Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Musuh Hatinya Tersentuh

Ketika Musuh Hatinya Tersentuh

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Perjalanan dakwah adalah perjalanan yang panjang. Tidak selamanya mulus, bahkan penuh onak dan duri, ujian dan cobaan, halangan dan tantangan akan selalu menerpa. Ibarat lautan adakalanya tenang, namun selalunya akan bergelombang ditiup angin. Hanya pelayar yang sabar dan tangguh yang mampu menghadapinya. Bahkan menaklukkan lautan bergelombang, sehingga perahu yang ditumpangi bergerak indah, bahkan terasa nikmat seperti di dalam ayunan.

Jika dakwah menghadapi tantangan, jika dakwah mempunyai musuh. Ini bukan hal yang aneh, tetapi ini hal yang biasa dan sunnatullah. Bayangkan jika dakwah itu mudah, sudah tentu semua orang sudah menyertai dan melaksanakan kerja dakwah. Tapi dakwah itu mampu dilakukan hanya orang-orang yang benar-benar ikhlas dan pilihan. Walaupun pada hakikatnya semua muslim berkewajiban untuk berdakwah. Namun pada kenyataannya, sedikit yang menyadari dan mau melakukannya.

Sejarah telah menunjukkan kepada kita bahwa dakwah itu berat dan membutuhkan pengorbanan yang luar biasa. Dakwah juga telah memunculkan tokoh-tokoh pejuangnya dan memunculkan tokoh-tokoh penentangnya. Seperti cerita dalam novel ada tokoh protogonis dan antagonis, dan tokoh protogonis pada akhirnya akan selalu mengalahkan tokoh antagonis. Bagaimanapun jahat dan kuatnya mereka.

Dalam sejarah telah muncul tokoh-tokoh dakwah yang besar, dan juga musuh-musuhnya. Baik sebelum Islam maupun sesudah Islam. Sebelum Islam terlihat pada sosok pejuang dakwah, yaitu para Nabi dan Rasul. Di antara mereka mendapat gelar Ulul Azmi, karena kesabaran dan beratnya tantangan yang dihadapi. Sebagian kisah mereka telah dicatat dalam Al Qur’an. Untuk menjadi ibrah generasi kemudian. Sebut saja di antaranya: Nabi Ibrahim as dengan musuhnya Raja Namrud,  Nabi Soleh as dengan penentangnya kaum Tsamud, Nabi Hud as dengan penentangnya kaum ‘Ad, Nabi Musa as dengan musuhnya Raja Fir’aun, Nabi Daud dengan musuhnya Raja Jalud, Nabi Isa as dengan musuhnya bangsa Romawi dan para Nabi dan Rasul yang lainnya. Semuanya memiliki kisah perjuangan tersendiri cara tersendiri dalam menghadapinya. Dan semuanya atas izin dan pertolongan Allah memperoleh kemenangan.

Sedangkan perjuangan dakwah sesudah Islam (diutusnya Nabi Muhammad Rasulullah saw), perjuangan dakwah begitu berat tantangannya. Rasulullah bersama para sahabat menerima perlawanan dan tantangan dari kaum kafir Quraisy yang dipimpin para tokoh besarnya seperti, Abu Lahab, Abu Jahal Abu Sufyan dan tokoh-tokoh lainnya. Jika kita mambaca sirah Nabi, kita bisa menitikkan air mata karena sedihnya melihat Rasulullah menerima siksaan mereka ketika berdakwah. Ketika Rasulullah di lempari kotoran, ketika diletakkan duri-duri di perjalanan dan menusuk kakinya, ketika Rasulullah dipijak kepalanya ketika sedang bersujud, ketika Rasulullah diusir dari Thaif dan dilempari batu sampai berdarah-darah, ketika dalam perang Uhud beliau terluka dan giginya patah, dan berbagai penderitaan yang dialaminya. Namun itu semua tidak menyurutkan langkah beliau untuk terus berjuang melaksanakan amanah dari Allah untuk menyebarkan RisalahNya. Sehingga pada akhirnya dakwah Rasulullah tersebar ke segala penjuru dunia.

