Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kearifan di Tengah Badai

Kearifan di Tengah Badai

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Suasana penonton dalam sebuah acara bedah buku di Islamic Book Fair 2013, Istora Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta, Sabtu (9/3/2013). (mahdi)
Suasana penonton dalam sebuah acara bedah buku di Islamic Book Fair 2013, Istora Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta, Sabtu (9/3/2013). (mahdi)

dakwatuna.com – Macet, berdesakan dan bising yang menjangkiti para penduduk Ibu Kota seakan sirna saat memasuki talk show bertajuk Narasi kearifan, Dari Tulisan Ke Tindakan yang digagas oleh Majalah Tarbawi di panggung utama Islamic Book Fair ke 12 bertempat di Istora Gelora Bung Karno.

Talk Show yang diisi oleh Penulis best seller sekaligus mantan wakil ketua DPR RI ini seakan menemukan momentum kearifannya. Apalagi pematerinya, Anis Matta Lc, seringkali menjadi tujuan fitnah oleh lawan politiknya. Belum lagi fitnah ‘Sapi Berjenggot’ yang diinisiasi oleh salah satu majalah terkemuka di negeri ini, seakan bersepakat bahwa acara ini tidak akan dikunjungi oleh banyak orang. Sehingga sedikit banyak, Anis Matta merupakan salah satu contoh nyata orang arif di negeri ini.

Namun, prediksi seringkali tidak selaras dengan fakta. Ruangan yang dingin lantaran AC itu disulap menjadi hangat bahkan bergelora oleh Bung Anis. Kobaran semangatnya berhasil ditularkan merata ke dalam diri setiap pendengar. Bahkan, acara yang dilaksanakan di hari kerja itupun (7/3), dikunjungi oleh ratusan orang dari berbagai belahan Indonesia. Baik yang kebetulan sedang berkunjung ke Jakarta untuk menyaksikan pameran buku Islam terlengkap dan terbesar di Asia Tenggara itu, atau juga yang sengaja hadir untuk menyaksikan taujih Bung Anis yang telah lama malang melintang di dunia kepenulisan, motivasi, politik dan dakwah.

Bahkan, salah seorang pengunjung yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, “Saya sengaja hadir. Meskipun harus membolos kerja. Karena ini adalah kesempatan langka.” Ketika akhir acara, penulis juga banyak mendengar obrolan para ‘fans’ Bung Anis. Mereka sibuk mengambil gambar Sang Idola yang tengah menuruti permintaan tanda tangan dengan mengatakan, “Ini rezeki nomplok, jangan disia-siakan.”

Sepanjang talk show, kesan membumi masih terlihat oleh sosok kelahiran Bone ini. Postur yang pendek bukanlah menjadi penghalang akan tingginya imajinasi dan cita-cita besarnya untuk bangsa yang tengah terseok-seok ini. Dengan berbekal ‘penyakit’ gila baca yang ia ‘derita’ sejak kecil itu, ia berhasil merangkum ilmu barat dan ilmu timur menjadi satu, tanpa ada pertentangan yang berarti.

Bung Anis yang telah membaca biografi Bung Karno ketika ia menjadi siswa sekolah dasar ini memang piawai merangkai kata dalam retorikanya. Sebuah sajian sederhana, sarat makna, lugas dan dapat dipercaya. Hal ini dilengkapi dengan latar belakangnya yang lulusan syariah di LIPIA. Sehingga ia menjadi sosok yang khas. Memadukan dalil langit dan sejarah nabi dengan tanpa menggurui dan selalu terlihat baru, serta dipadukan dengan fiqih kekinian. Sehingga, tak jarang kita mendapati ungkapan baru semacam ‘ijtihad lapangan’, konversi 40 tahun perjalanan dakwah nabi Yusuf ke dalam bahasa ‘4 kali pemilu’, dan lain sebagainya.

Kecerdasan yang Allah anugerahkan kepada salah satu individu kebanggaan Indonesia ini merupakan hal langka di zaman yang serba instan ini. Ia juga piawai dalam membuat sebuah analogi.

Misalnya, ketika ia menceritakan proses merantaunya ke Jakarta selepas SMA karena istikharah ustadznya, dia mengatakan dengan santa, “Kamu pergilah ke Jakarta.” Kata sang ustadznya. “Jakarta itu rusak.” Lanjutnya. “Anggap Jakarta sebagai neraka.” Katanya menirukan sang ustadz yang kemudian disambut dengan apllaus dari hadirin yang dengan seksama mengikuti penyampaiannya itu.  “Namun, di tengah neraka itu ada secuil surga di sana. Dan masuklah ke dalamnya.” Tuturnya memungkasi cerita.

Akhirnya, acara seperti ini sangatlah ditunggu oleh generasi bangsa yang haus inspirasi. Apatah lagi ketika saat ini, kita kebanjiran berita-berita racun yang menjarah rumah kita dengan paksa atau sukarela. Dan kita, nampaknya harus menyepakati apa yang disampaikan oleh penulis buku Delapan Mata Air kecemerlangan ini dalam kalimatnya yang khas, “Jika Anda ingin menjadi arif, langkah pertama adalah banyak mendengar. Itulah kenapa Allah menciptakan dua telinga dan satu mulut untuk kita. Kemudian banyak berobservasi, serta bersabar. Karena sabar adalah kata sifat yang paling banyak disebut dan diajarkan dalam al-Qur’an.”

Penulis melihat, bahwa Bung Anis adalah sebuah jawaban atas apa yang disabdakan oleh sang Nabi, “Bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dicintai rakyatnya dan mereka saling mendoakan karena rasa cinta itu.” Dan hanya karena cinta, semua peserta sepakat untuk melalui macet, desak-desakan, bising Ibu Kota untuk menghadiri taujih Sang Pahlawan ini. Semoga.

Di akhir acara, Bung Anis masih setia dengan senang hati untuk memenuhi permintaan foto dan tanda tangan buku-bukunya yang dijual juga di stand Majalah Tarbawi tepat di sebelah kanan panggung.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar

Lihat Juga

Kapolri Jend Pol Tito Karnavian (okezone.com)

DPR Minta Kapolri Hati-Hati Kaitkan Unjuk Rasa dengan Makar