yang selama ini selalu mawas perihal shalatnya Wijay, ataukah doktrin Dari Kakak Wijay tentang kewajiban menutup aurat dengan sempurna yang wajib bagi setiap wanita yang sudah baligh. Bagi Ibu dan kakak Wijay, ia adalah anak yang baik di rumah. Taat pada Pesan mereka. Namun saat Wijay bersama teman sekolahnya, dan khususnya sama Genk nya. Wijay lupa sama semua titah itu.

***

 Tak berapa jauh dari rumah Debora, teman-teman sudah berkumpul semua riuh ramai di pinggir jalan tempat janjian. “Wijay  … kamu pake kerudung ke rumah Debora?”. Tanya Devi. “Iya nih Vie, bingung.”. Pergolakan batin mulai terjadi Wijay seakan gelap dalam menentukan pilihan, kecintaan Wijay sama Debora, dan penghormatan Wijay sama orangtua Debora, Mampu membuat cahaya dalam hati Wijay padam. “Devi… Kayaknya aku buka kerudung aja deh, ngga enak ah, diakan orang Kristen, nanti aku disebut teroris lagi”. Devi hanya diam tak ada komentar dan hanya menatap Wijay yang membuka jaket ping, dan kerudungnya, lalu memasukannya ke dalam tas.

Setengah jam berlalu, sayup sayup terdengar suara Azan dari masjid dekat rumah Debora, dan berbarengan dengan azan acara dimulai dan saat itu serempak Wijay dan teman temannya kompak menyanyikan lagu selamat ulang tahun, tiup lilin sambil tepuk tangan dan tertawa penuh gembira. Tapi Wijay melirik ke setiap sudut ruangan rumah Debora, di sana ada patung Jesus disalib, dan lukisan jamuan kudus dan, lukisan Jesus yang berdarah sambil ada sebilah cahaya. Ada batin yang terluka dan kalah di sana. Batin yang terkapar dan tak berdaya. Ada cahaya yang hilang oleh abu-abu aqidah. Pergolakan batin yang cukup mendidih bagi seorang remaja seperti Wijay.

Jika ibu tahu aku ngga shalat Maghrib, dan malah tepuk tangan dengan nyanyian. Apakah ibu akan marah? Atau jika mba Nur tahu bahwa adiknya yang selama ini didoktrin tentang jilbab, kini buka kerudung di sini? Di rumah Debora. Aku hanya menemukan Tuhan Jesus, bukan Allah. Kenapa Allah tak berwujud seperti Jesus?”. Bisikan itu hadir kembali mengusik suasana hati Wijay dalam pesta. Wijay tak tahu pasti atas jawabannya. Bagi Wijay masa remaja seperti dia bukanlah saatnya memikirkan hal berat seperti itu.

***

 Suasana kelas ramai sekali, tapi ini berbeda, ini karena ulah si Desny. Desny memang senang mencari sensasi di sekolah. Sampai bisa dikatakan Desny tak punya banyak teman karena sensasi yang dihadirkan, bahkan Geng Wijay cs tak ingin menjadikan Desny teman. Untuk saat ini Desny berulah dengan menggunakan kalung salib dan membawa injil ke dalam kelas, padahal sudah jelas dia berkerudung. Kalau ulah Desny selama ini adalah dilatarbelakangi oleh masalah keluarga. Desny punya Ibu tiri yang agak Judes menurutnya.

Jadi Desny selalu mencari perhatian dari lingkungan sekolah. Dan kini Desny sedang mendapatkan sebuah perhatian dan cinta dari seorang Aktivis gereja yang cerdas dan ganteng, siapa yang tak tergila gila. Nama pemuda itu adalah Lukas, yang ternyata sahabat Debora, ia juga sempat mengenalkan Lukas pada teman sekolahnya sewaktu ulang tahunnya. Seketika perasaan Wijay hancur dan runtuh, melihat Desny yang berceramah menceritakan isi injil kepada teman sekelas dan Wijay tak bisa membantahnya sedikit pun.

