Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Dunia Asap dan Ampas

Dunia Asap dan Ampas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com

Lelaki itu sibuk dengan dunianya sendiri
Dunia asap dan ampas
Tembakau berbalut kertas dan cairan hitam pekat beraroma khas itu menjadi jamuan wajibnya

Lelaki itu sibuk dengan dunianya sendiri
Dunia asap dan ampas
Ia seakan tak peduli dengan dunia sekelilingnya

Di sampingnya ada wanita cantik yang wajahnya terlihat lebih tua dari usianya
Seorang wanita yang setiap fajar menyingsing dipaksa memutar otak;
“Bagaimana caranya agar asap dapur tetap mengepul?”

Di sampingnya ada seorang anak yang sedang sibuk berkutat dengan tumpukan buku
Di sampingnya juga ada anak gadis yang mulai beranjak dewasa
Anak gadis yang sebentar lagi pantas memiliki dunia baru…

Namun, seakan ia tak peduli…
Asap dan ampas telah mengalahkan segalanya

Lelaki itu sibuk dengan dunianya sendiri
Dunia asap dan ampas
Tembakau berbalut kertas dan cairan hitam pekat beraroma khas itu menjadi jamuan wajibnya
Andai aku berada dihadapannya, ingin aku berteriak lantang

Berteriak lantang bahwa;
“Dunia tak sekadar dunia asap dan ampas”
“Dunia ini luas”
“Dan setiap pemimpin nantinya akan ditanya tentang keluarga yang dipimpinnya”

Lelaki itu masih sibuk dengan dunianya sendiri
Dunia asap dan ampas
Tembakau berbalut kertas dan cairan hitam pekat beraroma khas itu menjadi jamuan wajibnya

Lelaki itu terkurung dalam dunianya sendiri
Dunia asap dan ampas
Dunia asap dan ampas yang mengerdilkan potensinya

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Emi Rohmah
Seorang muslimah yang merantau di Kota Batam.

Lihat Juga

Tadabbur Al-Quran Surat Al-Qiyamah Ayat 37-40: Kebangkitan Setelah Kematian