Home / Pemuda / Cerpen / Happy Birthday

Happy Birthday

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Uh, Bete! Sebel! Keki!

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Itulah yang Putri rasakan setiap kali menjelang hari kelahirannya. Bagaimana tidak, sudah enam belas tahun ia berada di muka bumi, satu kali pun ia tak pernah merayakan ulang tahun bersama kakak lelakinya.

Tidak pernah merasakan satu kali pun pesta ulang tahun yang indah dengan anggota keluarga yang lengkap, di mana ada kue tart putih tingkat tiga di sana, lilinnya berbentuk boneka Barbie, di atas kue tart tersebut banyak dihiasi mainan dan coklat.

Ruangan di hiasi balon-balon yang memiliki warna banyak rupa. Ada warna merah, jingga, hijau, biru, nila dan ungu. Tak lupa diberi pita agar tampak lebih manis dilihat. Semuanya serba merah muda.

Riuh semua bersorak bahagia menyambut ulang tahun Putri. Ada Mama, Papa, dan Mas Rangga. Diiringi lagu hapyy birthday to you yang mengalun indah. Di atas meja tampak tumpukan kado dengan bungkus macam-macam dan lucu. Menggunung karena sangat banyak jumlahnya.

Kemudian Putri sendiri berdiri umpama putri raja yang cantik jelita seperti di dongeng-dongeng, memakai sepatu kaca dengan gaun berwarna merah muda, dihiasi pita dan mahkota di kepala. Tapi kan Putri berjilbab? Ah, baiklah, mahkotanya diletakkan di atas jilbab saja. Jangan lupa, jilbabnya pun harus berwarna merah muda. Duhai anggunnya!

Sebeeeel…!” Gerutu Putri tiba-tiba.

Lamunan Putri buyar tak karuan. Sebab, semua itu hanyalah khayalan. Ia tak pernah merayakan hari bahagianya itu dengan anggota keluarga yang lengkap seperti kawan-kawannya. Di mana selalu mendapatkan hadiah dan kejutan juga dari kakak lelaki mereka. Jangankan merayakan, ucapan selamat ulang tahun pun belum pernah terlontar dari lisan Mas Rangga.

Dahulu Putri tak pernah protes, ia terima saja, tapi lama-lama kok Putri sebel juga, ya? Apalagi kalau sedang berkumpul bersama teman-teman di sekolah.

“Wuahahahaha……”

Semua tertawa terbahak. “Kamu enggak pernah dapet hadiah dari, Mas Rangga, Put?”

“Kakakmu itu lahir pas zaman perang ya, Put? Jadi enggak kenal ulang tahun, deh!” Pertanyaan-pertanyaan aneh acapkali terlontar.

“Atau dia sendiri enggak tahu hari ulang tahunnya?”

“Wuahahahaha….!”

Aaaarggh…! Sebel!

Putri semakin keki, sebab tak hanya teman-teman satu kelas yang menertawakan. Siapa pun akan menertawakannya jikalau tahu Putri belum pernah merayakan hari ulang tahunnya bersama sang kakak.

Makanya putri paling malas ketika ada yang bertanya.”Wah, ulang tahun yang keberapa? Dapat hadiah apa dari kakak lelakinya?”

Jikalau ada yang berani-berani bertanya seperti itu, Putri akan maju dengan langkah yang tegap. “Mmmm… anu… ng… ulang… ulang tahun, ya? Hadiah dari Mas Rangga, ya… mmmm… anu…” Putri ber-anu ria.

Terkadang iri juga dengan teman-teman sekolahnya yang biasa merayakan hari ulang tahun lengkap dengan keluarga. Jauh-jauh hari sebelum hari ulang tahun datang, teman-temannya itu sudah tahu akan di beri hadiah apa, mau hadiah jalan-jalan ke mana, mau smartphone tipe berapa, mau play station model apa, mau kue tart putih tingkat berapa, mau gaun ulang tahun warna apa, mau pesta ulang tahun seperti apa. Pokoknya dimanja!

