Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bus T203 dan Pak Cik Musa Sabri

Bus T203 dan Pak Cik Musa Sabri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (bus-planet.com)
Ilustrasi. (bus-planet.com)

dakwatuna.com – Belakangan aku baru menyadari bahwa selama ini ada sosok yang kerap aku jumpai dan menarik pandangan mata dalam Bus T203. Bus yang biasa kutumpangi dari rumah di bilangan Pinggiran Batu Caves menuju Stesyen LRT Putera Gombak. Bus yang mulai jadi langganan semenjak sepeda motor bututku mengalami cedera parah beberapa waktu yang lalu dan nyaris tak bisa ditunggangi lagi. Setelah digiring ke bengkel berkali-kali namun tak juga berangsur pulih, tak ayal aku mulai jengkel dibuatnya. Si Kriss Modenas ringkih itu pun aku biarkan teronggok di sudut rumah tanpa kusentuh dan kupedulikan sama sekali, kendati Pak Cik Fadhli dan Pak Su sudah sering mengingatkanku untuk memperbaiki seutuhnya tungganganku itu. Namun selalu aku jawab, “Nanti sajalah”.

Kontan saja, sejak saat itu, jarak dari rumah ke kampus IIUM yang terbilang cukup dekat dan biasanya kutempuh hanya dalam rentang waktu dua puluh menit dengan sepeda motor, kini nyaris jadi dua kali lipat, bahkan bisa mencapai satu jam. Pun demikian ketika pulang. Bagaimana tidak, dari Pinggiran Batu Caves ke Stesyen LRT Gombak saja tak jarang harus kusisir selama setengah jam lamanya. Amat wajar memang, pasalnya ini adalah perjalanan dengan bus publik dan bukan dengan kendaraan pribadi. Tentunya akan sering berhenti dan terhenti lantaran penumpang yang lalu-lalang dan naik-turun di setiap halte, ditambah lagi dengan kemacetan-kemacetan kecil di setiap sudut traffic lights. Begitu pula, perjalanan dengan bus di sini sesungguhnya menempuh jarak yang relatif lebih jauh, karena jalur bus milik perusahaan Rapid KL itu tidak lurus satu arah seperti yang biasa kulalui dengan sepeda motor, melainkan memutar ke beberapa ruas jalan yang khusus dilewati oleh kendaraan umum saja.

Setelah sampai di Stesyen LRT Putera, perjalananku tentunya belum usai, karena sejatinya memang tak ada armada bus yang berdestinasi langsung dari kawasan Pinggiran Batu Caves ke lokasi kampus. Di titik ini, benar-benar terasa bahwa memiliki kendaraan pribadi yang nyaman, tidak ringkih, dan tidak mudah rusak adalah sangat urgen bagi seorang mahasiswa di Malaysia khususnya di IIUM, apalagi bila ia tinggal di luar kampus sepertiku. Pernah terpikir olehku untuk menjual sepeda motor sepuh itu dan menggantinya dengan merek yang kualitasnya lebih bagus, namun lantaran frekuensi kedatanganku ke kampus dalam sepekan pada semester ini tidak begitu intens, niat itu kemudian malah tertarik-ulur begitu saja.

Untuk bisa menginjakkan kaki di kampus, dari stasiun kereta listrik ini aku mesti menyambung langkah lagi dengan armada bus berikutnya, yaitu Bus T231. Bus bertarif satu Ringgit yang saban hari berbolak-balik mengangkut ratusan mahasiswa dari Stesyen LRT Putera Gombak ke kompleks “kampus biru” IIUM. Bus yang kerap mengingatkanku pada Bus 80 Coret dan bus-bus sejenis di Cairo sana. Tepat, karena mayoritas penumpangnya adalah mahasiswa-mahasiswa asing dari berbagai negara yang tengah menimba ilmu di IIUM.

Dan di stasiun kereta listrik paling ujung ini, adalah suatu kesyukuran bila berjumpa Bus T231 yang segera siap bertolak ke IIUM. Tak perlu lama menanti, waktu dan tenaga pun bisa dihemat. Namun bagaimana jika yang terjadi sebaliknya? Ya, rela tidak rela aku harus mau duduk manis menunggu bersama calon-calon penumpang lainnya. Pernah suatu ketika di suatu petang, kala Bus T231 yang aku tunggu sepertinya masih lama akan bertolak, sementara perkuliahan pada hari itu akan dimulai beberapa menit lagi. Tanpa pikir panjang, aku dan tiga orang mahasiswa asal Afrika yang bernasib serupa berinisiatif untuk segera melarikan diri dengan taksi, kendati dengan konsekwensi harus membayar harga lebih mahal.

