Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / “Pathakali”, Sebuah Renungan untuk Semua Anak Korban Perang di Dunia Ini

“Pathakali”, Sebuah Renungan untuk Semua Anak Korban Perang di Dunia Ini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Berbagai kebijakan perundang-undangan hingga deklarasi perjanjian internasional telah dibuat puluhan tahun silam bahkan sejak perang badr terjadi demi melindungi kepentingan anak. Kenapa anak? Sebab bila seorang ayah menjadi tulang punggung bagi keluarganya, maka anak adalah tulang punggung bagi masa depan bangsanya. Mulai dari Konvensi Hak Anak, Undang-Undang Perlindungan Anak, Beijing Rules dan instrumen hukum humaniter lainnya.

Tapi saat kecamuk perang berlangsung, segala macam produk hukum itu menguap seketika. Payung hukum yang seharusnya melindungi hak-hak anak untuk berada dalam lingkungan yang aman, belajar dan bermain telah terkatup. Anak-anak dan para wanita tetap saja menjadi korban paling menyedihkan dalam setiap peperangan.

Mendapat akses pendidikan, kesehatan, ruang bermain, identitas diri, sandang, pangan dan papan tidak lagi sekadar kebutuhan, melainkan hak asasi yang dijamin hampir semua negara di dunia ini. Hari anak Internasional telah menjadi tanda bahwa dunia menyadari pentingnya perlindungan terhadap anak, khususnya di tempat-tempat rawan dan berkonflik yang masih ada hingga saat ini.

Tengok yang terjadi di negara-negara seperti Suriah, Palestina dan Chechnya. Bukan hanya negara-negara dalam status perang saja, bahkan agresi militer, revolusi dan gejolak sosial-politik lainnya biasa dipastikan anak-anak lah yang pertama kali menanggung derita.

Teringat sebuah tulisan buah tangan Tetsuko Kuryanagi, seorang duta kemanusiaan UNICEF,

“Miss Kuroyanagi, saat Anda kembali ke Jepang, ada satu hal yang saya ingin Anda ingat; orang dewasa meninggal sambil mengerang, mengeluhkan rasa sakit mereka. Tapi anak-anak hanya diam. Mereka mati dalam kebisuan, di bawah daun-daun pisang. Memercayai kita, orang dewasa”

Ya, betapa anak-anak kecil dalam angan suci mereka berfikir bahwa orang-orang dewasa seperti kita selalu melindungi dan memberi rasa aman pada mereka. Membuka ruang keceriaan dan kebahagiaan sepanjang hidup mereka. Dengan keyakinan itulah mereka beri sepenuh cinta untuk kita. Bahkan di saat rumah, sekolah, dan tempat bermain mereka luluh lantak oleh desiran peluru dan bom, cinta mereka tetap saja utuh. Ketegangan dan cengkraman berbagai kepentingan politik tidak bisa membungkam senyum manis mereka.

Hingga mereka tampak layaknya ‘pathakali’ (bunga di tepi jalan dalam bahasa Bengali, pen). Bunga-bunga yang bertebaran di sepanjang jalan perjuangan orang-orang dewasa yang bergelut dengan benturan antar kepentingan yang dipaksakan. Bunga-bunga yang rapuh tak berdaya seharusnya memang patut dijaga. Sebab pada waktunya ia mekar merekah, pesona keindahannya takkan tergantikan.

Maka, memperjuangkan hak-hak anak adalah sebuah keniscayaan. Mengutip perkataan seorang ummahat, yang juga istri dari Kang Aher, Gubernur Jawa Barat periode 2013-2017, “konsistensi adalah kunci utama kita dalam berjuang. Karena kita sangat sadar, bahwa akhir konsistensi itu hanyalah kematian.”

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...Loading...
Mahasiswi S1 Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ketua Keputrian Lembaga Dakwah SERAMBI (Senantiasa Ramah Bernuansa Islam) FHUI 2013.

Lihat Juga

Pemukim ilegal Yahudi nistai Al-Aqsha. (islammemo.cc)

Usai Larang Muslimah Masuk, Puluhan Pemukim Yahudi Nistai Masjid Al-Aqsha