Home / Narasi Islam / Wanita / Mendidik Seorang Wanita Sama Dengan Mendidik Sebuah Bangsa

Mendidik Seorang Wanita Sama Dengan Mendidik Sebuah Bangsa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (qimta.devianart.com)
Ilustrasi. (qimta.devianart.com)

dakwatuna.com – Wanita mempunyai peran yang agung dan mulia. Kita mungkin bisa membayangkan tugas mulia yang akan atau sedang dipegang oleh wanita. Di satu sisi, peran wanita sebagai seorang istri dan ibu yang mengharuskannya berada di dalam rumah. Namun di sisi lain, wanita diperlukan di tengah-tengah masyarakat yang semakin jauh dari agamanya. Ibaratnya, tangan kiri dapat mengayun buaian dan tangan kanannya dapat mengubah dunia.

Wanita diberi kelembutan agar dapat mengayun buaian, diberi ketegasan untuk mendidik, diberi air mata untuk mengungkapkan rasa senang maupun sedih, diberi ketabahan dan kesabaran untuk dapat menyimpan asa dan rasa.

Kita semua, baik itu wanita maupun laki-laki, bukan hanya harus mengetahui, melainkan juga harus memahami bahwa wanita mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama seperti halnya laki-laki. Perintah dan larangan Allah SWT disampaikan tidak hanya kepada laki-laki, tetapi juga kepada wanita. Begitu pula Allah memberikan pahala atau siksaan.

Namun, di dunia ini, di Negara kita, ataupun di sekitar kita sekalipun, masih ada pemikiran keliru yang menyusup ke dalam benak sekelompok umat Islam mengenai wanita. Sehingga watak dan peran wanita dipersepsikan negatif oleh kelompok tersebut. Persepsi tersebut pun tidak jarang diikuti dengan perlakuan yang tidak baik. Kelompok tersebut digolongkan sebagai kaum yang telah melangkahi hukum-hukum Allah. Mereka adalah kaum yang menzhalimi wanita sekaligus dirinya sendiri. Coba kita perhatikan diri kita! Jangan sampai secara tidak sadar kita termasuk salah satu orang yang mempersepsikan wanita secara negatif. Atau wanita sendirilah yang menempatkan dirinya ke arah negatif? Na’udzu billahi mindzalik.

Jika kita melihat kasus wanita dalam masyarakat kita, yang dikenal dengan sebutan masyarakat Islam, menjadi contoh nyata tentang sikap yang keterlaluan, menyia-nyiakan, menyepelekan, dan mempecundangi hak wanita. Wanita dianggap makhluk yang kurang akal dan agama, serta tidak mempunyai keahlian apapun. Orang-orang yang menyepelekan ini, memandang wanita dengan sikap angkuh dan hina. Wanita diibaratkan oleh mereka sebagai jerat setan dan perangkap iblis untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Seperti halnya yang dikatakan oleh seorang pujangga:

Kaum wanita itu bagaikan setan…

Yang diciptakan untuk kita

Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan setan.

Ada pula kelompok masyarakat yang kembali ke zaman jahiliyah sebelum datangnya Islam. Mereka mengurung anak-anak perempuan di dalam rumah, tidak boleh keluar untuk belajar atau bekerja, tidak boleh mengikuti kegiatan yang bermanfaat untuk masyarakat, sehingga sebagian mereka berpandangan bahwa wanita shalihah hanya boleh keluar rumah pada dua hal, yaitu dari rumah orang tuanya ke rumah suaminya dan dari rumah suaminya ke liang kubur. Padahal di dalam Al-Qur’an, “pengurungan wanita di dalam rumah” hanya dijadikan sebagai hukuman bagi perempuan yang melakukan perzinahan dengan kesaksian empat orang laki-laki dari kaum muslimin. Hal ini diterapkan sebelum syariat menetapkan hukuman bagi perbuatan zina yang sudah dikenal saat ini. Al-Qur’an menyebutkan tentang pengurungan wanita yang melakukan zina itu di dalam surat An-Nisa’ ayat 15 yaitu “Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberikan kesaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya atau Allah memberi jalan yang lain kepadanya.”

