Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ikhlas, Lebih dari Sekadar Kata-Kata

Ikhlas, Lebih dari Sekadar Kata-Kata

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com  – Asumsi bahwa praktik tak semudah teori, nampaknya berlaku di setiap ilmu tak terkecuali ilmu ikhlas. Kendati kerap digaungkan sejak dini, mulai dari bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi ikhlas nampaknya belum menjadi karakter yang mudah untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sejatinya ikhlas bukan merupakan kata yang asing lagi terdengar di telinga kita. Begitu sederhana namun memiliki makna yang sangat dalam. Maka tidak mengherankan bagi setiap muslim jika ikhlas merupakan satu awalan yang mutlak dilakoni dalam menjalankan setiap ibadah dan amalannya. Jika sesuatu di awali dengan hal-hal yang baik maka niscaya akan berakhir dengan kondisi yang baik pula. Kiranya begitulah opini yang beredar di kalangan kita sekalian.

Sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda yang hingga kini kita dapat temui di urutan pertama kumpulan Hadits Arba’in an-Nawawi tentang urgensi keikhlasan sebuah niat, salah satu penggalan haditsnya berbunyi sebagai berikut: Dari Amirul Mu’minin, Abu Hafsh Umar bin al-Khathab RA. Berkata,

“Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan…..”. (Riwayat dua imam Hadits, Abu Abdullah  Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari dan Abu al-Husain, Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naishaburi, di dalam ketua Kitab Shahih-nya yang merupakan kitab paling shahih yang pernah dikarang).

Berbicara mengenai keikhlasan seseorang, tentu bukanlah perkara yang mudah. Ini semua karena berkaitan dengan hati yang notabenenya tidak bisa diukur dengan parameter buatan manusia manapun di muka bumi ini. Idealnya, ikhlas bukan pelafadzan oleh lisan dan bukan pula ditunjukkan melalui perilaku tertentu. Hingga pada akhirnya muncul pertanyaan, lantas bagaimana ikhlas yang sesungguhnya?

Pernahkah penolakan yang kuat tersemat begitu dominan di relung-relung hatimu sebelum engkau melakukan sesuatu? Pernahkah terselip gerutu dan umpatan yang menyelimuti benakmu ketika kau tengah melakukan sesuatu? Atau pernahkah engkau merasa ada rasa menyesal tertinggal di hatimu sesaat setelah melakukan sesuatu?

Sepertinya jawaban atas semua pertanyaan tersebut jika ditanyakan ke semua insan di bumiNya ini akan sama, PERNAH. Ya begitu mudah dijawab, semuanya pernah. Saya, Anda, dan kita tentu pernah mengalaminya, baik pada pertanyaan yang pertama maupun kedua atau bahkan ketiga-tiganya. Setiap rasa yang harusnya kita tinggalkan jauh-jauh dalam mengaplikasikan ikhlas. Tak heran jika ikhlas yang mengakar budaya hingga saat ini hanya sebatas kata-kata, tidak lebih.

Peringatan hati-hati ditujukan kepada kita semua karena kondisi tersebut mengindikasikan kurangnya dan tak menutup kemungkinan tak adanya niat ikhlas yang tersemai. Esensi dari ikhlas yang sesungguhnya tak pernah menuntut pamrih dari setiap perbuatan yang dilakukan. Tak pernah mengharap sanjungan dari setiap pencapaian yang diraih. Dan yang terpenting tak pernah termotivasi selain oleh Sang Khaliq, Allah SWT. Begitu indah memang, rangkaian proses dan buah hasil dari ikhlas itu sendiri. Semua diprogram dalam rangka menggapai ridhaNya.

Tentunya para pembaca paham mengenai kata pamrih yang dimaksud penulis di sini. Bukan berarti setiap pekerja tidak ikhlas karena sesudahnya selalu menuntut imbalan dalam bentuk gaji. Ini memiliki perbedaan kontekstual yang jelas, karena di salah satu sisi terdapat kesepakatan yang jelas di awal terkait dengan usaha yang diberikan dan upah yang di dapat. Sedangkan di sisi lain, amalan sosial tentunya tidak memiliki kesepakatan atas setiap hal yang mereka berikan atau lakukan. Namun yang terpenting dan persamaannya adalah bahwa keduanya harus di awali dengan niatan ikhlas, tidak menggerutu ketika melakukan dan tidak menyesal setelahnya.

Diri ini pun tak pernah luput dari kekhilafan, tanpa bermaksud menggurui siapapun dan pihak manapun tulisan ini hanya sekadar share atas unek-unek yang selalu berseliweran dalam pikiran. Rasanya sungguh malu apabila kita mengaku sebagai pribadi muslim namun tak pernah berusaha untuk selalu ikhlas. Maka, sudah sepatutnya saling mengingatkan sesama saudara muslim. Kita mulai dengan hal yang sederhana namun tak menghilangkan kedahsyatan maknanya, Basmallah. Selalu mengawali setiap perbuatan, langkah dan impian kita dengan menyebut AsmaNya yang begitu mulia. Semoga dalam setiap helaan nafas kita selalu terpatri long term vision berupa ridhaNya. Aamiin Allahumma Aamiin.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswi UNJ

Lihat Juga

Guru Persimpangan Jalan