Dari perjuangan dakwah Rasulullah, ada banyak pelajaran yang perlu kita cermati dan kita teladani, di antaranya adalah ketika Rasulullah telah berhasil menyentuh hati para musuhnya, kemudian musuh-musuh tersebut berbalik arah dan berubah menjadi pembela dakwah yang tangguh. Saya akan menyebutkan tiga di antaranya:

Umar bin Khattab, siapa yang tidak mengenal sahabat Rasulullah yang satu ini? Seorang yang mempunyai sifat yang tegas dan keras, sehingga dengan sifat yang dimilikinya itu menjadikannya mulia dalam petunjuk Islam. Bahkan para syaitan pun takut untuk bersua dengannya. Sebelumnya Umar adalah seorang pemuda jagoan, keturunan bangsawan, kaya dan sangat benci dan memusuhi Islam. Sampai-sampai karena bencinya suatu hari Umar bersiap-siap dengan pedangnya untuk mencari dan memancung Rasulullah. Namun apa yang terjadi setelah itu? Umar tersadar setelah memukul saudaranya sehingga berdarah, yang didapatinya telah mengikuti ajaran Rasulullah. Dan ketika dia menemui saudaranya tersebut, didapatinya sedang membaca Al Qur’an. Setelah peristiwa itu Umar memeluk Islam dan menjadi pembela Islam yang tangguh. Sampai-sampai Rasulullah memberinya gelar Al Faruq, dan Umar menjadi salah seorang dari sepuluh sahabat yang mendapat jaminan masuk surga.

Khalid bin Walid, ia adalah pahlawan terulung kaum Quraisy. Panglima besar, dan lambang kehebatan tentara Quraisy. Bagaimana tidak, Khalid bin Walid adalah panglima andalan mereka, yang sangat pintar dalam strategi perang dan sangat berani di medan pertempuran. Selama hidupnya tidak pernah kalah dalam memimpin pasukannya berperang. Baik ketika masih kafir maupun setelah masuk Islam. Satu-satunya perang yang bisa membuat orang kafir Quraisy tersenyum dan tertawa melawan kaum muslimin adalah perang Uhud. Karena itulah satu-satunya perang yang mereka berhasil mengalahkan pasukan Islam. Siapakah tokoh yang berjasa di balik kemenangan itu? Tak lain dan tak bukan adalah sang Panglima andalan, Khalid bin Walid. Setelah keislamannya, Khalid bin Walid semakin menjadi-jadi kehebatannya. Semangat jihadnya semakin berkobar untuk membela Islam, dan ia sangat merindukan untuk mati syahid di medan jihad. Rasulullah percayakan kepadanya untuk memimpin pasukan perang Islam, dan setiap kali perang selalu menang. Sehingga Rasulullah memberikan gelar khusus padanya “Saifullah”. Khalid bin Walid menyandang jabatan panglima besar sampai zaman kekhalifahan Abu Bakar RA.

Ikrimah bin Abu Jahal, ia adalah seorang tokoh pemuda Quraisy. Sama seperti ayahnya, Ikrimah sangat memusuhi Islam. Bahkan ia sangat kejam dalam menyiksa orang Islam ketika di Mekah. Kekejamannya sangat terkenal ke seluruh kota itu. Ketika Rasulullah bersama kaum muslimin menaklukkan kota Mekah. Ikrimah segera melarikan diri meninggalkan kota Mekah sekaligus anak dan istrinya. Karena ia begitu takut akan balasan dari Rasulullah akibat kejahatan yang dilakukannya kepada umat Islam. Dalam perjalanannya ke negeri yang jauh, ada utusan dari Rasulullah yang menyampaikan kepadanya bahwa Rasulullah telah memaafkannya dan mempersilakan kembali ke Mekah. Akhirnya hatinya tersentuh dan kembali, kemudian masuk Islam. Setelah keislamannya, ia menebus kesalahannya dulu dengan berjuang habis-habisan membela Islam. Ia berjihad bersungguh-sungguh, dan Rasulullah pernah mempercayakannya untuk menjadi panglima pasukan kaum muslimin. Sepanjang hidup setelah keislamannya hanya dihabiskan untuk berjihad. Dan akhirnya ia pun mendapatkan syahid.

Itulah di antara kisah musuh Allah yang berubah menjadi pembela agama dan dakwah yang tangguh. Namun adakah perubahan itu berlaku begitu saja dan secara kebetulan? Tentu saja tidak. Semuanya disebabkan bijaksananya Rasulullah dalam berdakwah kepada mereka. Rasulullah membuat pendekatan hikmah untuk menyentuh hati mereka, dan juga melalui doa-doa untuk mereka supaya memperoleh hidayah. Tentu saja semuanya atas izin Allah.