Mereka melarang wanita untuk menuntut ilmu dan mendalami agama dengan alasan ada orang tua dan suaminya yang berhak dan berkewajiban mendidik serta memberi pelajaran. Karena hal ini, wanita jadi terhambat dari pancaran ilmu pengetahuan dan memaksanya tetap hidup dalam kegelapan dan kebodohan. Padahal orang tua dan suaminya pun tidak dapat mengajarinya karena mereka masih membutuhkan pengajar. Sudah banyak wanita yang tersesat karena yang membimbingnya adalah buta!

Di zaman sekarang pun ada sebagian kelompok yang mempersepsikan bahwa wanita tidak perlu tinggi menuntut ilmu dan tidak perlu aktif ikut serta dalam kegiatan kemasyarakatan karena pada akhirnya ketika sudah menikah, menjadi seorang istri dan ibu, tugasnya hanya di dapur, sumur, dan kasur saja. Padahal tugas wanita kelak bukan hanya di dalam rumah, melainkan juga di luar rumah.

Kita harus memahami bahwa sebenarnya wanita, baik yang belum menikah maupun yang sudah menikah, diperlukan dalam setiap kegiatan sosial dan politik, begitu pun dengan keikutsertaan wanita dalam bidang profesi yang sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Setengah dari masyarakat kita adalah wanita. Jika kaum wanita hanya di dapur, sumur, dan kasur saja dan tidak berfungsi berarti sama saja dengan separuh kehidupan manusia tidak berfungsi dengan melahirkan generasi mukmin mujahid yang cemerlang atau tidak berfungsi dari berpartisipasi dalam membangun masyarakat, baik dalam bidang sosial maupun politik.

Kita seharusnya membuka, membaca, mencermati, sekaligus memahami kembali kisah-kisah para wanita mukminin pada zaman Nabi Muhammad SAW dan Khulafarausyidin. Wanita-wanita mukminin tersebut tidak lepas dari keikutsertaannya dalam menuntut ilmu, kegiatan profesi, sosial, dan politik.

Kita bisa mencontoh Zainab binti Jahasy karena beliau adalah wanita yang bekerja dengan tangannya sendiri, kemudian bersedekah dengan hasil usahanya itu.

“Adalah Zainab binti Jahasy orang yang paling takwa kepada Allah, paling suka menyambung silaturahim, paling banyak bersedekah, dan paling suka mengorbankan dirinya untuk melakukan pekerjaan yang dengan pekerjaan itu dia dapat bersedekah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.” (HR. Muslim)

Kita juga bisa mencontoh sejumlah wanita mukminin yang meminta dan mengharapkan diberi kesempatan yang lebih luas untuk menimba ilmu pengetahuan dari Nabi SAW.

Sejumlah wanita berkata kepada Nabi SAW, “Kami dikalahkan oleh kaum laki-laki dalam merebut kesempatanmu. Karena itu tolonglah engkau sediakan harimu untuk kami.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas menjadi contoh bahwa wanita muslimah harus lebih agresif dalam menuntut ilmu, baik menuntut ilmu secara formal maupun non formal. Juga lebih agresif dalam bekerja dan bersedekah.

Mungkin sebagian dari pembaca akan mengatakan, “Ah, saya kan bukan di zaman itu”. Atau “Ah, zaman dahulu dan sekarang kan berbeda permasalahannya”. Kalau ada yang berkata demikian atau yang serupa dengan ungkapan tersebut walau hanya di dalam hati saja, berarti mereka belum melek kondisi real masyarakat kita saat ini.

Sekali lagi, kita semua, baik laki-laki maupun wanita, seharusnya lebih melek permasalahan kaum hawa di negeri ini. Untuk kasus trafficking (perdagangan manusia) saja semakin mengkhawatirkan. Jumlah kasus trafficking di Indonesia yang tersembunyi di permukaan jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan. Kasus trafficking ini diibaratkan sebagai sebuah gunung es.

International Organization for Migration (IOM) dan Non Governmental Organization (NGO) anti trafficking memperkirakan 43% – 50% atau sekitar 3 – 4,5 juta tenaga kerja Indonesia menjadi korban perdagangan manusia. IOM dan pemerintah Indonesia juga melakukan identifikasi kepada 3.840 korban trafficking, 90% di antaranya adalah perempuan dan sebanyak 56% dieksploitasi sebagai pekerja rumah tangga. Pada tahun 2012, IOM juga mengeluarkan data yang menyebutkan sebanyak 82% diperdagangkan di luar negeri dan sisanya di Indonesia.