Kembali ke ide utama cerita tentang sosok yang aku ketengahkan di awal catatan tadi. Ya, sesosok penumpang yang menyita perhatianku itu adalah seorang bapak tua tunanetra yang sering kujumpai di Bus T203 ini. Bahkan belakangan aku mulai mengingat-ingat, sepertinya setiap kali aku berada di bus ini, bapak tersebut hampir selalu berada satu bus denganku. Usianya sudah sangat renta. Jika kukira-kira sekitar tujuh puluhan tahun. Kendati demikian, ia masih terlihat kuat dan bugar. Fisiknya pun tampak cukup gemuk dan berisi. Hanya saja, kedua kelopak matanya selalu terkatup rapat. Ya, ia ditakdirkan buta. Karena indera penglihatannya terganggu, selama ini kutangkap ia selalu dipandu oleh sebatang tongkat yang menjadi mata dan penunjuk jalan baginya. Biasanya bapak tua itu akan naik di dua halte setelah halte tempatku biasa menaiki bus. Yang kerap membuatku bertanya-tanya, dengan keadaan tidak mampu melihat seperti itu, bagaimana ia bisa menghafal langkah untuk sampai ke halte? Bagaimana ia menyeberangi Jalan Sri Gombak yang selalu ramai dengan lalu-lalang kendaraan ini? Siapa bapak itu? Di mana istri dan anak-anaknya? Pergi ke mana ia selama ini? Dan sederet pertanyaan lainnya berpendar-pendar di dalam benakku setiap kali memperhatikan lekat-lekat sosok bapak tua itu.

Rupa-rupanya, bapak tersebut tak sendiri di dunia ini. Beberapa kali pandangan mataku berhasil mengabadikan sikap empati dan kemurahan hati orang-orang terhadapnya. Setiap kali ia hendak menaiki Bus T203 ini, sosok-sosok yang membantu menuntun langkahnya hingga ke dalam bus selalu saja orang-orang yang berbeda, yang notabene adalah sama-sama penumpang bus sepertiku dan bapak tua itu. Sekali waktu seorang lelaki berwajah Melayu seperti beliau. Esoknya lagi sesosok wanita muda berparas oriental China, dan di lain hari seorang ibu berperawakan gelap khas India yang tengah membawa banyak barang belanjaan. Menariknya, beberapa kali sopir Bus T203 ini pun bahkan langsung turun tangan memapah beliau dengan sabar. Masya Allah. 

Sungguh, aku selalu berhasil dibuat tertegun dan terharu oleh pemandangan-pemandangan semacam itu. Pemandangan nyata yang membuatku tidak merasa seperti di kota besar sekelas Kuala Lumpur. Selembar sketsa yang seolah ingin memperlihatkan kepadaku betapa rukun dan harmonisnya etnis Melayu, China, dan India di Malaysia ini. Lebih dari itu, ia sesungguhnya adalah sepotong potret natural yang berhasil mematahkan stigma yang terbentuk di dalam pikiranku bahwa kebanyakan penduduk kota besar adalah mereka yang suka bersikap masa bodoh dan tidak mau ambil pusing dengan penderitaan orang lain, yang sedikit-sedikit bilang, “Derita loe!”, yang prinsip hidupnya, “gue-gue, loe-loe”, yang cenderung apatis dan egois, dan yang kesemua itu kian diperparah dengan rasa curiga-mencurigai yang begitu menggurita di antara mereka.

Tak dinyana, ketakjuban dan keherananku pada sosok bapak tua tunanetra tersebut ternyata tak berhenti sampai di situ. Selama ini aku hanya memperhatikan perjalanan bapak tua itu hingga rute pamungkas bus ini, yaitu di Stesyen LRT Putera Gombak. Sebab, setelah itu aku harus meneruskan perjalanan dengan bus selanjutnya ke arah kampus, sehingga sesudah itu seolah-olah aku sudah tidak ingat dan terpikir lagi tentang ke mana ia selanjutnya setelah sampai di stasiun kereta listrik ini. Hingga pada suatu ketika, di sepenggal Sabtu pagi, saat aku hendak meluncur ke bilangan Wangsa Maju guna memenuhi jadwal pekanan mengajar privat untuk anak seorang ekspatriat di sana, aku kembali satu bus dengan bapak tua itu. Betapa terkejutnya aku. Setelah aku turun dari bus dan segera menghambur menuju pelataran stasiun LRT untuk menghindari antrian pembelian token masuk kereta listrik, beliau dengan langkah tertatih-tatih rupanya berada di belakangku. Sekonyong-konyong lalu kulihat seorang petugas stasiun ini menggamit tangan beliau, lantas membantunya menaiki eskalator sampai bapak tua itu berada di tepi perhentian kereta LRT.