Hati Wijay ingin nangis melihat Desny yang haus kasih sayang tapi malah dijauhi oleh teman temannya. Wijay seakan merasa bersalah. Di sisi yang lain bimbang dan keraguan pada Allah menyerang rongga hati. Wijay merasa selama ini dirinya tak mengenal Allah. Tak pernah berinteraksi dengan Allah dengan baik, Entah berapa banyak shalat Zhuhur dan Ashar yang terlewati tanpa sebab dan dengan sengaja demi menemani Debora di waktu istirahat, bahkan Wijay ingat interaksinya dengan Al-Quran terakhir saat di bangku SMP.

Dan persis di samping sekolah sebuah gereja yang indah, tempat di mana terkadang Wijay dan teman temannya duduk menunggu gerbang sekolah dibuka, menyaksikan pernikahan, kematian dan pujian yang Wijay sangat hafal: “Yesus tangan kananku dan Injil di tangan kiriku…puji Tuhan haleluya…”. Iya Wijay sangat hafal cara sembahyangnya. Tangan kanan kearah dada kiri, lalu ke dada arah kanan, lalu kearah bagian kening dan kembali ke dada. Terdengar sebuah bisikan halus dalam hati Wijay: “Sebenernya Tuhan aku siapa?? Siapa? Allah Atau Jesus?”Bisik hatinya lirih.

Wijay segera pergi ke mushalla sekolah, tak peduli dengan kericuhan Desny. Yang ingin Wijay lakukan adalah mencari Tuhan yang hilang di dalam hatinya. “Aku harus buktikan bahwa Allah itu Tuhanku, bukan Jesus. Aku harus shalat segera meski aku malu telah meninggalkan Allah cukup jauh meski temanku akan meledek aku yang mendadak alim”.

***

 Kini sekolah kembali bergelora Ibu tiri Desny datang dengan menangis, ia menceritakan Desny pergi dari rumah sejak dua hari lalu, katanya sebelum pergi Desny bilang sama ibu tirinya seperti ini: “Ibu…Besok Desny mau di baptis bertepatan hari paskah, jadi Ibu ngga perlu cari aku lagi”. Kalimat Desny yang tegas dan berlalu pergi bayangannya membuat Ibunya kebingungan. Dan sampai saat ini Desny belum pulang.

Wijay yang mendengar kejadian itu mendiskusikan pada Devi dan Wenny, kecuali Debora. “Kayaknya aku curiga deh...” Bisik Wenny. Wijay dan Devi segera melirik ke wajah Wenny. Mereka mengangguk seakan sepakat dengan isi pikiran masing-masing. : “Pasti ada kaitannya sama Debora dan Lukas” tebak Wijay. “Betul.” Wenny dan Devi serempak.

Sepulang sekolah mereka bertiga meluncur ke rumah Lukas di dekat jalan Dewi Sartika Depok. Mereka mengintai seperti detektif Conan, mindik pelan memastikan keadaan aman, terkadang bersembunyi di balik becak, terkadang masuk ke dalam warung bakso, bersembunyi di dalam telepon umum. Semua orang yang melihat aksi tiga sekawan itu bingung.

Dan betapa terkejutnya mereka dari belakang ada seorang yang menegur: “Hey… kalian ngapain di sini?”. Sontak saja mereka kaget bukan kepalang dengan wajah merah dan gemetar, mereka segera membalikkan badan kearah orang yang menepuk badannya. “Ibu….. Ngagetin aja” Jawab mereka kompak. Mereka segera menarik nafas lega karena orang tersebut adalah wali kelasnya, Wenny yang ahli berdiplomasi menceritakan perihal kejadian Desny. Akhirnya Ibu Sri, yang menjadi wali kelasnya itu mengantar mereka ke rumah Lukas untuk konfirmasi keadaan Desny.

Sesampainya di rumah Lukas Ibu Sri berdiplomasi, ternyata Lukas merasa mendapat tekanan dari Ibu Sri dan Wenny Cs. Dan Lukas bercerita: “Tadinya Desny mau tidur di sini, tapi tidak jadi, sekarang Desny ada di rumah Debora, dan nginep di gereja”. Semua kaget, dan Wenny Cs merasa dibohongi sama Debora.