Umar bin Khattab, Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abu Jahal, walaupun mereka membenci Rasulullah dan agama yang dibawanya, memusuhi dan memerangi beliau. Namun Rasulullah tidak membalas perbuatan mereka dengan keadaan yang sama, Rasulullah tidak murka dan benci kepada mereka. Bahkan Rasulullah simpati kepada mereka, Rasulullah tetap berdakwah kepada mereka dengan bijaksana serta mendoakan mereka.

Rasulullah telah berdoa untuk Umar, supaya terbuka hatinya untuk masuk Islam. Allah telah mengabulkan doa Rasul-Nya. Umar bin Khattab akhirnya sadar dan lembut hatinya kemudian memeluk Islam. Rasulullah telah memuji kehebatan Khalid bin Walid walaupun ketika itu ia masih kafir, sehingga ketika Khalid mendengar kabar tersebut menjadi penasaran. Kemudian ia menyelidikinya sendiri dengan menyamar untuk bertemu Rasulullah dan membuktikan kabar yang didengarnya. Setelah ia mendapatkan kebenaran kabar tersebut, hatinya menjadi tersentuh. Kemudian tanpa ragu ia masuk ke agama yang dulu sangat dibencinya, yaitu Islam. Ikrimah bin Abu Jahal pun demikian, ia sangat takut Rasulullah akan menghukumnya atas kejahatan yang dilakukannya ketika jahiliyah. Ia melarikan diri dan menyeberang ke negeri lain. Namun Rasulullah tidak menyuruh untuk mengejar dan menangkapnya. Tetapi beliau memaafkan Ikrimah. Sehingga terdengar kabar tersebut kepada Ikrimah, ia menjadi malu dan sadar akan kesalahannya. Hatinya tersentuh. Ia pun kembali, dengan insafnya diri. Kemudian menemui Rasulullah dan menerima Islam.

Demikianlah sejatinya musuh, kadang bukan berarti selamanya musuh. Adakalanya mereka akan berubah. Ianya hanya perkara waktu yang tertangguh. Ianya hanya hal bagaimana menyerunya dengan hikmah. Ianya juga hanya hal bagaimana upaya kita agar hatinya tersentuh. Sebagai pendakwah jangan sampai kehadiran mereka membuat lemah. Karena dalam jalan dakwah wujudnya mereka adalah fitrah. Agar jalan ini tidak mudah, karena memang jalan ini berat dan susah. Hanya mereka yang mengharap ridha Allah yang akan tabah.

Jadi kepada musuh-musuh dakwah. Jangan dibenci, tetapi disyukuri. Karena itu membuat kita semakin teruji. Semakin kokoh menapakkan kaki di jalan suci ini. Mereka tetap perlu didekati, karena mereka perlukan simpati, bukan caci-maki. Mereka perlukan uluran tangan bukan gertakan. Mereka perlukan pujian bukan hinaan. Mereka perlukan doa bukan kutukan. Mereka perlukan kebijaksanaan bukan kekerasan.

Karena hidayah itu soal hati, Allah saja yang menguasai hati, Allah juga yang membolak-balikkan hati. Jika kita berdoa kepada pemilik hati, untuk memberi hidayah kepada insan-insan yang hatinya masih terkunci. Niscaya hal itu bagi Allah sesuatu yang sangat mudah sekali. Cara yang demikianlah yang di contohkan oleh baginda Nabi. Sebagai generasi penerus dakwah Nabi, sudah selayaknya kita turut melakukan cara ini.

Kepada tingkah laku musuh yang mencabar, kadang kita dituntut untuk bersabar. Dengan hati teguh dan tegar. Tidak selamanya serangan balas harus dilontar. Karena kadang malah tindakan demikian memberi efek kerugian dakwah yang besar.

Tetaplah kita mempunyai jiwa yang teguh, hubungan kepada Allah yang utuh, ukhuwah kepada sesama yang selalu kuat dan tidak rapuh. Cinta kepada Allah dan RasulNya harus senantiasa tumbuh, karena jika kita telah mendapatkan cinta Allah, mudahlah kita untuk membuat hati musuh tersentuh. Seperti hati Umar, Khalid dan Ikrimah.

Dakwah adalah cinta, cinta menuntut segala-galanya, cinta pasti perlu pengorbanan sebagai buktinya. Dari jiwa, harta, tenaga, waktu maupun yang lainnya. Semuanya Allah akan membelinya, dengan harga yang begitu mahal tak terkira, yaitu surga.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Hambari Nursalam
Mahasiswa pascasarjana di International Islamic University Malaysia (IIUM). Ketua Forum Tarbiyah (FOTAR-IIUM).

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Memperluas Jaringan Lembaga Dakwah