23:23 - Kamis, 24 April 2014
M Husnaini

Jurusan IPA atau IPS: Sate atau Tempe

Rubrik: Pendidikan Keluarga | Oleh: M Husnaini - 05/03/13 | 14:30 | 23 Rabbi al-Thanni 1434 H

siswa-siswi-ujian-di-kelasdakwatuna.com - Sekarang adalah hari-hari menentukan pilihan bagi anak-anak sekolah. Terutama bagi anak-anak tingkat MA/SMA, apa yang mereka pilih hari ini akan sangat menentukan perjalanan pendidikan mereka di masa mendatang.

Lihat saja, meski pengumuman hasil kelulusan Unas belum keluar, banyak anak kelas XII yang sudah mulai ancang-ancang kuliah. Melirik kampus idaman, dan bahkan menentukan jurusan sudah mereka lakukan mulai sekarang. Demikian pula anak-anak kelas X yang mau naik ke kelas XI. Mereka harus sudah menentukan pilihan jurusan, akan masuk IPA atau IPS.

Saya ingin berbicara seputar masalah terakhir. Yaitu soal menentukan pilihan jurusan antara IPA dan IPS. Pilihan jurusan untuk anak-anak tingkat MA/SMA memang bukan cuma dua itu. Tetapi toh kebanyakan sekolah hanya menyediakan pilihan jurusan IPA atau IPS.

Tidak disangkal, orientasi jurusan IPA memang berbeda dengan IPS. Itu terlihat dari muatan pelajaran di dalamnya. Jurusan IPA biasanya lebih banyak materi eksakta dan pengetahuan alamnya, misalnya Matematika, Fisika, Kimia, Biologi. Sementara itu, jurusan IPS lebih fokus pada muatan ilmu-ilmu sosial, seperti Sejarah, Sosiologi, Geografi, Ekonomi.

Dengan demikian, dua pilihan jurusan itu mensyaratkan minat dan bakat anak bersangkutan. Anak-anak yang gemar pelajaran ilmu pasti dan ilmu alam, sebaiknya masuk jurusan IPA. Sebaliknya, mereka yang menyukai pengetahuan sosial dan kemasyarakatan, harusnya masuk jurusan IPS. Salah pilih jurusan bisa mengundang penyesalan. Bisa-bisa menyebabkan anak bersangkutan tidak betah sekolah karena merasa tertinggal pelajaran.

Boleh dikata, memilih jurusan IPA atau IPS itu adalah soal selera. Tentu selera yang disertai kemampuan anak bersangkutan. Mudahnya begini. Saya dan seorang teman sedang makan bareng di sebuah warung nasi. Saya memilih sate karena saya memang suka makanan itu, dan saya punya uang untuk membelinya. Tetapi karena teman saya adalah penggemar tempe, atau boleh jadi dia sedang bokek, maka dia lebih memilih tempe.

Pilihan kami tentu tidak terkait dengan kredibilitas, kepandaian, kehormatan diri, atau apapun saja namanya. Bukan berarti teman saya itu ndeso karena menggemari tempe, sementara saya lebih modern dan hebat karena menyukai sate. Bukan sama sekali. Ini murni soal selera. Banyak “orang besar” dan kaya justru kalau makan suka dengan ikan asin. Kalau dikasih daging kambing atau sapi malah muntah karena dia mungkin alergi atau semacamnya.

Nah, sampai hari ini, masih banyak anak-anak—termasuk juga sebagian guru kita—yang beranggapan bahwa anak-anak IPA itu lebih superior daripada anak-anak IPS. Anak-anak yang cerdas kemudian digiring untuk masuk jurusan IPA, sementara anak-anak yang memble biasanya dimasukkan ke jurusan IPS.

Akibatnya, kelas IPA selalu berisi anak-anak pintar. Sebaliknya, kelas IPS adalah kumpulan anak-anak berkemampuan rendah. Tidak jarang malah kumpulan anak-anak bermasalah. Lucunya, ada semacam pengarahan dari seorang guru di sebuah sekolah, kalau masuk jurusan IPA anak bersangkutan akan lebih punya kesempatan diterima kuliah atau bekerja di mana saja. Tidak demikian dengan anak-anak IPS.

Jelas ini pemahaman yang salah kaprah dan menyesatkan. Jangan heran jika kelas-kelas IPA selalu tampak penuh, dan kelas IPS justru kosong melompong. Dalam pergaulan antar anak sehari-hari, tidak jarang pula anak-anak IPA merasa tinggi hati dan anak-anak IPS merasa rendah diri. Yang lebih lucu, ada sebagian anak yang sebetulnya kurang mumpuni di bidang ilmu pasti dan ilmu alam malah ikut-ikutan masuk jurusan IPA agar terlihat keren. Sebagian anak yang pintar, karena masuk jurusan IPS, justru merasa minder berhadapan dengan anak yang masuk jurusan IPA tadi. Sangat menggelikan.

Sebetulnya, memilih jurusan IPA atau IPS itu murni soal minat dan bakat. Orang pandai itu ada bidangnya masing-masing. Anak-anak yang berprestasi seharusnya adalah mereka yang senang dan menguasai bidang yang ditekuni. Malah, untuk modal hidup bermasyarakat, anak IPA juga harus menguasai ilmu IPS. Juga jangan dikira kalau jurusan IPS adalah untuk menghindari pelajaran angka. Apakah Ekonomi dan Akuntansi itu tidak butuh keterampilan berhitung?

Jadi, sekali lagi, kuncinya adalah minat dan bakat anak bersangkutan. Anggapan bahwa anak-anak IPA itu lebih superior dari anak-anak IPS adalah tidak benar. Sama tidak benarnya dengan pernyataan bahwa anak-anak IPA akan lebih bisa diterima kuliah atau bekerja dari anak-anak IPS. Jurusan IPA atau IPS, yang penting adalah menyenangi dan menekuni jurusan yang sudah dipilih sehingga pintu sukses di masa depan akan terbuka lebar.

Demikian pendapat saya. Bagaimana pendapat Anda?

M Husnaini

Tentang M Husnaini

Pondok Pesantren Al-Basyir Lamongan. Sangat mencintai dunia baca-tulis dan pendidikan. Tinggal di pelosok desa di “Kota Soto” Lamongan. Penulis buku “Menemukan Bahagia: Mengarifi Kehidupan Menuju Rida Tuhan”. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (23 orang menilai, rata-rata: 7,78 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.facebook.com/ardiansyahreza49 Reza Ardiansyah

    Pemikiran yang tepat, saya juga berpikir sependapat. Alangkah baiknya apabila seorang siswa tidak dipenuhi oleh gengsi belaka untuk masuk ke IPA, tapi harus didasarkan pada ability yang ia miliki. Salah mindset beberapa siswa seperti ini, cenderung disebabkan oleh salah persepsi oleh guru dan orang tua yang bersangkutan..

    Artikel yang bagus, dan semoga bisa menyadarkan siswa kelas X SMA yang akan naik tingkat, dan memberi pandangan pada anak IPA agar bisa melihat realita bahwa siswa pintar tidak hanya berasal dari IPA saja..

  • Endri Yanto

    masih pusinkk…beda bgt yg ngucapin ama yang lagi mikir

Iklan negatif? Laporkan!
78 queries in 1,056 seconds.