Home / Narasi Islam / Life Skill / Mewujudkan Kematangan

Mewujudkan Kematangan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Taman baca anak-anak PKS Gresik. (ist)
Taman baca anak-anak PKS Gresik. (ist)

dakwatuna.com – Matang adalah sebuah kompleksitas, titik di mana nilai menjadi sempurna. Kalau diibaratkan buah, inilah saat di mana buah siap untuk dipanen yang akan memberi manfaat pada si penggembala lalu. Namun kematangan jiwa tak lahir seiring waktu, ia harus dibentuk bukan lahir begitu saja. Dalam bab jiwa banyak yang tua tapi tidak matang, kehilangan jati diri. Lihatlah berapa banyak pemuda Indonesia yang bergaya Korea, punya idola artis-artis Korea, nonton film Korea, dengar lagu Korea lupa kalau ia lahir di sini. Ketika suatu hari nanti era ke-Korea-korean ini berakhir mereka menjadi limbung, tidak tahu hendak ke mana mencari pijakan, semakin hilang jati diri.

Kawan mari cari pijakan yang kokoh, banggalah dengan diri sendiri. Mari kita eja langkah mewujudkan kematangan itu, sama belajar menjadi lebih baik…

Banyakkan Membaca

Di antara banyak faktor penumbuh kematangan adalah membaca, agar pikiran tidak sempit, terbuka, ilmu bertambah dan mengalami peningkatan pada cara berpikirnya. Banyak membaca saja belum tentu ada gunanya, karena bahan bacaan menentukan kualitas pribadi. Bacalah buku yang mempunyai cara berfikir yang lebih mendalam, membahaskan sesuatu yang lebih besar, dan menyentuh akan konsep-konsep serta teori-teori tertentu. Bukan komik, cerpen dan Novel. Dalam buku Spiritual Readingnya Dr. Raghib As-Sirjani meletakkan barisan komik, cerpen, dan Novel pada urutan terakhir buku-buku yang harus dibaca, pada urutan teratas adalah Al-Quran.

Kita tidak membaca untuk langsung percaya. Kita membaca untuk mengumpul ilmu dan membuat perbandingan. Kita membaca untuk melihat cara berfikir, bagaimana manusia memandang sebuah perkara. Kita membaca untuk meningkatkan kualitas diri. Kita membaca untuk lebih memahami karena “Membaca adalah sebuah jendela yang membuat seseorang bisa menelaah dan mengetahui segala sesuatu yang dimiliki orang lain dengan cara yang sangat mudah dan simple”

Namun, aktivitas membaca menjadi sesuatu yang sudah ditinggalkan oleh sebagian kita, tergantikan oleh kesukaan akan hiburan, membaca novel-novel cinta, menonton drama dan film. Kesukaan akan hiburan yang hanya membuat mereka tertawa dan rasa seronok semata.

Duduk bersama orang yang lebih tua.

Selepas shalat Jum’at saya membiasakan untuk berkumpul dengan Bapak-Bapak, siapa saja. Meluangkan waktu untuk duduk bersama orang yang lebih tua, sangat membantu dalam proses kematangan. Tidak harus mereka adalah orang yang lebih berilmu, tetapi karena mereka orang yang lebih tua, tentu telah hidup lebih lama dibanding kita sangat banyak hikmah yang bisa kita kutip pada mereka.

Apalagi jika orang yang lebih tua itu tersebut memiliki ilmu yang banyak, akan semakin perlu untuk kita meluangkan banyak masa dengan mereka. Dengan demikian, kesalahan yang pernah mereka lakukan ketika muda tidak lagi kita ulangi. Jika pun kita berbuat kesalahan, itu adalah yang baru. Sehingga grafik umat ini akan meningkat naik.

Mengembara

Mengembara dengan mata yang terbuka. Akan sangat baik jika kita bisa mengunjungi benua lain, ini mimpiku dan mungkin juga mimpimu. Maka sangat beruntung mereka yang telah bisa mengunjungi tempat-tempat yang jauh dari di mana mereka dilahirkan. Jika tidak bisa sejauh itu, kunjungilah tempat-tempat terdekat yang belum pernah didatangi. Saya punya sederet target tempat akan dikunjungi tahun ini. Yakinlah ada banyak hikmah sepanjang perjalanan.

Keluar dari tempat kita untuk beberapa waktu, mengunjungi tempat-tempat yang baru, berinteraksi dengan orang-orang yang baru, mengenal banyak kebiasaan dan adat, mempelajari pola tingkah laku dan etika, merasakan hidup dalam belahan bumi yang lain.
Lalu kaitkan dengan kepahaman yang ada dalam diri kita. Pada ilmu-ilmu yang telah kita pelajari di bangku kuliah, pada pemikiran-pemikiran yang telah kita pahami di buku-buku yang kita baca, pada konsep dan teori yang pernah kita perhatikan. Di situlah kematangan kita akan meningkat. Kita akan berfikir dengan pikiran yang lebih luas, lebih universal, kita akan melihat dengan pandangan yang lebih sederhana.

Ah saya tak ada maksud menggurui… mungkin ada banyak faktor lain yang akan mempengaruhi kematangan, maka lakukanlah apa saja agar tidak menjadi bangsa latah yang kehilangan jati diri, karena tidak semuanya mesti ditiru.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 5,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Adrian Fetriskha, SH.
lulusan sebuah SD inpres di sudut jauh sumatera barat

Lihat Juga

Rohingya

DPR Desak Pemerintah Indonesia Bersikap Tegas atas Insiden Kekerasan di Rohingya