Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bukan Karena Nasab

Bukan Karena Nasab

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Sebuah keluarga muslim di pinggir pantai. (flickr.com / thaths)
Ilustrasi – Sebuah keluarga muslim di pinggir pantai. (flickr.com / thaths)

dakwatuna.com – “Orang yang Allah takdirkan untuk memiliki keduanya (kemuliaan iman dan nasab), maka telah terkumpul pada dirinya dua kebaikan. Namun jika keluhuran nasab tidak disertai keluhuran iman, maka ketahuilah bahwa keluhuran nasab tidak bermanfaat sama sekali” (Syaikh Abdul Muhsin).

Menjadi bagian keluarga orang-orang hebat adalah suatu karunia. Menjadi sahabat orang-orang hebat juga karunia. Namun keluhuran nasab atau menjadi sahabat orang-orang hebat tidak akan mengantarkan pada kemuliaan. Kemuliaan hanyalah efek amal yang dilakukan, bukan citra yang dibangun atas cipratan amal orang-orang hebat di sekitar. Yang tertipu akan terus tertipu, yang tersadar akan mulai beramal tidak menanti esok atau menyesali masa lalu. Terlarangkah menjadi bagian orang-orang hebat atau menjadi sahabat orang-orang hebat? Jawabannya tentu tidak. Bedanya, jangan sampai tertipu yang memperlambat amal, bahkan sampai tidak beramal sama sekali.

Betapa banyak orang yang berbangga karena pernah bertemu tokoh ini, berguru dengan ustadz ini, satu masa dengan orang ini atau membersamai dengan orang-orang hebat yang lainnya. Namun disayangkan dia tidak menjadi tokoh ini, menjadi ustadz ini atau orang-orang hebat yang pernah membersamainya. Hanya bahagia dan rasa bangga yang membuat dirinya tertipu. Tidak mau tersadar mengapa karunia seperti ini tidak digunakan untuk membuat dirinya sama dengan orang-orang yang membersamai perjalanan hidupnya.

Memilih orang-orang hebat membentuk sebuah lingkungan tentu suatu keharusan, meski ada yang berpendapat jadilah seperti ikan di lautan yang tidak ikut menjadi asin, di lingkungan yang asin. Prinsip yang menggambarkan bahwa setiap diri adalah bagaimana ia membentuk dirinya bukan karena lingkungannya. Tidak ada yang salah dari kedua pendapat ini, hanya bagaimana penerapan prinsip-prinsipnya pada situasi dan kondisi yang tepat. Penerapan prinsip yang berbuah pada amal perbuatan. Sekali lagi karena amal perbuatanlah kita menjadi mulia bukan karena kedekatan dengan orang-orang hebat atau karena bernasab dengan orang-orang hebat. Bahkan jauh hari sudah di ungkapkan oleh Rasulullah SAW:

Orang yang lambat amalnya, tidak bisa dipercepat oleh nasabnya” (HR. Muslim)”

Tapi menjadi bagian orang-orang hebat dan ikut menjadi hebat tentu lebih baik.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Alumni fisika universitas andalas. saat ini bekerja di bidang metrologi dan aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: Achmad Firdaus)

We Are Friend Forever