06:30 - Kamis, 10 Juli 2014

Episode Anak Bebek

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Nur Indra Murti Yulizar - 28/02/13 | 12:30 | 16 Rabbi al-Thanni 1434 H

Ilustrasi (cipto.net)

Ilustrasi (cipto.net)

dakwatuna.com - Bahkan, dalam beberapa hari setelah menetas mereka sudah mampu mengais tanah untuk mencari cacing tanah, dan mempunyai cara untuk mengeringkan tubuhnya setelah berenang di kali, tanpa merengek meski dalam kondisi kedinginan.

*****

Diam, menunduk. Mengisi hening dengan lantunan muhasabah. Sendiri, di sini, bercakap dengan sepi untuk mengais kekuatan diri. Mendekat, terus mendekat, pada-Nya. Menutup bilik hati agar tak ada celah setan menyusup.

Perlahan, aku seka dinding bilik hati ini agar tak ada debu ego dan keangkuhan yang mengkontaminasi, penuh kehati-hatian, membingkai hati dengan tafakur diri, abaikan pembenaran naluri.

Dan, dalam hening. Di antara sepi yang membisik, Dia kirimkan episode anak bebek untukku bercermin. Lihatlah Ndra, lihatlah anak bebek yang dahulu sering kamu lihat setiap pagi di kebun samping rumah simbah. Dengan kondisi tubuhnya yang belum tumbuh sempurna, pada fase pertumbuhan awal hidupnya, ia telah mampu berjuang mengais tanah mencari cacing untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Lihat pulalah, saat ia berjuang mengeringkan bulu-bulunya setelah berenang di kali, di saat anak-anak ayam masih menikmati hangatnya perlindungan dari sang induk, mereka telah bisa bagaimana cara mengeringkan bulunya agar suhu tubuh kembali hangat. Mereka memahami takdir, tak pernah menuntut agar bisa bersanding dengan induk layaknya anak ayam.

Allah menjadikan aku suka anak bebek bukan tanpa alasan, tidak. Dia mengokohkan kerapuhanku melalui cerminan yang tampak pada ketangguhan anak bebek. Agar aku tak (lagi) terpasung pada belenggu ruang lara yang mengoyak sendi keimanan hati.

Allah, Dia ada di dekatku, menggenggam erat hatiku dengan Cinta-Nya yang maha dahsyat, mendekap terus mendekap agar tak meringkuk kedinginan dalam atmosfir ekosistem yang beku. Allah … Dia yang merangkul, saat hati ini hampir terpelanting dalam jurang keputus-asaan, menjaga agar tetap seimbang dan tak lapuk kemudian tumbang.

terhempas, lepas
memerdekaan diri dari belenggu kerapuhan.
bangkit, terus melaju
dalam sendiri, pada hati yang merindu
tak ada kehilangan yang bertutur
melainkan ikhlas yang berfatwa
memahami, mengerti
takdir tak pernah salah bidik
mengokohkan hati yang mengimani
bukan mencabik dengan luka

Dengarkan, dengarkan senandung cinta-Nya. “Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan kami pasti akan memberi balasan pada orang yang SABAR dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(QS.An-Nahl: 96)

Tentang Nur Indra Murti Yulizar

Sosok biasa yang terus belajar untuk menjadi luar biasa, karena-Nya ... [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (3 orang menilai, rata-rata: 9,33 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
77 queries in 1,427 seconds.