Putri boro-boro! Sekedar ucapan selamat ulang tahun saja belum pernah ia terima.

Demi mendapatkan ucapan selamat ulang tahun, putri sampai pernah bertanya, apakah sampai sebenci itu, kah Mas Rangga sehingga belum bisa menerima Putri sebagai adik perempuannya.

Mendengar pertanyaan polos Putri, Mama dan Papa hanya meringis. Putri paham, itu pertanyaan yang bodoh. Bagaimana mungkin Mas Rangga belum bisa menerima Putri sebagai adiknya. Toh mereka sudah menjadi kakak adik hampir lima tahun lamanya.

Ya! Putri dan Mas Rangga bukanlah saudara kandung. Mereka adalah saudara tiri.

Lima tahun yang lalu, Mama yang sudah menjanda lama akibat di tinggal wafat Papa kandung Putri, menikah dengan seorang duda beranak satu. Papanya Mas Rangga.

Saat itu usia Putri barulah dua belas tahun, Mas Rangga sendiri baru berusia lima belas tahun, baru masuk SMU.

Senangnya bukan main Putri saat itu. Bayangkan saja sejak kecil ia sudah menjadi yatim, sebagai anak tunggal, Putri tak memiliki saudara lagi, hanya tinggal berdua dengan sang Mama. Ia membutuhkan figur seorang Papa dan kakak lelaki, yang senantiasa melindungi dan memanjakan seperti apa yang dialami kawan-kawannya.

Agaknya semua itu hanyalah tinggal sebuah impian dan harapan. Kini, Putri memang memiliki seorang Papa yang baik, hangat dan penyayang. Putri sangat bersyukur itu. Tetapi, Putri tetaplah seperti tak memiliki seorang kakak lelaki. Ada tetapi seperti tiada.

Mas Rangga sangat pendiam dan jarang bicara. Bahkan hingga sekarang pun Putri tak begitu akrab dengan Mas Rangga. Hanya bertegur sapa ketika bertemu di meja makan atau saat Mas Rangga mengantar Putri ke sekolah. Di perjalanan pun tak ada obrolan apa-apa.

Mas Rangga sendiri ketika berada di rumah lebih sering menyendiri di kamar. Entah baca buku lah, mendengarkan lagu-lagu aneh lah, pokoknya Mas Rangga lebih sering di kamar ketimbang berdua mengajak ngobrol Putri, adik tirinya.

Sempat terdengar kabar, kalau Mas Rangga sebenarnya tak pernah menyetujui pernikahan ini. Ia merasa posisi Bundanya yang sudah wafat sejak lama tak dapat digantikan oleh siapapun. Ya, mungkin karena itu! Putri sering berpikir itulah alasan mengapa Mas Rangga tak pernah memberinya ucapan selamat ulang tahun.

 

lll

Cieee….. hari ini sweet seven ten.” Bunyi sms dari Septi. Sahabat Putri yang ceking, rambut diikat dua dan doyan minum es lilin itu usai shalat subuh tadi sudah mengirimkan pesan pendek, mengingatkan ulang tahun Putri.

Met milad, Putri.”

“Miladduki, Putri.”

“Asyiiiik…. Traktiran. Makan-makan….”

“Selamat ulang tahun ya, Putri.”

“Happy birthday Putri sayaaaang…!”

“Happy sweet seven ten…”

Membaca beberapa pesan pendek dari kawan-kawannya di ponsel, Putri tersenyum sendiri. Senang masih memiliki sahabat yang perhatian.

“Put, aku mau bocorin rahasia. Jangan heran kalau hari ini anak-anak sekelas diemin kamu.” Berbeda dengan isi pesan singkat Septi, isi pesan singkat Rahma terlihat sedikit menakutkan. “Soalnya kita semua mau bikin surprise buat kamu….”

Putri tertawa kecil. Mana ada surprise diberi tahu. Ada-ada saja sahabatnya itu.

