Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ingatkanlah dengan Ahsan

Ingatkanlah dengan Ahsan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Bismillah…

Ilustrasi (Klinik Fotografi Kompas)
Ilustrasi (Klinik Fotografi Kompas)

dakwatuna.com –  “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menaati kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Setiap manusia berpotensi melakukan kesalahan. Lupa dan khilaf sudah menjadi sifat yang melekat dalam jiwa insan. Tidak pun kita, Rasulullah, sang pembawa risalah yang ma’shum (sifat keterjagaan) pernah lupa dan melakukan kesalahan. Fakta mengenai kesalahan beliau telah banyak di singgung, baik itu dalam Al-Qur’an maupun atsar Hadits yang diriwayatkan para sahabatnya. Bukankah Rasulullah pernah menshalati, mendoakan, mengubur dan memberi salah satu bajunya untuk dijadikan kafan Raja Munafik – Abdullah bin ubai bin salul – hanya karena anak raja munafik tersebut merupakan salah satu sahabat loyal sang nabi? Bukankah beliau juga pernah shalat dengan mengenakan sandal yang najis? Rasulullah juga pernah lupa untuk menggenapkan shalat Zhuhur empat rakaat, sehingga Sahabatnya – Dzul yadain – harus menegur kesalahan itu? Masih banyak lagi kesalahan dan keluputan yang sejatinya adalah hal yang fatal bagi seorang Nabi. Muhammad pun mengakui bahwa dirinya pernah lupa: Saya juga bisa lupa (sengaja dilupakan oleh Allah) seperti kalian semua, jika memang saya lupa maka ingatkanlah saya (HR. Bukhari). Jika Rasulullah saja seperti itu, maka siapalah kita?

Sebagai manusia yang tak pernah luput dari berbuat salah/khilaf, kita sangat butuh pada sebuah teguran dari orang-orang yang peduli terhadap diri kita. Ini dimaksudkan agar kita bisa senantiasa berusaha menjadi lebih baik. Teguran, ingatan, dan saling menasihati sesama menjadi salah satu bentuk komunikasi yang harus dijaga dalam beramal jama’i. Seni mengingatkan dan menasihati saudara kita menjadi fokus utamanya. Jangan sampai niat baik kita untuk meluruskan kesalahannya justru membuatnya tersakiti dan membuat hubungan semakin merenggang. Maka, kita perlu melihat pribadi masing-masing saudara kita agar pesan yang ingin kita sampaikan lebih mengena dan diterima tanpa harus membuatnya malu atau tersinggung.

Mengenai nasihat itu sendiri, Rasulullah telah mencontohkannya dalam sebuah kisah. Pada suatu hari, ada seorang pemuda datang berjumpa dengan Nabi Muhammad. Dia berkata, “Saya telah bercumbu-cumbu dengan seorang perempuan dari pinggir kota. Saya sudah buat semuanya, kecuali bersetubuh dengannya. Sekarang saya datang ke hadapan tuan, maka hukumlah saya sebagaimana yang tuan inginkan.” Saidina Umar memarahi pemuda itu, katanya, “Allah menutupi kesalahan kamu jikalau kamu menutupi diri kamu sendiri!” Mendengar kata-kata Saidina Umar itu, Nabi Muhammad tidak bicara apa-apa. Kemudian pemuda itu pergi. Nabi Muhammad segera menyuruh orang memanggil pemuda itu supaya datang lagi. Kemudian beliau membacakan kepadanya ayat ini: “Dan dirikanlah sembahyang itu pada pagi dan petang, dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” Kemudian, ada seorang lelaki lain yang ada di situ bertanya, “Wahai Rasul Allah, apakah ayat itu ditujukan khusus untuk dia saja, ataupun ayat itu ditujukan untuk semua orang?” Nabi Muhammad menjawab, “Untuk semua orang.”

Dalam potongan sejarah di atas, Saidina Umar al-Khattab mengkritik tingkah laku si pemuda yang telah membuka aibnya sendiri. Dengan kata lain, Umar mengatakan kepada pemuda itu bahwa dia telah melakukan suatu kesalahan, yaitu membuka aibnya, sedangkan dari segi syariat perbuatan seperti itu hukumnya tidak boleh. Itulah kritikan Umar. Dalam bahasa modern hari ini, kritikan Umar itu adalah contoh ‘kritikan membangun’ karena dengan kritikan itu sepatutnya si pemuda paham letak kesalahannya.

Saidina Umar mengkritik perbuatan pemuda itu dengan niat yang murni, hati yang ikhlas, kata-kata yang jujur. Beliau mengemukakan hujah dari al-Quran. Hujah itu adalah hujah yang betul dan hujah yang sangat kuat karena tidak ada hujah yang lebih kuat daripada al-Quran. Barangkali, berdasarkan hal itulah maka Nabi Muhammad diam saja ketika mendengar kata-kata Umar. Ketika pemuda itu hengkang dari tempat itu, maka dapat ditafsirkan bahwa kritikan Saidina Umar itu tidak berkesan, walaupun Umar telah menggunakan hujah dari al-Quran.

Kemudian, Nabi Muhammad menyuruh supaya pemuda itu dipanggil lagi. Kali ini Nabi Muhammad membacakan kepada pemuda itu sepotong ayat dari al-Quran. Nabi Muhammad tidak mengkritik langsung kesalahan pemuda itu. Beliau hanya memberitahu bagaimana dia dapat menyelesaikan masalahnya dengan menggunakan cara-cara yang diterangkan dalam ayat al-Quran itu.

Dalam peristiwa itu ada perbedaan antara feedback yang diberikan oleh Saidina Umar dan feedback yang diberikan oleh Nabi Muhammad. Saidina Umar menggunakan hujah dari al-Quran untuk mengkritik kesalahan pemuda itu. Sedangkan Rasulullah menggunakan al-Quran untuk membantu pemuda itu menyelesaikan masalahnya.

Lalu, pilih mana, menjadi Umar atau menjadi Rasulullah??

Wallahu a’lam.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Tika Mindari
Mahasiswi S1 Pendidikan Matematika Universitas Negeri Medan. Aktif sebagai Staf Kaderisasi di KAMMI, juga sebagai anggota muda di FLP Sumatera Utara.

Lihat Juga

Catatan dari Garut - Bagian Ketiga (nana sudiana)

Sabar Bukan Hanya Untuk Korban Bencana

Organization