19:14 - Kamis, 30 Oktober 2014

Ketenangan

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Muhammad Faisal Al-Mandawiy - 05/03/13 | 19:30 | 23 Rabbi al-Thanni 1434 H

Ilustrasi. (Facebook.com / norzihan.hjharun)

Ilustrasi. (Facebook.com / norzihan.hjharun)

dakwatuna.com – Kalaulah jalannya begitu panjang, tak akan ada yang mampu menempuhnya kecuali bagi orang yang berani. Bagi mereka jauhnya perjalanan bukanlah masalah selagi keberanian masih terus terhujam dalam hatinya. Seperti ungkapan bung Anis Matta, keberanian adalah semangat ekspansi bagi para pejuang. Jika keberanian adalah denyut nadi perjuangan maka kesabaran adalah nafasnya. Karena kesabaran merupakan faktor penentu seberapa lama pejuang itu mampu bertahan dalam perjuangannya. Lain halnya dengan keberanian, kesabaran adalah sikap defensif atau bertahan bagi pejuang untuk bisa menghadapi tantangan demi tantangan sebuah perjalanan.

Namun, antara keberanian dan kesabaran ada satu celah besar yang mesti ada untuk menghubungkannya. Keinginan untuk terus berjuang sampai pada penghujung jalan dan kesadaran untuk bertahan menghadapi segala tantangan mesti dihubungkan dengan yang namanya ketenangan. Karena ketenangan adalah suasana penyeimbang antara keinginan untuk meraih mimpi dengan sulitnya realita yang dihadapi.

Tentu tidak masalah bagi pejuang, jika dalam perjalanan itu belum ditemui aral yang merintang. Yang jadi permasalahan adalah ketika pejuang itu dituntut untuk bersabar menghadapi tekanan hidup. Suasana bertahan seperti ini adalah suasana yang sangat sulit untuk kembali bangkit meraih sifat keberanian yang sudah ada dalam dirinya. Suasana di mana butuh waktu yang lama untuk memulihkan semangat. Kadang, ada saja riak-riak kecil yang menerpa menghentikan langkah yang sudah jauh dijajaki. Nah di sinilah ketenangan ini menjadi solusinya.

Ketenangan adalah kondisi di mana seseorang mampu menyegarkan kembali impian dan cita-cita yang menjadi tujuan. Mereka yang tidak tenang cenderung melupakan segala impian yang menggerakkan naluri keberanian. Maka dengan ketenanganlah seseorang cenderung bisa berbuat lebih detail, terarah, lebih seimbang dan lebih dekat kepada suasana spiritual dan keterburu-buruan malah merusaknya. Benarlah ungkapan yang sering kita dengar bahwa “keterburu-buruan itu perbuatan syaitan”.

Sikap tenang bukan berarti diam dan tak berbuat apa-apa. Seperti yang terucap oleh tokoh dalam film the karate kid “Bersikap tenang dan tidak melakukan apa-apa adalah dua hal yang berbeda”. Inilah kenapa ketenangan itu dibutuhkan dalam perjuangan, karena tenang adalah suasana bertahan namun masih tetap bergerak. Sikap tenang juga akan mengundang suasana ketenangan selanjutnya yang merupakan anugerah dari sang pencipta, karena dekatnya suasana spiritual pada kondisi seperti ini. Mereka yang tenang itu karena mereka mengingat penciptanya yang maha kuasa dan mengadukan segala kelemahannya. Ketika kondisi ini muncul, maka tidak ada yang tidak mungkin bagi sang pencipta dan itulah kondisi bagi pejuang untuk kembali bersemangat meraih impiannya dengan penuh keberanian.

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (S Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)

Tentang Muhammad Faisal Al-Mandawiy

Alumni fisika universitas andalas. saat ini bekerja di bidang metrologi dan aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (8 orang menilai, rata-rata: 8,88 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
82 queries in 1,457 seconds.