Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ihsan, Prinsip Perasaan Seorang Muslim

Ihsan, Prinsip Perasaan Seorang Muslim

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Islam ini berdiri bukan hanya berlandaskan dua rukun yang selama ini dikenal oleh khalayak umum, yaitu rukun iman dan rukun Islam. Namun pada hakikatnya ada tiga rukun dalam tubuh Islam di mana kelengkapan ketiganya merupakan bagian dari kesempurnaan Islam. Selain rukun iman dan rukun Islam, terdapat rukun ihsan. Dua rukun pertama yang tersebut sudah sangat sering dibahas bahkan masuk dalam kurikulum pendidikan formal.

Rukun ihsan sering tak terbahas secara detil bahkan dalam instansi pendidikan formal sekalipun, sehingga menyebabkan pemahaman kita terhadap Islam menjadi tidak menyeluruh. Padahal Ihsan memiliki peranan penting dalam batang tubuh Islam. Jika rukun iman dianggap sebagai pondasi agama ini, rukun Islam dianggap sebagai tiang agama maka rukun ihsan sebagai atap dari sempurnanya agama ini.

Ihsan memiliki asal kata hasana yuhsinu yang berarti berbuat baik. Rasulullah SAW menjelaskan tentang pengertian ihsan yang tercatat dalam kitab hadits arbain yaitu pada hadits kedua. Ketika Malaikat Jibril datang dalam wujud manusia menanyakan iman, Islam dan ikhsan. Rasulullah saw menjawab mengenai pengertian ihsan yaitu “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Jawaban Rasulullah saw tersebut kemudian dibenarkan oleh Jibril. Setelah Malaikat Jibril pergi maka Rasulullah saw bersabda kepada para sahabat beliau di sekitarnya, “Inilah Jibril yang datang mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian.” Sehingga benarlah jika iman, Islam dan ihsan menjadi bagian dari bangunan agama Islam ini.

Kita sebagai kaum muslimin, maka sudah sepantasnya ihsan harus terkait erat dalam hati-hati kita. Ihsan bukan hanya berbuat baik seperti arti bahasa dari kata ihsan. Namun lebih dari itu, segala hal yang dilakukan atau yang dilewati dalam hidup seorang muslim maka harus dilaluinya dengan perasaan merasa selalu melihat Allah Azza wa Jala.

Maka dengan merasa melihat Allah atau setidaknya merasa yakin diawasi oleh Allah, malu bagi kita yang muslim untuk berbuat apa-apa yang buruk atau melakukan hal baik namun melaksanakan dengan buruk atau setengah-setengah. Dengan merasa melihat Allah atau diawasi Allah,  kita harusnya malu untuk beribadah tak maksimal ketika limpahan nikmat-Nya tak terhitung. Dengan merasa melihat Allah atau diawasi Allah, maka kita harusnya berbuat yang terbaik sesuai kemampuan kita dalam kerja-kerja kita, sehingga Allah ridha pada kerja-kerja kita.

Inilah pentingnya ihsan, merasa selalu diawasi oleh Allah Azza wa jala, sehingga kita akan selalu berbuat dengan amalan terbaik kita. Bukan karena ingin dilihat oleh orang lain atau ingin menjadi buah bibir teman kerabat. Namun karena keinginan memberi yang terbaik bagi Sang Khaliq. Karena Allah telah berfirman, “Dan berbuat baiklah kalian, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah: 195).

Untuk itu marilah bersama kita saling mengingatkan dalam kebaikan, mencoba untuk memperbaiki kualitas amal kita perlahan-lahan dengan terlebih dahulu memperbaiki kualitas hati-hati kita, kualitas perasaan kita dalam melakukan segala hal dalam hidup ini. Yaitu dengan ihsan dalam merasa, kemudian dilanjutkan dengan ikhlas dalam beramal.

Semangat untuk terus berkebaikan, karena untuk kebaikanlah kita diciptakan di dunia ini.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,89 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Achmad Pahlevy Ramadan Sahubawa
Mahasiswa Fakultas Geografi UGM. Kepala Departemen Pengembangan Organisasi dan SDM, Himpunan Mahasiswa Jurusan Sains Informasi Geografi dan Pengembangan Wilayah ARDGISS (Association of the Regional Development and Geographic Information Scinece Students) 2013. Peserta Beasiswa Program Pembinaan SDM Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri Reg.3 Yogyakarta.

Lihat Juga

Pernyataan Sikap HIMA PERSIS Terhadap Genosida Muslim Rohingya