Ah, iya hari ini hari ulang tahunnya. Ulang tahun ke tujuh belas. Orang bilang sweet seven ten. Masa-masa indah. Masa-masa transisi. Masa-masa Putri mesti bisa mempertanggungjawabkan setiap tindak lakunya. Masa-masa memiliki KTP untuk kali pertama.

Putri bersyukur masih memiliki sahabat-sahabat yang baik dan perhatian. Tidak seperti Mas Rangga. Huh!

Berharap kado? Jangan harap! Ucapan selamat ulang tahun saja sudah bersyukur. Tetapi Mas Rangga tidak akan pernah memberikan itu semua. Bagi Mas Rangga, Putri hanyalah adik tiri yang tiada dianggap. Putri menggerutu.

lll

Pagi itu Putri mendapatkan kejutan dari Mama dan Papa. Sebuah nasi tumpeng indah sudah terpajang di atas meja makan untuk sarapan pagi. Putri bahagia bukan kepalang. Tidak hanya nasi tumpeng, Putri juga mendapatkan ucapan selamat dan kado dari Mama dan Papa.

Sebuah netbook mini berwarna merah marun. Sebuah barang yang sudah Putri niatkan untuk membelinya. Putri tak pernah meminta, malah sebaliknya Putri sudah cukup lama menabung untuk membeli sebuah netbook mini untuk memudahkan ia menyalurkan hobby menulisnya. Tetapi kalau sudah diberikan ya terima saja. Itu namanya rezeki, tidak boleh ditolak. Senyum Putri mengembang.

Hari itu semua orang begitu memperhatikan Putri. Ada yang memberi hadiah, ada yang mengucapkan selamat, ada pula yang berencana memberi kejutan. Ya semua orang. Kecuali satu orang, Mas Rangga!

Di antara senyumnya yang masih merekah, Putri diam-diam melirik Mas Rangga yang masih duduk mahsyuk menikmati sarapan. Mencoba mencari kemungkinan Mas Rangga akan memberikan hadiah. Lama, tapi tak ada reaksi apa-apa. Hmfthhh…! Putri mendengus.

Setiap pagi seperti biasa Putri selalu diantar oleh Mas Rangga ke sekolah. Walaupun ada kesal di hati Putri, tetapi bagaimanapun Putri tetap bangga memiliki kakak tiri seperti Mas Rangga.

Mas Rangga itu tampan, tinggi, gagah perkasa, pintar, wajahnya teduh, ya… walaupun pendiam dan sedikit jutek menurut Putri.

Mas Rangga itu idolanya banyak. Sebab setiap hari mengantar Putri ke sekolah, semua warga di sekolah sudah kenal dengan Mas Rangga. Mulai dari kepala sekolah, guru-guru, siswi-siswi, pedagang di kantin hingga tukang kebun sekolah pun sampai ngefans dengan Mas Rangga. Putri kan jadi ikut terkenal juga. Hehe….!

“Mas Rangga hari ini ulang tahun aku, lho!” Di perjalanan dalam mobil Putri membuka pembicaraan. Memberanikan diri membahas hari ulang tahunnya ke Mas Rangga. Tidak seperti biasa.

“Oh, iya, ya?” Mas Rangga hanya ber-oh ria. Tetap fokus menatap ke jalan. “Barakallahu, ya.

Aduh! Lagi-lagi cuma ngomong gitu. Ngomong apa sih Mas Rangga? Enggak ada ucapan ulang tahun, happy birthday atau milad, gitu? Putri protes dalam hati.

“Mas, nanti sore Mama dan Papa mau buat acara syukuran di rumah. Syukuran ulang tahun ku yang ke tujuh belas, sore ini Mas Rangga enggak ke mana-mana, kan?”

“Maaf ya, Put, nanti sore Mas ada agenda, kemungkinan enggak bisa ikut perayaan ulang tahun kamu.”