Setelah kereta tiba, lagi-lagi aku menangkap pemandangan terpuji itu. Seorang gadis berwajah China yang berpenampilan modis terlihat membimbing beliau memasuki kereta dan mendudukkannya dengan hati-hati di kursi penumpang yang dikhususkan untuk “orang kurang upaya”. Dalam hati aku membatin, sepertinya penumpang dan orang-orang yang sering menaiki Bus T203 dan kereta LRT ini sudah kenal dan familiar dengan bapak tua itu. Buktinya, baik di halte maupun di stasiun, siapapun akan dengan spontan membantu beliau tanpa diminta. Kereta listrik pun mulai melaju. Kala itu aku duduk di kursi penumpang sebelah ujung, sementara bapak itu berada agak di tengah. Sejurus kemudian, kereta sudah menyentuh bibir Stesyen Wangsa Maju. Itu artinya dalam beberapa jenak ke depan aku akan turun di stasiun selanjutnya, yaitu Stesyen Sri Rampai. Aku mulai berkemas-kemas. Saat itu, kuamati sekilas bapak tua tadi. Ia masih duduk dengan tenang di posisinya semula. Keherananku belum terjawab. Hendak ke mana bapak tua itu? Dengan kereta listrik yang melaju kencang dan sesekali berhenti begini, apakah untuk sampai ke tujuan, ia dengan kesendiriannya itu mampu membaca arah dan menandai sebanyak 24 stasiun yang berujung di Stesyen Kelana Jaya itu?

Pada akhirnya di sepotong senja, saat aku baru kembali dari kampus seperti biasa, sosok itu kembali satu bus denganku dalam perjalanan pulang ke Pinggiran Batu Caves. Kali ini di dalam Bus T203 ia duduk persis di hadapanku. Dari hasil pandangan mata, aku bisa mengetahui bahwa rupa-rupanya bapak tua itu selama ini pergi bekerja. Kuamati ia mengenakan semacam seragam kerja berwarna biru muda yang dipadu dengan celana berwarna gelap, sebuah tas kecil hitam, di samping sebilah tongkat yang selalu menemaninya ke mana-mana. Di bagian kanan atas kemejanya itu terpampang nama “Musa Sabri” yang terjahit rapi. Sementara di bagian kiri saku kemejanya, aku bisa membaca dengan jelas tulisan “Just” Massage and Reflection dan nomor telepon selulernya. Benar, di usianya yang sudah senja, ternyata bapak tua tunanetra itu masih bekerja sebagai ahli pijat refleksi yang lokasinya entah di mana. Artinya, dari pukul delapan pagi hingga waktu Isya menjelang, entah berapa kali dalam sepekan dan bahkan mungkin setiap hari, ia dengan langkah terbata-bata harus menyisir jarak yang cukup jauh dari Pinggiran Batu Caves dengan menaiki bus lalu menumpang kereta listrik LRT demi bekerja. Ya, sekali lagi demi bekerja.

Bayangkan, di tengah usianya yang telah renta dan dengan keterbatasan indera yang ia miliki, sungguh tak ada alasan apapun baginya untuk tidak bergerak mencari rezeki dari bulir-bulir keringatnya sendiri. Padahal dengan kondisinya yang sedemikian rupa, sejatinya ia sangat patut untuk bersantai-santai duduk di rumah sembari menanti dan mengharapkan belas kasihan dari sesama, namun ia tidak memperbuat hal demikian. Ia enggan bergantung kepada orang lain. Ia seolah ingin menyampaikan kepada siapapun sebait petuah rabbani yang terpatri dalam Surat At-Taubah: “Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amal-amal kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui akan hal gaib dan nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.”  Ia pula ibarat jelmaan malaikat di bumi yang hendak mengingatkan sebaris titah nabawi, “Sebaik-baik makanan adalah yang dihasilkan oleh tangan sendiri.” 

Maka, apa yang diperbuat oleh Pak Cik Musa Sabri itu sungguh merupakan pukulan telak bagi mereka yang masih punya segalanya: raga yang sehat dan indera yang lengkap, tapi sebentar-sebentar kerap mengeluhkan kesulitan, sedikit-sedikit merutuki keadaan, bahkan cenderung menyalahkan orang-orang. Padahal kesemua itu hanyalah alibi akan lemahnya diri untuk mau giat berusaha. Sejak saat itu, diam-diam aku punya keinginan singkat terhadap beliau. Suatu hari, aku ingin mengajaknya bercakap-cakap ringan sepanjang perjalanan, menuntun langkahnya menaiki eskalator stasiun, dan menggamit tangannya memasuki kereta.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Seorang pembelajar yang hobi memungut hikmah-hikmah yang bertebaran dan merekamnya dalam tulisan. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana di International Islamic University Malaysia (IIUM), Kulliyah Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences (IRKHS).

Lihat Juga

Komplek Masjid Suci Al-Aqsha. (kispa.org)

Ketika Pembebasan Masjid Al-Aqsha Telah di Pelupuk Mata