Home / Pemuda / Essay / La Tahzan Bro, Takkan Ada Ujian di Atas Batas!!

La Tahzan Bro, Takkan Ada Ujian di Atas Batas!!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Seringkali kita terjebak dalam sebuah kondisi yang mengharuskan kita untuk berjuang sekuat tenaga, berfikir memaksimalkan otak, dan bekerja melampaui batas elastisitas otot kita. Namun di saat kita dihadapkan pada sebuah masalah yang “mungkin” terasa berat bagi kita. Kita seringkali “nglokro” tak semangat, patah arang dan asa, boleh jadi kita bicara “wah ngapain hidup jika banyak masalah seperti ini, mending mati saja” sebuah statement yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang LOSER bahkan PECUNDANG sekalipun. Alasan kenapa kita optimis tuk berhasil dan menjadi PEMENANG adalah sebagai berikut,  pertama Kita adalah manusia kawan, bukan bermaksud kita sombong a.k.a congkak, namun  memang kita sudah diberi berbagai kemampuan dan tentunya otak yang memang sangat berharga dari Allah SWT, tentu semua itu bukan hanya hadiah yang nantinya sebagai pajangan di tubuh kita. Namun Allah memberikannya dengan maksud agar manusia bisa memberdayakan otak dan segala potensi diri untuk bisa menyelesaikan setiap permasalahan yang mendera diri kita, So, mau alasan apa lagi? Malu dan memalukan jika hanya masalah ringan saja kita sudah bilang mau bunuh diri, dsb.

Kedua, jangan lupa sob, Allah berfirman “setiap kesulitan disertai kemudahan”. Jika kita analogikan dalam kehidupan kita, setiap soal pak guru akan memberikan kunci jawaban, setiap penyakit pak dokter dengan izin-Nya akan memberikan obat, setiap “pembuat” virus sekalipun, dia pasti sudah menyiapkan antivirusnya. Dan yang harus kita ingat, setiap kesulitan pasti ada kemudahan, itulah janji Allah.  Apalagi kalau hanya Ujian Nasional, kecil itu..!!! Asal kita mau belajar dan berdoa kemudian diakhiri dengan tawakal Insya Allah pasti bisa wis, toh yang diujikan hanya materi yang telah kita pelajari. Tidak lebih dari itu. Ini nih yang perlu selalu diingat, Kesulitan dan kemudahan itu seolah-olah adalah sebuah 2 face/muka dari uang logam, hadir bersama, hilang bersama. Tidak usah takut dan galau menghadapi permasalahan yang menguji sobat semua, kita cukup berusaha, berdoa, dan bertawakal, apapun usaha kita pasti ada dampak. Coba ingat lagi sebuah firman Allah “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu tidak mengubahnya sendiri” ada sebuah konsep Newton ke-3, hukum aksi reaksi berlaku dalam ayat itu, kita punya usaha, Allah menghadirkan hasil untuk diri kita. Sebuah hukum kausalitas yang memang sudah mutlak adanya.

Ketiga, bolehlah kita berduka, bolehlah kita sedikit meneteskan air mata. Namun itu hanya sementara saja sob. Kita memang manusia yang ditakdirkan untuk selalu punya masalah, kalau gag da masalah, gag usah hidup aja kalo gitu!! Hidup akan termotori oleh dinamisasi kontur kehidupan, ada puncak ada lembah, selama kita hidup di situlah ujian melanda, Allah memberikannya adalah untuk pendewasaan diri kita,. Kita sering main game seperti Mario, sonic dll, di sana setiap kenaikan level pasti kita akan dihadapkan oleh sebuah permasalahan yang besar, begitulah hidup, Allah akan menaikkan derajat kita, setelah kita melewati ujian yang ia berikan. Sebuah kata yang perlu diingat. Allah takkan memberikan ujian di luar kemampuan manusia, tentu jika kita berusaha dan berdoa semua akan terlewati, tidak ada ujian yang tidak bisa dilewati. Yang ada hanyalah alasan-alasan untuk menghindar, menghindar, dan menghindar. Jadi ngapain kita bersusah-susah, La Tahzan bro, Allah bersama kita, kita tinggal berusaha, berdoa, dan bertawakal, Insya Allah kita bukan seorang pecundang dalam permasalahan kita tapi kita adalah solusi dan pemenang dalam setiap permasalahan kita. !! Ganbatte Kudasai!! Hamasah!!

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Phisca Aditya Rosyady
Mahasiswa Master di Departement Computer Science and Engineering di Seoul National University of Science And Technology, Korea. Lahir di Yogyakarta, 31 Agustus 1991. Anak kedua dari tiga bersaudara. Mempunyai hobi di dunia jurnalistik, elektronika dan instrumentasi. Beberapa kali menjuari lomba blog dan karya tulis. Pernah menulis buku "Kami di antara Mereka", Buku " Inspirasi Gadjah Mada untuk Indonesia dan semasa SMA pernah menulis Buku "1000 Anak Bangsa Bercerita Tentang Perbedaan bersama para alumni Program Pertukaran Pelajar Jogja lainnya. Mahasiswa yang juga pernah menjadi santri PPSDMS Nurul Fikri ini aktif di beberapa organisasi seperti di HMEI, IMM Al Khawarizmi UGM, IPM Imogiri, dan BPPM Balairung. Juga menggeluti riset tentang UAV di Tim Quadcopter Elins. Tahun 2011 bersama empat temannya, berhasil membuat System Body Ideal Analyzer melalui PKM-T yang berhasil didanai Dikti. Phisca pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi FMIPA dan juga mendapatkan Anugerah Insan Berprestasi dalam rangka Dies ke-63 UGM dan Dies ke-64 UGM. Sebelum Ia melanjutkan kuliah S-2 nya, Phisca 8 bulan bekerja di salah satu anak perusahaan Astra International di bidang IT consultant sebagai programmer.

Lihat Juga

(Video) Tersangka Pembakar Muslimah di New York Tertangkap Kamera, Hadiah 1000 Dolar untuk Informasi Tentangnya