Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pulang Kampung, Dipuji atau Dicela?

Pulang Kampung, Dipuji atau Dicela?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang adalah peribahasa yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan arti lengkap peribahasa tersebut adalah Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Yang artinya, Kebaikan seseorang akan selalu dikenang.

Kebaikan seseorang semasa hidupnya ibarat sebuah tabungan pujian yang akan mengantarkan langkah-langkah terakhirnya menghadap Tuhannya. Seringkali ketika iring-iringan jenazah akan dimakamkan, tidak tahan rasanya kalau tidak mengenang semua kisah-kisah Alhamrum yang akan dimakamkan, maka berbagailah tipe masyarakat dalam menilai seorang insan dengan versinya masing-masing. Namun pada intinya masyarakat akan berkata yang sebenarnya bahwa ketika yang meninggal adalah seorang insan yang baik. Mereka tak segan-segan untuk mengatakan kebaikan-kebaikan jenazah itu semasa hidupnya. Demikian pula kalau jenazah itu adalah seorang insan yang selalu berbuat jahat masyarakat juga akan mengatakan bahwa jenazah tersebut tidak baik perilakunya semasa hidup.

Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW, bersabda tentang pujian dan celaan bagi orang yang meninggal. Dari Hadits riwayat Anas bin Malik RA, ia berkata: Ketika iring-iringan membawa jenazah lewat, orang-orang memuji jenazah dengan kebaikan, kemudian Nabi SAW bersabda: Wajib, wajib, wajib. Lalu lewat pula iringan jenazah lain, orang-orang mencelanya dengan keburukan, kemudian Nabi SAW bersabda: Wajib, wajib, wajib. Umar berkata: Menjadi penebusmu, ayah dan ibuku! Ada iringan jenazah lewat dan orang-orang memujinya sebagai orang baik, lalu engkau mengatakan: Wajib, wajib, wajib. Lewat pula iringan jenazah lain yang disifati sebagai orang jahat, lalu engkau mengatakan: Wajib, wajib, wajib. Apa artinya itu? Rasulullah SAW bersabda: Orang yang kalian puji sebagai orang baik, maka wajib baginya surga, sedangkan orang yang kalian katakan sebagai jahat, maka wajib baginya neraka. Kalian adalah para saksi Allah di bumi. Kalian adalah para saksi Allah di bumi. Kalian adalah para saksi Allah di bumi. (Shahih Muslim No.1578)

Kematian dan kehabisan masa hidup di dunia adalah fitrah manusia. Kapan pun dan di manapun kalau Allah sudah tetapkan hari ini, jam ini dan detik ini maka siapa pun tak dapat menghalanginya. Oleh sebab itu, seorang insan selalu dituntut untuk bersikap baik karena sesungguhnya kebaikan yang telah ditabung di dunia adalah salah satu jembatan untuk menabur nilai-nilai kebaikan lainnya. Kebaikan yang kita perbuat seringkali tidak selamanya disambut baik maka, setiap insan dakwah jangan pernah berhenti menabur kebaikan sampai tiba saatnya hak untuk menabur kebaikan itu dicabut, dan itulah istirahat yang paling menyenangkan bagi para penabur kebaikan ketika di dunia.

Suatu ketika Rasulullah dilewati iringan jenazah si fulan, maka Rasul bersabda: Yang beristirahat dan yang ditinggalkan. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang beristirahat dan yang ditinggalkan? Rasulullah SAW bersabda: Seorang hamba yang beriman itu beristirahat dari kepayahan dunia. Sedangkan seorang hamba yang jahat, manusia, negara, pepohonan dan hewan, semuanya merasa tenteram dari kejahatannya. (Shahih Muslim No.1579)

Istirahat dari kepayahan di dunia adalah akhir dari perjalanan fana yang panjang. Yang menyebabkan terputusnya segala yang tersambung putusnya ikatan persaudaraan, ikatan pernikahan, ikatan tanggung jawab sebagai hamba Allah yang harus menebar kebaikan, dan ikatan-ikatan yang berurusan dengan dunia. Tidak ada apapun yang dibawa menghadap Allah melainkan amal ibadah yang telah ditabur dengan butir-butir keikhlasan di dunia. Semua manusia tinggal menunggu giliran menghadapnya oleh karena itu, persiapkan segala bekal untuk pulang kampung.

Tidak ada yang mengetahui kapan dan di detik berapa nyawa ini akan dicabut. Oleh karena itu, kita hanya dianjurkan untuk banyak-banyak mengingat mati. Karena orang yang paling cerdas itu adalah orang yang paling sering mengingat mati. Kecerdasannya itu terlihat dari kepiawaiannya mengelola kegiatan rutinitasnya. Kegiatan yang tidak bermanfaat selalu ditinggalkannya dan selalu menggeluti kegiatan yang bermanfaat. Nikmat umur yang Allah berikan hendaklah dimanfaatkan untuk menabur benih-benih kebaikan yang insya Allah nantinya akan menjadi buah yang paling indah di surga.

Sebagaimana Allah berfirman: “Bukankah Kami telah memberikan umur yang cukup kepadamu semua. Dalam masa itu orang yang mau mengerti dapatlah mengambil pengertian dan orang yang memberikan peringatan pun telah datang padamu semua.” (Fathir: 37)

Setiap umat pada masanya telah Allah kirimkan suri tauladan yang memberi petunjuk kebaikan, tidak ada alasan bagi kita untuk mengatakan pada masa ini kita kehilangan tauladan, justru tauladan Rasulullah, Rasul akhir zaman telah terpatri rapi di dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnahnya untuk kita teladani di dunia ini. Semoga bermanfaat.

Wallahua’lam bishawab.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswi di Universitas Negeri Medan, Jurusan Pendidikan Antropologi Sosiologi. Aktif di Forum Lingkar Pena Sumut, Lembaga Dakwah kampus Ar-Rahman Unimed, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial.

Lihat Juga

Reaktualisasi Pengamalan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sosial