Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Nasihat vs “Intimidasi” Pernikahan

Nasihat vs “Intimidasi” Pernikahan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kawanimut)
Ilustrasi. (kawanimut)

dakwatuna.com – Program rihlah bersama binaan waktu itu menjadi tidak biasa, di sela acara taushiyah ba’da ‘Isya di tepi pantai Pelabuhan Ratu, dibelai dingin angin dan snack yang ala kadarnya, seorang binaan “mendeklarasikan” program pernikahannya di hadapan rekan-rekan sesama mutarabbi. Dia, seorang adik kelas sejak masih SMK itu, adalah binaan pertama saya yang menggenapkan separuh dari agamanya.

Selepas itu kemudian menyusullah binaan-binaan saya yang lain “memberanikan diri” untuk mengambil keputusan besar itu: menikah. Sementara saya sendiri, murabbinya, masih tetap setia berstatus sebagai ‘lajang’. Saya jadi teringat teman-rekan nongkrong saya di pos ronda bilang, “bentar lagi loe bakal masuk sinteron, judulnya ‘Bujang Lapuk Penumpuk Harta!?”, begitu mereka menyindir realitas banyaknya bujangan-rekan di tempat nongkrong itu.

Di luar mereka yang ‘ammah itu, beberapa kali (sebetulnya berkali-kali) juga terdengar canda para ikhwah yang “menyindir” status lajang saya seraya membandingkannya dengan binaan-binaan saya itu.

Waktu itu, saya, bukan tak ingin menikah. Keinginan untuk menjadi nahkoda dalam kapal besar pernikahan sebetulnya justru begitu membumbung dalam dada. Seperti asap pekat yang menyelubungi kamar tertutup. Sesak! Kadang dalam beberapa suasana, sepanjang pulang kerja yang lelah, atau selepas dzikir ba’da shalat, butiran air mata menetes halus seolah ingin memberitahu mereka semua bahwa, “Ana juga ingin menikah….”

Tak terhitung rasanya, entah nasihat, sindiran, candaan, dari begitu banyak ikhwah yang “mempertanyakan” status LAJANG itu. Menggambarkan betapa indahnya menikah, betapa tenteramnya kehidupan setelahnya, betapa agama ini menjadi sempurna dengan kehadiran istri di samping kita, serta nasihat-nasihat lain yang sebetulnya sudah amat sering saya dengar baik di seminar-seminar ataupun dari buku-buku pernikahan yang jumlahnya segambreng itu.

Saking seringnya, bagi saya waktu itu, rangkaian kata dalam sindiran halus para ikhwah itu justru terkadang lebih terdengar sebagai “intimidasi” dari pada sebagai nasihat. Hati saya ingin bilang,

“Iya, tapi gada duit, Ente pinjemin Ane duit dunk buat nikah–atau bagaimana jika kalimatnya kita buat lebih dalam:–kalau cuma ngomong doang mah gampang,” tapi tentu tak sampai hati saya mengatakannya.

Ini yang kadang khilaf dilakukan oleh mereka yang telah menikah, termasuk akhirnya saya sendiri. Kita, cenderung menggambarkan keindahan menikah atau candaan-candaan yang seperti –sekali lagi seperti– sindiran halus bagi para lajang untuk segera menikah, namun seolah tanpa merasa perlu untuk mengetahui kondisi mereka. Entah itu dari sudut pandang psikologis, kondisi keluarga, atau bahkan ekonomi. Dalam hal ekonomi ini seorang teman kuliah sewaktu chatting pernah bilang, “ya! Ekonomi penting. Money isn’t everything. But married without money is nothing!”

Betul, kan?

Di segala cara di mana Islam memudahkan kita untuk menikah, kadangkala aspek lain juga harus dipertimbangkan agar tidak menjadi hal buruk di kemudian hari. Kita harus menghargai keluarga akhwat, bukan? Berapa uang yang akan kita berikan kepada keluarga akhwat untuk resepsi acara pernikahan itu, cukupkah untuk membuatnya sekadar “tak merasa tak dihargai?” Bagi saya waktu itu sulit. Dengan penghasilan yang tak seberapa saya merasa hal itu berat. Karena saya tetap harus menjaga perasaan keluarganya sekalipun bisa jadi calon mertua tak mempermasalahkan hal itu.

Catatan ini, bukan untuk membenar-benarkan mereka yang menunda pernikahan, sama sekali tidak. Jauh dari hati saya yang paling dalam, saya juga ingin mengatakan kepada para lajang, bahwa pilihan ‘akhlak’ sebagaimana yang Nabi sampaikan betul-betul pilihan terbaik, dan engkau akan mendapatkan ketenteraman di sini.

Tapi yang ingin saya sampaikan adalah, hendaklah kita yang sudah menikah, mengetahui kondisi mereka yang bisa jadi berbeda dengan kita, sekali lagi baik dari aspek psikologis, sosial, financial, dll yang menyebabkan mereka masih belum menikah hingga hari ini.

Saya rasa pengetahuan kita tentang hal itu akan membuat kita lebih bijaksana dalam memberikan “sekadar” (meski sebetulnya bukan hanya ‘sekadar’) nasihat pernikahan bagi mereka, sehingga tak terdengar sebagai “intimidasi” daripada sebagai nasihat seperti yang secara “tidak enak” saya alami sewaktu masih bujangan dulu.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sigit Kamseno
Kontributor di Sejumlah Media Islam Online @mistersigit blog: www.mistersigit.blogspot.com
  • DHANI WU

    setuju :D

  • Syamila 82

    Dengan kesungguhan niat dan ikhtiar… Insya Allah akan diberikan jalannya oleh Allah… Tetap semangat ya…

Lihat Juga

Rahmat Bagi Semesta NKRI dan Sentimen Irasional Agama di Dunia