Home / Pemuda / Cerpen / Haus Akan Ukhuwah

Haus Akan Ukhuwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Bismillah…

Ilustrasi (nurlienda.wordpress.com)
Ilustrasi (nurlienda.wordpress.com)

dakwatuna.com – Di sore hari yang tidak begitu cerah (tampaknya situasi hatiku yang membuatnya tidak cerah) aku mampir di sebuah masjid pinggir jalan karena adzan Maghrib telah berkumandang. Masjid yang sepi. Jumlah laki – lakinya mungkin hanya 5 orang. Yang perempuan hanya ada aku, seorang nenek (sepertinya rumahnya daerah sini), dan seorang akhwat (ku kira) yang usianya sekitar 3 tahun di atasku. Saat shalat dimulai, aku memilih berdiri di tengah si nenek dan sii… kita sebut saja ‘si mbak’ ya. Waah si mbak ini sepertinya sang aktivis dakwah. Hijabnya sangat menutup aurat.

Saat sang imam membaca surah pendek di rakaat pertama, tiba – tiba aku merasakan tubuhku bergetar. Waduh, kayaknya ini perut ngga bisa dikompromi -__-“. Namun ternyata aku salah. Mbak di sampingku menangis. Walau tidak bersuara, namun isak tangisnya dapat kudengar. Konsentrasiku buyar. Kucoba tak peduli dan kembali fokus.

Selesai dzikir dan doa, kami berjabat tangan. Iseng aku penasaran melihat wajah si mbak yang agak sedikit menunduk, matanya agak sembab. Namun ia berusaha tersenyum ramah.

Tak lama kemudian, si nenek keluar meninggalkan masjid. Si mbak merapikan jilbabnya di tempat yang agak jauh dariku. Aku memilih nyantai-nyantai bersandar di tembok. Huaaah lelahnya seharian berteman dengan komputer. Pikiranku mulai melayang, ‘lauk apa yang sedang menungguku di rumah yaaaa???’

Tiba – tiba si mbak tadi pamit, membuyarkan lamunanku, “duluan yaaa” masih dengan senyumnya. Berusaha aku membalasnya dengan sisa keramahanku (jahat!) “Mari mbaaa”

Ngga mau aku jadi penghuni masjid terakhir, bergegas aku merapikan jilbab dan ranselku. Saat melewati tempat di mana si mbak tadi merapikan jilbabnya, aku menemukan lipatan kertas karton berwarna hijau. Aaah lumayan buat kipas kipas di bus nanti.

Saat aku buka lipatannya, ternyata isinya padat dengan tulisan yang rapi dan teratur. Pikiranku mulai bertualang, ‘jangan jangan ini curhatan si mbak tadi… hihihi’. Iseng ku bawa pulang, dan, inilah isinya. Aku bocorin loh (maaf yaa mbaak)

“Untukmu ukhtiy, aku tak sanggup berbicara langsung denganmu. Namun ingin kuluapkan isi hatiku. Maka kulampiaskan semua rasa pada pena dan kertas ini.

Ukh, tertegun ku melihat foto kita bersama waktu di SMA yang hingga kini masih tersimpan rapi di dompetku. Aku rindu kalian ukh, aku rindu kebersamaan kita hingga larut demi menjalankan tarbiyah. Aku rindu menghabiskan makan siangmu dan engkau pun rela. Aku rindu teguranmu saat aku lupa memakai kaos kaki dan berjalan keluar kelas.

Maafkan aku tidak pernah membalas smsmu, telepon darimu pun hanya sesekali kuangkat. Maaf karena telah membuatmu khawatir. Maaf karena telah menyusahkanmu dengan tugas tugas yang seharusnya menjadi amanahku.

Bukan, bukan aku membencimu ukh. Aku tidak ingin menyulitkanmu. Tidak ingin membawamu larut dalam permasalahan keluargaku. Tiga bulan sudah kita tak bertemu. Tiga bulan sudah aku meninggalkan tarbiyah. Tiga bulan sudah aku tak melihat wajahmu. Namun aku malu untuk memulainya, aku malu untuk bertemu denganmu ukh. Masihkah kau mau menerimaku dalam tarbiyah ini? Aku takut kau marah padaku. Maka ku putuskan untuk menjauh darimu. Tiba – tiba, aku menerima info bahwa kau terbaring lemah di rumah sakit. Saudara macam apa aku ukh?????

Egois aku karena tlah membiarkanmu berjuang sendiri! Egois aku selalu absen dalam jurnal dakwah kita! Egois aku yang selalu memikirkan masalahku, tidak pernah menanyakan kabar saudariku! Namun ku ingin kau tahu, kau yang selama ini membuatku bertahan. Aku tidak ingin kehilanganmu. Maka sebelum ku menjenguk untuk meminta maaf, izinkan aku mempersiapkan diri dengan secarik tulisan ini yang akan kusimpan, sebagai bukti bahwa AKU MENYESAL…

Kini kusadari, aku haus akan ukhuwah… Izinkan aku memperbaiki noda yang tlah ku goreskan dalam perjuangan kita bersama, kumohon, terima aku kembali… 

Ukhtiy, uhibbu kifillah…

 

Begitulah isinya. Satu hal yang menyadarkanku, aku lupa dengan keadaan ukhuwah ku…

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Anak kedua dari tiga bersaudara yang hobi main diluar rumah. Lebih suka tidur dari pada nonton sinetron, suka tilawah dan belajar bahasa Inggris dari musik, serta sering iseng-iseng menulis.

Lihat Juga

Smartphone Is Doesn’t Mean Not To Communicate