Home / Narasi Islam / Sosial / Begitu Sulitkah Mencinta?

Begitu Sulitkah Mencinta?

Love, Cinta, Valentinedakwatuna.com – Begitu mahalnya cinta dalam hidup kita, sehingga lebih suka kita mencaci maki dan menertawakan penderitaan orang lain? Dibanding menikmati irama syahdu cinta dan kasih sayang sesama manusia, yang telah dianugerahkan Tuhan sebagai keistimewaan dan keutamaan manusia dibanding makhluk lainnya.

Tapi memang tidak mengherankan. Bang Erich Fromm menyatakan, sebagian dari kita sesungguhnya tengah terperangkap dalam pasungan zaman modern. Kita tengah tidak mampu menjawab problem keterasingan atau teralienasi. Cinta itu seperti seni, dia harus dirawat dan diperjuangkan. Jika tidak ada perawatan dan perjuangan, cinta tidak akan bisa langgeng.

Dalam buku The Art Of Loving, bang Fromm menjelaskan bahwa kebutuhan manusia yang paling dalam adalah kebutuhan untuk mengatasi keterpisahannya dan meninggalkan penjara kesendiriannya. Kegagalan untuk mengatasi keterpisahan ini yang akan menyebabkan gangguan kejiwaan. Membuat orang lebih suka mencaci maki dan membunuh secara keji, lebih suka mencari kesalahan dan kelemahan orang lain.

Abang kita yang ahli psikoanalisis ini juga mengatakan bahwa cinta tidak pasif, tapi harus aktif. Jika kita berharap untuk menerima cinta, maka kita terlebih dulu harus memberi cinta. Inti cinta adalah memberi, bukan menerima.  Memberikan apa yang dimiliki untuk kebahagiaan orang yang dicintai. Makna ini yang sering disalahpahami sebagai “kehilangan”. Menurut bang Fromm ini tidak benar karena cinta tidak terbatas pada memberi secara materi. Aspek penting dari memberi justru memberikan jiwa, suka dan duka, minat dan pengetahuan, pemahaman dan perhatian kita kepada orang yang dicintai.

Selain itu, memberikan diri untuk cinta bukan berarti mengorbankan kemerdekaan kita sebagai individu. Saat seseorang memberi untuk cinta, yang hilang dari dirinya hanyalah keegoisan.  Mencintai adalah tindakan memberi  yang justru memperkaya diri karena dapat menumbuhkan  rasa  percaya diri, yang memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada orang lain.

Empat Unsur Cinta

Cinta bukanlah unsur tunggal, namun tersusun dari berbagai komponen dasar yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Unsur-unsur dasar cinta, menurut bang Fromm adalah:

1. Perhatian (Care)

Tidaklah engkau dikatakan mencinta, jika engkau tidak memiliki perhatian terhadap apa yang engkau cintai. Cinta adalah perhatian aktif pada kehidupan dan pertumbuhan dari apa yang kita cintai. Hal ini terlihat jelas dari perhatian tulus seorang ibu kepada anaknya, atau perhatian penuh terhadap kekasih hati dari dua orang yang saling mencinta.

2. Tanggungjawab (Responsibility)

Bagaimana engkau mengatakan cinta, jika tidak memiliki rasa tanggung jawab? Justru karena engkau mencintai Indonesia, maka engkau memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Karena engkau mencintai kekasih hatimu, maka engkau sangat bertanggung jawab atas keselamatan dan kebahagiaan dirinya. Tanggung jawab dalam arti sesungguhnya adalah suatu tindakan yang sepenuhnya bersifat sukarela. Bertanggung jawab berarti mampu dan siap menanggapi.

3. Rasa Hormat (Respect)

Saat engkau memiliki respect maka saat itulah engkau telah memiliki rasa cinta. Hormat bukan merupakan perasaan takut dan terpaksa. Rasa hormat merupakan kemampuan untuk melihat seseorang sebagaimana adanya, menyadari individualitasnya yang unik. Rasa hormat berarti kepedulian bahwa seseorang harus tumbuh dan berkembang sebagaimana adanya.

4. Pengetahuan (Knowledge)

Cinta itu “ilmiah”, ada unsur ilmu dan pengetahuan yang menyertainya. Cinta tidak membabi buta. Mem-babi saja sudah jelek, apalagi buta, tentu tambah jelek lagi. Seperti apa babi yang buta. Cinta memerlukan pengetahuan yang tidak bersifat eksternal, tetapi menembus hingga ke intinya.

Perhatian, tanggungjawab, rasa hormat dan pengetahuan mempunyai keterkaitan satu sama lain. Semuanya merupakan sindrom sikap yang terdapat dalam pribadi yang dewasa, yaitu dalam pribadi yang mengembangkan potensi dirinya secara produktif.

Nikmati Irama Cinta

Miliki cinta dalam dirimu, untuk kekasihmu, untuk keluargamu, untuk tetanggamu, untuk masyarakat di sekitarmu, untuk bangsa dan negaramu. Cinta itu menghanyutkanmu, pada dasar kesadaran yang utuh. Engkau menjadi bermakna dan berharga karenanya. Engkau menjadi bermanfaat dan hebat karenanya.

“Pendekatan cinta adalah kebalikan dari pendekatan dengan kekerasan. Cinta berusaha memahami, menguatkan dan menghidupkan. Dengan cinta, seorang individu akan selalu mentransformasikan dirinya. Dia menjadi akan lebih menghargai, lebih produktif, lebih menjadi dirinya sendiri. Cinta tidak sentimental dan tidak melemahkan”.

“Cinta adalah cara untuk mempengaruhi dan merubah sesuatu tanpa menimbulkan efek samping sebagaimana kekerasan. Tidak seperti kekerasan, cinta membutuhkan kesabaran, usaha dari dalam. Lebih dari semua itu, cinta membutuhkan keteguhan hati untuk terhindar dari frustasi, untuk tetap sabar meskipun menemui banyak hambatan. Cinta lebih membutuhkan kekuatan dari dalam, kepercayaan daripada sekadar kekuatan fisik”.

Nikmati saja iramanya. Diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, bangsa kita, negara kita tengah memerlukan banyak cinta.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 5,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Cahyadi Takariawan
Senior Editor diPT Era Intermedia, Pembina diHarum Foundation, DirekturJogja family Center, Staf AhliLembaga Psikologi Terapan Cahaya Umat. AlumniFakultas FarmasiUniversitas Gadjah Mada (UGM).

Lihat Juga

Love, Cinta, Valentine

Cinta Sebagai Energi Kemenangan