Jumlah kasus di atas bukanlah jumlah yang sedikit. Ini merupakan kasus yang kompleks dan membutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh dari semua elemen bangsa, khususnya wanita, dalam memberantas kasus perdagangan manusia ini. Kenapa wanita dikhususkan untuk lebih melek akan permasalahan ini? Karena 90% korban trafficking adalah perempuan dan sejatinya, Allah SWT mengkaruniakan wanita berupa perasaan yang halus, lembut, peka, sifat santun dan rasa kasih sayang. Karunia inilah yang menjadi acuan untuk menjadi wanita yang lebih peka dan kritis akan kondisi umat saat ini, khususnya kondisi sesama wanita di sekitarnya, dan juga menjadi acuan untuk wanita agar dapat bergerak dan berdakwah lebih agresif demi kemaslahatan umat.

Kita semua mengetahui bahwa peran wanita sebagai istri dan ibu dalam keluarga merupakan tugas utama dan pertama. Karena di tangan seorang ibulah akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang dapat merubah negeri ini menjadi sejahtera. Seperti kata seorang pujangga: Ibu itu ibarat sekolah, apabila kamu siapkan dengan baik, berarti kamu menyiapkan satu bangsa yang harum namanya. Tidak lepas dari tugas wanita sebagai istri dan ibu, hal ini tidak menafikan bahwa wanita juga mempunyai kewajiban-kewajiban lain di tengah masyarakat. Faktor yang sangat penting untuk mengkoordinasikan tugas pertama wanita dengan tugas-tugasnya yang lain yang dibutuhkan demi kemaslahatan masyarakat muslim sehingga dalam masyarakat terwujud perkembangan dan kemajuan adalah tumbuhnya kesadaran masyarakat dan adanya kerjasama yang erat antara suami dan istri.

Mendidik Seorang Wanita sama dengan Mendidik Sebuah Bangsa

“Jika kamu mendidik seorang laki-laki, sesungguhnya engkau hanya mendidik satu dari jutaan penduduk bumi. Tapi jika kamu mendidik seorang perempuan, maka sesungguhnya engkau sedang mendidik sebuah bangsa” (mantan Presiden Tanzania).

Sejak tahun 1975, tahun pertama konferensi dunia mengenai wanita, di Meksiko, muncul kesadaran bahwa apa yang terjadi terhadap wanita akan berdampak besar pada kesejahteraan umat manusia. Wanita adalah tokoh utama dalam mendidik satu bangsa. Karena dari wanitalah kita dapat menyiapkan bangsa yang harum namanya. Ada sebuah ungkapan bahwa seorang lelaki besar biasanya memiliki wanita hebat di sampingnya. Ungkapan tersebut mewakili peran wanita dalam mendukung kesuksesan seseorang. Wanita adalah sosok yang paling berperan dalam membentuk karakter dan mental generasi muda. Generasi itulah yang akan menggantikan orang-orang tua dalam memimpin bangsa ini. Maka dari itu, menumbuhkan kesadaran para wanita bahwa mereka memegang kunci emas dalam memajukan kehidupan suatu bangsa merupakan hal yang paling penting.

Dalam upaya membangun karakter bangsa, seorang ibu harus bisa mendidik dan membangun karakter anaknya agar siap menjadi pewaris negara. Karena, pembentukan karakter seseorang dimulai sejak dalam kandungan. Seorang ibu harus terlebih dahulu memahami peran yang dimainkannya supaya dapat melahirkan anak-anak yang siap menjadi pewaris negara,

Kita bisa mencontoh alm. Ustadzah Yoyoh Yusroh dan Ustadzah Wiriyaningsih. Mereka adalah aktivis perempuan yang aktif di kehidupan sosial dan politik namun tidak mengenyampingkan tugasnya sebagai istri dan ibu. Kita bisa melihat bahwa di tengah-tengah kesibukannya di luar rumah, mereka pun mampu melahirkan anak-anak pecinta dan penghafal Al-Qur’an. Generasi seperti inilah yang dirindukan untuk menjadi pemimpin negeri ini.

