Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mengupas Spirit “Faidza Faraghtafanshab”

Mengupas Spirit “Faidza Faraghtafanshab”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Sukses (safruddin.wordpress.com)dakwatuna.com – “Maka apabila kamu selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. al-Insyirah: 7)

Permasalahan memang selalu menghampiri diri kita. Itulah hakikat sebuah kehidupan. Suka selalu hadir bersama kedukaan, bak 2 wajah dalam uang logam. Fase silih berganti membuat sebuah dinamisasi kehidupan lebih berwarna. Inilah sebuah tantangan dan ujian yang harus kita lewati. Terkadang juga kita dihadapkan rentetan permasalahan yang mungkin membuat kita terasa berat.

Memang sebagai manusia kita selalu dihadapkan pada permasalahan. Analogi pada sebuah games atau permainan yang mungkin sering kita mainkan. Permainan itu terdiri dari berbagai level yang saling meningkat. Level satu, level dua, dan selanjutnya. Setelah kita melewati level satu, kita ditantang untuk menyelesaikan level berikutnya. Serangkaian musuh dan rintangan kita hadapi dalam permainan itu untuk menuju ke sebuah kemenangan yang merupakan ekspektasi akhir kita dalam sebuah permainan itu.

Begitu pula dengan kondisi kita dalam realita di dunia ini. Permasalahan yang silih berganti selalu menghampiri kita. Terkadang satu permasalahan belum selesai sudah menanti permasalahan lain yang mungkin jauh lebih berat. Tapi kita harus selalu yakin dan berpedoman pada sebuah prinsip “Faidza Faraghtafanshab” pasti akan selalu semangat menjalani seluruh ujian dan rintangan hidup yang menghantui kita. Prinsip ini mengajarkan kita bahwa setiap kita selesai menyelesaikan permasalahan yang satu maka langsung kita beralih untuk menghadapi permasalahan yang lain.

Ada 2 keywords yang bisa kita pelajari dalam prinsip di ayat surat Al Insyirah itu. Pertama adalah semangat untuk selalu berjuang tanpa henti. Satu permasalahan selesai segeralah mengerjakan pekerjaan yang lain. Jangan terlalu lama beristirahat dan lengah di antara keduanya. Segera dan selesaikan. Kedua adalah fokus, dalam surat ini dikemukakan agar kita fokus terhadap segala permasalahan yang ada dalam kehidupan. Saya yakin permasalahan yang menghantui kita terlalu banyak. Dalam hal ini tentu fokus itu dibutuhkan. Kita harus mengedepankan skala prioritas, mana yang penting kita dahulukan, mana yang kurang penting nanti diselesaikan di akhir. Belajar fokus dan memberikan skala prioritas pada setiap permasalahan yang ada.

Semoga dengan sedikit tips ini bisa memberikan semangat tersendiri. Prinsip Faidza Faraghtafanshab sebagai modal kita untuk menantang setiap permasalahan dan ujian yang menghampiri kita. Yang perlu diingat adalah kita jangan menghindari permasalahan karena hanya menambah dan bukan menyelesaikan masalah. Mari kita hadapi dengan optimisme dan senyum, karena dengan menghadapi berarti kita mengambil selangkah lebih maju. Tetap semangat kawan!!! Allah selalu ada untuk hamba-Nya yang optimis dan mau berjuang.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Phisca Aditya Rosyady
Mahasiswa Master di Departement Computer Science and Engineering di Seoul National University of Science And Technology, Korea. Lahir di Yogyakarta, 31 Agustus 1991. Anak kedua dari tiga bersaudara. Mempunyai hobi di dunia jurnalistik, elektronika dan instrumentasi. Beberapa kali menjuari lomba blog dan karya tulis. Pernah menulis buku "Kami di antara Mereka", Buku " Inspirasi Gadjah Mada untuk Indonesia dan semasa SMA pernah menulis Buku "1000 Anak Bangsa Bercerita Tentang Perbedaan bersama para alumni Program Pertukaran Pelajar Jogja lainnya. Mahasiswa yang juga pernah menjadi santri PPSDMS Nurul Fikri ini aktif di beberapa organisasi seperti di HMEI, IMM Al Khawarizmi UGM, IPM Imogiri, dan BPPM Balairung. Juga menggeluti riset tentang UAV di Tim Quadcopter Elins. Tahun 2011 bersama empat temannya, berhasil membuat System Body Ideal Analyzer melalui PKM-T yang berhasil didanai Dikti. Phisca pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi FMIPA dan juga mendapatkan Anugerah Insan Berprestasi dalam rangka Dies ke-63 UGM dan Dies ke-64 UGM. Sebelum Ia melanjutkan kuliah S-2 nya, Phisca 8 bulan bekerja di salah satu anak perusahaan Astra International di bidang IT consultant sebagai programmer.

Lihat Juga

Kita Sebagai Manusia Terlahir Istimewa