***

 Wenny yang sebagai ketua Geng begitu gemas dengan Debora, Segera Wenyi menyusun rencana bersama Wijay dan Devi. Debora di bawa ke toilet dan di interogasi oleh mereka bertiga. Debora menangis sambil jongkok, Debora mengakui bahwa selama ini dia yang menampung Desny, memberikan doktrin pada Desny, memberikan injil dan kalung salib pada Desny. Terasa sesak dada Wijay mendengarnya.

Debora yang selama ini disayang, di cintai dan menjadi pasangannya dalam duduk, ternyata membohonginya. Wenny dan Devi yang mendengar itu segera pergi dan meninggalkan Debora yang sesegukan menangis di pojok toilet. Batin Wijay seakan masih perih dengan apa yang terjadi, Namun di sisi lain Wijay sayang sama Debora. Wijay mengulurkan tangannya kearah Debora dan mengajak Debora berdiri.

***

 Beberapa hari berlalu Desny dikembalikan dari persembunyiannya di rumah Debora, dan segera di kirim ke pondok pesantren oleh Ayahnya, kami sekelas tak sempat mengucapkan kalimat perpisahan. Bahkan meminta maaf atas segala sikap. Wijay menunduk penuh sesal karena selama ini tak pernah bisa damai dengan Desny, Wijay melangkah menuju mushalla dengan sembunyi sembunyi.

Mulai saat ini aku tak akan meninggalkan shalat, meski tak ada seorang pun dari temanku shalat, aku akan shalat. Dan aku berjanji aku tak akan menanggalkan Jilbab ini lagi. Tak ingin. Demi Allah cahaya yang ku temukan di tengah abu abunya aqidah tak akan aku lepas dengan mudah, meski aku malu untuk memulai mendekatiMU ya Allah. Malu memulai shalat, aku tak ingin cahaya ini redup lagi bahkan padam, aku tak peduli dengan Temanku yang akan mengejek…” Bisik Wijay.

Wijay. Shalat? Tumben? Sejak kapan?” Kok ngga ngajak ngajak”. Ujar Wenny mengagetkan dari balik Pintu mushalla. Bahkan ada lagi yang berkomentar dari mulut iseng: “Tumben shalat…tobat lue.”. “Wijay  … kok jilbab lue kaya gini gede, kita ngga bisa pulang bareng lagi dong?” Ujar Dadan yang biasa pulang bareng naik kereta sama Wijay. Wijay hanya tersenyum menanggapi komentar itu. Tak peduli dengan orang lain.

***

 Wijay begitu menikmati Cahaya yang hadir dalam hatinya, yang bersinar dan menghangatkan kehidupannya. Cahaya yang membuat ia tulus berjilbab, bukan karena doktrin Mba Nur terhadapnya. Dan Wijay begitu senang di usianya yang genap tujuh belas tahun ia menemukan jati diri dan Allah sebagai Tuhannya. Tak ada lagi shalat yang bolong dan terlewati.

Angin bertiup kencang mengayunkan Jilbab dan membuat Wijay buyar dari lamunan. Dari balik mushalla ada sosok jilbaber yang sudah menanti Wijay untuk Liqa. Beliau adalah Ibu April Tri rahayu, guru biologi Wijay. Wijay pun menyetorkan satu ayat hafalannya: “Wahai orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu mengikuti langkah syetan. Sungguh syetan adalah musuh yang nyata bagimu. Al Baqarah 208”. Ibu April mengangguk menatap Wijay penuh senyum dan Cinta. “Kini setitik cahaya di seragam abuabu akan menjadi awal cahaya kehidupanku yang lebih indah, dan tak akan ada lagi aqidah yang abuabu di hatiku. Karena aqidahku telah tertanam dengan Islam yang dalam dan menjadi akar dalam kehidupan”. 

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Guru TKIT As Sallam Bojong Gede, Bogor. Guru TPA Ar Risalah, Bogor.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Syaeful Bahri)

Perlukah Orang Tua Mengantar ke Sekolah?