Home / Narasi Islam / Politik / Komitmen Muslim Berantas Korupsi

Komitmen Muslim Berantas Korupsi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Mengutip kata-kata yang dituliskan Yasraf Amir Piliang dalam opininya “Koruptrokrasi” di koran kompas. Bahwa negara yang berprinsip demokrasi-di mana kekuasaan berada di tangan rakyat- kini menjelma jadi “koruptrokrasi” (corrupto-cracy), di mana kekuasaan politik dipegang oleh para pejabat, politikus dan aparat korup, dengan rakyat sebagai korban. Ironisnya para pejabat korup ini berlindung dibalik otoritas institusional dan I’esprit de corps agar tak tersentuh hukum. Hal ini menjadi fenomena sosial yang biasa bahkan berita yang membosankan untuk didengar masyarakat. Siapa yang mempunyai akses terhadap hukum, maka dialah yang akan menguasai sistem hukum. Seringkali hukum tumpul ke atas dan runcing ke bawah, rakyat kecil yang mencuri ayam untuk mengisi perut sejengkal habis dihajar massa, sedangkan para koruptor sangat sulit disentuh hukum. Sehingga terjadilah pembedaan hukum tergantung pada objek yang dihukum.

Korupsi adalah tindakan penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan sendiri. Banyak pejabat politik dan pemerintahan yang menyalahgunakan wewenang. Bila bercermin pada Para pendahulu yang telah menggoreskan sejarah kepemimpinan. Umar bin Abdul Aziz seorang tauladan Pemimpin yang Adil, Jujur, Amanah dan shalih. Mengenang lembaran sirah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz: Suatu hari datanglah seorang utusan dari salah satu daerah kepada beliau. Utusan itu sampai di depan pintu Umar bin Abdul Aziz dalam keadaan malam menjelang. Setelah mengetuk pintu seorang penjaga menyambutnya. Utusan itu pun mengatakan, “Beritahu Amirul Mukminin bahwa yang datang adalah utusan gubernurnya.” Penjaga itu masuk untuk memberitahu Umar yang hampir saja berangkat tidur. Umar pun duduk dan berkata “izinkan dia masuk”. Utusan itu masuk, dan Umar memerintahkan untuk menyalakan lilin yang besar. Umar bertanya kepada utusan tersebut tentang keadaan penduduk kota, dan kaum muslimin di sana, bagaimana perilaku gubernur, bagaimana harga-harga, bagaimana dengan anak-anak, orang-orang Muhajirin dan Anshar, para ibnu sabil, orang-orang miskin. Apakah hak mereka sudah ditunaikan? Apakah ada yang mengadukan?
Utusan itu pun menyampaikan segala yang diketahuinya tentang kota kepada Umar bin Abdul Aziz. Tak ada sesuatu pun yang disembunyikannya. Semua pertanyaan Umar dijawab lengkap oleh utusan itu. Ketika Semua pertanyaan Umar telah selesai dijawab semua, utusan itu balik bertanya kepada Umar.

“Ya Amirul Mukminin, bagaimana keadaanmu, dirimu, dan badanmu? Bagaimana keluargamu, seluruh pegawai dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu? Umar pun kemudian dengan serta merta meniup lilin tersebut dan berkata, “Wahai pelayan, nyalakan lampunya!” Lalu dinyalakanlah sebuah lampu kecil yang hampir-hampir tidak bisa menerangi ruangan karena cahayanya yang teramat kecil.

Umar melanjutkan perkataannya, “Sekarang bertanyalah apa yang kamu inginkan.” Utusan itu bertanya tentang keadaannya. Umar memberitahukan tentang keadaan dirinya, anak-anaknya, istri, dan keluarganya.

Rupanya utusan itu sangat tertarik dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh Umar, mematikan lilin. Dia bertanya, “Ya Amirul Mukminin, aku melihatmu melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan.” Umar menimpali “Apa itu?

“Engkau mematikan lilin ketika aku menanyakan tentang keadaanmu dan keluargamu.”

Umar berkata, “Wahai hamba Allah, lilin yang kumatikan itu adalah harta Allah, harta kaum muslimin. Ketika aku bertanya kepadamu tentang urusan mereka maka lilin itu dinyalakan demi kemaslahatan mereka. Begitu kamu membelokkan pembicaraan tentang keluarga dan keadaanku, maka aku pun mematikan lilin milik kaum muslimin.”

Subhanallah sekali Umar bin Abdul Aziz dalam memilah mana yang haknya dan mana yang hak kaum muslimin. Cahaya iman yang dimiliki Umar adalah cahaya yang takut akan amanah yang sedang diemban karena Umar yakin suatu saat Allah akan meminta pertanggungjawaban atas setiap yang kita pimpin. Lewat Umar kita belajar nilai yang sangat mudah untuk diucapkan namun sulit untuk dilaksanakan, Hanya karena sebatang lilin. Lalu bagaimana dengan pemimpin kita hari ini, atau lebih intensnya bagaimana dengan kita seorang muslim. Sudahkah kita berkomitmen memberantas korupsi dari diri kita sendiri?

Seringkali saat lebaran tiba paman yang memberi uang atau salam tempel itulah yang paling baik di mata kita, padahal paman miskin yang datang dengan mengayuh sepeda anginnya jika tidak memberi uang adalah paman yang tidak baik pada saat lebaran. Tapi tahukah Anda paman yang tidak memberi salam tempel itu sudah lebih banyak memberikan perhatian dan kasih sayang, nasihat-nasihat bijak yang memperkaya pengetahuan daripada paman yang hanya sesekali muncul dengan uang banyak pada saat lebaran.

Hal inilah yang terjadi dalam masyarakat kita bahwa sebuah penghargaan yang diberikan atau diterima itu selalu dalam bentuk materi. Tanpa menganggap penghargaan dalam bentuk non materi juga sangat berharga dalam kehidupan bermasyarakat. Kalau semua yang kita lakukan mengharapkan imbalan materi, maka pemberian penghargaan kita kepada orang lain pun dalam bentuk materi pula, perlu ditekankan untuk mencegah korupsi atau penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan sendiri, dimulai dari hal-hal yang terkecil.

Setiap muslim harus berkomitmen memberantas korupsi dari hal yang kecil dan dari diri sendiri lalu ke keluarga dan masyarakat. Menghargai orang bukan hanya dari materi yang telah dikeluarkannya, bukan hanya dari uang. Tapi penghargaan non-materi merupakan sebuah penghargaan sosialis yang tinggi untuk menunjukkan kita orang-orang muslim yang berbudaya islami, dan ini merupakan refleksi komitmen diri untuk bersepakat dalam naungan Islam memberantas korupsi-korupsi kecil di sekeliling kita.

Wawlahua’lam bishawab.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswi di Universitas Negeri Medan, Jurusan Pendidikan Antropologi Sosiologi. Aktif di Forum Lingkar Pena Sumut, Lembaga Dakwah kampus Ar-Rahman Unimed, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial.

Lihat Juga

Simbiosis Mutualisme Islam dan Politik