Home / Pemuda / Essay / Life Is Choice

Life Is Choice

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – SEJAK AWAL, manusia itu merupakan makhluk yang paling ababil di antara makhluk hidup yang ada. Kata ababil sendiri merupakan dari singkatan ABG labil yang jika dicari di KBBI – Kamus Besar Bahasa Indonesia – akan didapatkan arti labil /la·bil/ adalah 1 goyah; tidak mantap; tidak kokoh (tt bangunan, pendirian, dsb). Nah?! Kenapa makhluk yang paling labil?? Let’s check this reality: pernah gak temen-temen masuk ke sebuah toko buku dan tujuan ke sana hanya ingin membeli buku A, namun ternyata di akhir pembelian buku A akan menjadi beberapa buku yang lain + ATK-ATK lainnya. Atau ketika di akhir semester melihat nilai IP yang tidak sesuai target, lalu teman-teman seketika ber’janji’ akan serius kuliah, tugas-tugas tidak dikerjakan ketika hari H pengumpulan dan tidak akan “ketiduran” dalam kelas. Namun di tengah perjalanan kuliah, semua hal itu hilang seketika dan di akhir semester itu pun teman-teman akan menyesal dan ber’janji’ (lagi). Yaa itulah manusia makhluk paling ababil, makhluk yang diciptakan bukan seperti robot yang bekerja sesuai input perintahnya. Karena pada dasarnya kita memiliki perasaan yang bekerja sama dengan otak kita. Inilah yang merupakan hal special yang diberikan-Nya pada kita, kita bisa bergerak sesuai keinginan dan kemauan kita sendiri.

Namun dibalik semua hal itu, perlu kita ingat bahwa orang yang bebas dan tidak terikat oleh sebuah aturan, seperti layaknya seekor rusa yang tidak ikut dengan rombongannya dan siap menjadi santapan seekor singa bersama rombongannya. Jadi, seharusnya yang mengatur kehidupan kita bukanlah perasaan, namun kitalah yang mengatur perasaan untuk kehidupan kita. Life is choice, to be good or to be bad. Tidak pernah ada namanya menjadi netral dalam hidup ini karena akhir dalam perjalanan kita hanya 2 pilihan memasuki surga atau menemani iblis di neraka. Terkadang kita suka mencari berbagai alasan untuk melindungi “ kemauan “ kita agar bisa kita ‘anggap’ bahwa ini baik –menurut kita- . Seperti ketika mencontek ketika ujian, “Ya ini baik untuk mendapatkan nilai dan membanggakan orang tua” atau ketika orang lagi cinta monyet, “Ya ini kan proses menuju pernikahan, harus saling kenal lebih dalam bukannya nikah sebagian dari iman”. Ini salah satu dari berbagai fenomena yang membuktikan kita sebagai manusia suka mencari alasan dan tidak mau jujur mengatakan hal yang kita lakukan itu salah karena pada dasarnya hati itu tidak pernah berbohong namun setan-lah yang menghembuskan angin kebohongan itu. Ketika kita SD hingga SMA diajarkan bertata krama sopan dan beragama yang taat –pelajaran PKN dan Agama- namun ilmu itu hilang seketika nafsu atau perasaan keinginan kita lebih besar, kalau begitu lebih baik kita tidak usah sekolah dan tidak membuang-buang harapan dan uang orang tua kita. Ya itulah manusia, sok beralasan “ini kan manusiawi, tempatnya salah dan khilaf” – nah, kalau salah mulu kapan baiknya, apa ketika sudah tua yang notabene akan ingat mati, telat banget bro -.

Life is choice, mau menumpuk dosa atau pahala ketika hidup ini, mau menumpuk prestasi atau kemalasan ketika hidup ini, mau sukses atau gagal ketika hidup ini, mau tidur sedikit atau tidur banyak ketika hidup ini, mau berguna atau digunakan. Semua penuh pilihan, dan setiap pilihan perlu ada pengorbanan. Kalau mau ingin menjadi pilihan yang baik, maka waktu, tenaga hingga perasaan perlu di korbankan. Entah nanti akan di’julukin’ sok pintar, sok cerdas ataupun sok alim, inilah pengorbanan – dengan syarat kita harus jauh akan sifat riya’ -. Atau mau menjadi pilihan yang tidak baik, hidup bahagia, senang dan mengikuti perasaan atau kemauan kita namun yang dikorbankan nantinya adalah masa hidup kekal di akhirat nanti. Karena sebenarnya menjadi baik adalah sebuah kepastian dan menjadi tidak baik adalah sebuah pilihan. So, di akhir tulisan ini penulis ingin menyampaikan bahwa cap ababil pada manusia sebenarnya merupakan kebohongan hati kita sendiri akan suatu hal kebenaran yang sudah pasti cara mendapatkannya dan apa yang akan didapatkannya. Now, what is your choice? :D

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Rezha Aditya Maulana Budiman
Mahasiswa Jurusan Teknik Fisika UGM 2010, mempunyai motto hidup mulia dan mati syahid, anak pertama dari 2 bersaudara.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Pribadi Bangsaku

Organization