11:21 - Rabu, 22 Oktober 2014

Indonesia Overdosis Berita Sadis

Rubrik: Opini | Kontributor: Munawir Syam - 18/03/13 | 14:30 | 07 Jumada al-Ula 1434 H

Ilustrasi (shutterstock.com / Jezper)

Ilustrasi (shutterstock.com / Jezper)

dakwatuna.com – Coba kita lihat apa yang terjadi dengan negeri kita, jika kita melihat dari kacamata media. Negeri ini kebanyakan dihuni oleh orang sadis, akhir-akhir ini media memberikan kita menu sarapan pagi dengan berita-berita yang membuat tidak mood. Menu siang hari pun tidak jauh berbeda, menu malam juga sama. Setiap hari media, baik elektronik ataupun cetak menyajikan berita yang bertone negatif, seorang suami mutilasi istri, seorang bapak membunuh anak kandung, guru mencabuli murid, anak remaja tertangkap mencuri di supermarket, politisi korupsi, proses hukum yang amburadul, isu teroris yang sangat membosankan, sampai pencuri di desa terpencil pun menjadi berita nasional, dll. Semua dipublish tanpa kenal waktu. Bahkan ada berita khusus kriminal. Bahkan ada stasiun televisi yang menjadikan berita kriminal satu acara khusus.

Memang itu adalah hak media untuk memberitakan kejadian yang aktual dan penting untuk diketahui masyarakat, agar mata masyarakat terbuka untuk melihat keadaan sekelilingnya. Pemberitaan seperti ini juga bisa membuka mata kita tentang keadaan bumi pertiwi saat ini, namun pemberitaan haruslah berimbang, setidaknya menakar dampak baik dan buruknya sebuah pemberitaan. Media tidak hanya memberikan berita baru tapi juga berita mendidik dan meniupkan ruh optimisme. Karena disadari bahwa media berperan penting dalam membentuk opini masyarakat, tidak bisa dibayangkan generasi masa depan kita jika tiap hari mendapatkan informasi seperti ini. Apakah mereka akan menjadi generasi yang optimis ataukah generasi yang tidak percaya diri dengan bangsanya sendiri. Media memberitakan masalah yang seringkali membuat kecewa banyak pihak dengan antusias. Masyarakat sudah terbiasa dengan suguhan media saat ini, yang kita takutkan adalah masyarakat malah terbiasa menantikan berita buruk bukan berita baik.

Tulisan ini tidak mengatakan bahwa STOP berita “sadis” seperti itu, tapi harus berimbang dan harus menimbang baik dan buruknya bagi masyarakat.

Ada pula kebaikan yang selama ini dinampakkan media sangat membosankan, kebaikan yang terlalu dipolitisasi. Inikah bangsa yang akan maju? Entah memang rakyat Indonesia suka dengan berita seperti itu yang membuat media banyak peminatnya ataukah memang sudah tidak ada kebaikan yang sensasional untuk diberitakan? Hati-hati overdosis, semua yang over itu tidak baik.

Tentang Munawir Syam

Mahasiswa Syariah Al-Azhar Makassar. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (8 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.facebook.com/aba.zada.9 Aba Zaida

    Di Indonesia, hampir semua hal tanpa batas aturan yang jelas. Padahal negri ini sudah selayaknya belajar ke negri yang lain yang penuh dengan aturan-aturan yang baik dan jelas.

Iklan negatif? Laporkan!
73 queries in 1,636 seconds.