Kita juga bisa mencontoh aktivis wanita yang peka dan agresif dalam aktivitasnya di dalam maupun luar rumah yaitu Zainab Al-Ghazali. Siapa itu Zainab Al-Ghazali? Beliau adalah aktivis perempuan asal Mesir yang gigih memperjuangkan persamaan hak kaum perempuan sesuai ajaran Islam yang benar. Beliau tidak setuju dengan ide-ide sekuler tentang gerakan pembebasan perempuan. Perhimpunan yang didirikan Zainab Al-Ghazali pun mampu melahirkan generasi dai-dai wanita yang mempertahankan status wanita dalam Islam. Dai-dai wanita tersebut meyakini dan mampu meyakinkan masyarakat bahwa agama Islam memberikan peluang sebesar-besarnya bagi wanita untuk memainkan peranan penting di masyarakat, baik itu memiliki pekerjaan, terjun di dunia politik, dan bebas dalam mengeluarkan, namun tetap tidak mengesampingkan fungsi utama perempuan dalam mengurus rumah tangga dan sebagai ibu.

Melalui contoh tokoh perempuan tersebut, kita dapat melihat bahwa perempuan juga harus mampu terlibat dalam kehidupan social, politik dan profesi. Pada intinya, peran perempuan sebagai kader pembentuk karakter tidak terbatas pada lingkup rumah tangga. Namun, memberikan inspirasi seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh tersebut juga merupakan salah satu cara untuk membentuk karakter suatu bangsa.

Peran Organisasi dalam Mendidik Wanita

Pendidikan untuk wanita bukan hanya di dalam kelas atau pendidikan formal saja, melainkan juga di dalam pendidikan non formal seperti ikut aktif dalam sebuah organisasi. Organisasi mempunyai peran yang cukup penting dalam mendidik wanita karena merupakan wadah pendidikan non formal untuk siapapun, pun itu untuk wanita agar dapat mengaktualisasikan perannya di tengah-tengah masyarakat.

Di dalam organisasi, baik organisasi kampus, ekstra kampus, maupun organisasi masyarakat, secara tidak langsung mengajarkan untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan baik, diajarkan menjadi pemimpin, serta diajarkan untuk lebih berani tampil di depan banyak orang. Laki-laki pun secara tidak langsung turut andil dalam mendidik anggota perempuannya di dalam sebuah organisasi.

Sebagian organisasi, ada wadah khusus untuk anggota perempuannya agar turut aktif dalam mengaktualisasikan potensinya, baik itu berupa keputrian, kemuslimahan, maupun pemberdayaan perempuan. Di dalam wadah khusus ini seharusnya menjadi tempat perempuan untuk dapat mengekspresikan potensinya yang terpendam akan sifat pemalunya. Di sini pun seharusnya membuat wanita belajar melek akan permasalahan perempuan yang ada di Negara kita ini, minimal permasalahan kaumnya di sekitarnya.

Laki-laki menjadi partner perempuan di dalam organisasi ini. Partner dalam hal amar ma’ruf nahi munkar. Mereka bisa mendukung dan mendorong perempuan agar lebih mengaktualisasikan potensinya, agar tidak pemalu dan lebih kritis akan kondisi yang terjadi pada umat saat ini.

Untuk dapat melek pada kondisi umat saat ini, sebaiknya wanita jangan hanya disuapin saja dalam menimba ilmu. Tetapi juga harus mencari dan menggali terus ilmu yang ada. Seperti yang dilakukan oleh sejumlah wanita mukminin yang meminta dan mengharapkan diberi kesempatan yang lebih luas untuk menimba ilmu pengetahuan dari Nabi SAW. Itulah yang harus dilakukan oleh wanita muslimah zaman ini. Cari dan galilah terus ilmu yang ada dengan membaca karena dengan membaca dapat membuat kita lebih kritis jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dengan membaca pula kita dapat mengetahui dari sikap yang berlebihan dan tidak terjerumus dari pemahaman barat mengenai urusan wanita. Karena yang patut kita ketahui adalah wanita itu saudara kandung laki-laki, bukan musuh atau lawan dari laki-laki. “Wanita itu adalah saudara kandung pria”. (HR. Abu Daud).

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahirah Kiranah Al-Sharbini
Aktivis Perempuan di Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia.

Lihat Juga

Kapolri Tuding Masyarakat yang Ingin Ahok Segera Ditahan Miliki Motif Lain