Mendengar itu Putri sudah menduga. Mau dipancing seperti apapun Mas Rangga tidak akan pernah memberi hadiah atau ucapan ulang tahun. Putri menatap lekat sosok lelaki yang duduk di sampingnya itu. Lelaki yang sedari tadi tetap fokus menyetir dan berbicara seperlunya. Putri manyun!

lll

Surprise……”

Di depan pintu masuk kelas Putri sudah dihadang oleh teman-teman sekelasnya. Dengan membawa kue black forest dihiasi oleh butiran-butiran cherry merah serta lilin ulang tahun yang berbentuk angka tujuh belas.

Semua bersorak menyanyikan lagu selamat ulang tahun kepada Putri. Putri menjadi paling bahagia hari itu.

Happy Birthday, Putri….!” Semua bersorak kompak. Saling memberi ucapan selamat, tak sedikit yang memberi hadiah. Ya! Semua sayang kepada Putri. Di dunia ini tidak hanya ada Mas Rangga, masih banyak kok yang peduli dengan Putri. Jadi Putri tak mau ambil pusing lagi atas perilaku Mas Rangga.

Jika memang Mas Rangga tak mau mengucapkan selamat ulang tahun kepada Putri, tak mengapa, Putri masih memiliki banyak orang yang menyayanginya, kok.

“Berarti hari ini ada dua orang yang ulang tahun.” Seru Septi masih memegang es lilin kegemarannya. “Kak Anna. Mahasiswi keguruan yang sedang praktek mengajar bahasa inggris di sekolah kita.”

“Oh iya!” Semua ber-oh ria. Dan setelah diskusi beberapa saat serta dengan sepertujuan Putri, mereka langsung memutuskan untuk membagi hari bahagia ini bersama Kak Anna di ruangannya.

“Terima kasih adik-adik manis. Terima kasih Putri.” Kak Anna tersenyum dengan kehadiran Putri dan kawan-kawannya. “Tapi maaf, kakak tidak merayakannya.”

Semua kecewa “Salah tanggal ya, Kak?” Tanya Putri Polos.

Kak Anna tersenyum.”Bukan itu, tanggalnya benar, kok. Hanya saja kakak tidak merayakan ulang tahun, bagi kakak hari ulang tahun umpama peringatan semakin dekatnya kakak dengan kematian. Karena esensinya ulang tahun itu pertanda berkurangnya usia. Waktunya bermuhasabah dan introspeksi diri. Tapi terima kasih ya adik-adik.”

Kak Anna mencubit gemas pipi Putri dan kawan-kawan.

“Oh, iya. Hari ini ulang tahun Putri juga, ya? Maaf ya kakak tidak memberi hadiah atau mengucapkan selamat ulang tahun. Hanya bisa berdoa barakallahu. Semoga sisa-sisa usianya diberkahi dan menjadi shalihah.” Kak Anna tersenyum.

Putri menunduk. Ternyata itu alasan sikap Mas Rangga di setiap hari ulang tahunnya. Putri merasa menjadi orang jahat, selama ini membenci sikap Mas Rangga bahkan menyangka Mas Rangga belum mau menerimanya sebagai adik sebab tak memberi hadiah maupun ucapan selamat ulang tahun selama bertahun-tahun.

Nyatanya Mas Rangga telah memberikan kasih sayang berlimpah sebagai seorang kakak yang selama ini Putri impikan. Sebuah doa yang indah. Barakallahu fikum.

Bening, airmata itu mulai menetes. Maaf, Mas Rangga.

lll

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sari Asma Anggar
Penulis berkulit sawo matang ini sudah menyukai dunia tulis menulis sejak masih berusia 8 tahun. Baginya, menulis merupakan suplemen jiwa. Alasan lain yang membuatnya menyukai dunia tulis menulis adalah Dengan tulisan, bisa jadi kita mampu mengubah peradaban

Lihat Juga

Ilustrasi. (fizgraphic.com)

Belajar Dari Proses Kelahiran Isa Putra Maryam

Organization