Home / Berita / Opini / Mencari Independensi di Rimba Indonesia

Mencari Independensi di Rimba Indonesia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupmu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Tentu kita masih ingat lirik lagu tersebut, lagu dengan judul Kolam Susu yang dibawakan oleh Koes Plus. Sebuah lagu yang menggambarkan kebanggaan yang begitu besar menjadi anak bangsa Indonesia, kehebatan bumi pertiwi Indonesia, dan nasionalisme yang begitu membuncah.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emasnya bagaimana nasionalisme putra bangsa dari Sabang sampai Merauke saling bahu membahu dalam sebuah ikatan energi dengan tekad yang sama, dengan kepentingan yang sama, dengan tujuan yang sama demi kebebasan bangsa dan tanah air.

Sudah 68 tahun lebih Indonesia merdeka. Merdeka dari penjajahan konvensional dan merdeka dari kepentingan asing konvensional. Tapi hari ini rakyat Indonesia masih dijajah secara modern oleh bangsa asing dan bangsanya sendiri.

Kini putra bangsa tidak lagi berada dalam satu ikatan energi, tidak lagi dalam satu tekad dan kepentingan yang sama, yang ada adalah kepentingan pribadi dan kelompoknya yang dikemas begitu indah dengan bahasa “Kepentingan Rakyat”

Media (televisi, surat kabar, media online, dll lainnya) yang hari ini seharusnya menjadi corong kebenaran bagi rakyat, mercu suar atas kepentingan rakyat justru telah dinodai oleh kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Fakta yang sulit dibantahkan yang terpampang jelas di depan mata kita adalah bagaimana para pemilik media telah berlomba-lomba menjadi pengurus partai politik. Ada yang menjadi ketua umum, ada yang menjadi ketua dewan pertimbangan, dan lain sebagainya. Adakah independensi lagi dari berita yang ditampilkan oleh media tersebut..??

Yang ada adalah media tersebut akan terus berlomba menampilkan kebaikan partai “Juragannya” dan menghantam habis-habisan lawan partai politiknya.

Hari ini opini masyarakat telah dibentuk oleh berita-berita dari media yang bermuka dua. Sebagai contoh nyata kita melihat bagaimana media memberitakan kasus hukum yang menimpa lawan politik dari pemilik media tersebut sampai berhari-hari bahkan dalam kategori Headline dan disiarkan berulang-ulang.

Terlepas berita yang disajikan tersebut benar atau salah. Keputusan hakim dan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum tetap tidak lagi menjadi penting karena tatkala media telah memvonis seseorang bersalah maka publik telah men-cap-nya sebagai orang yang kotor dan bersalah.

Adakah media independen hari..?? Yang benar-benar tanpa memihak..?? Mungkin akan sulit untuk menemukannya. Publik harus lebih cerdas dalam menerima setiap informasi yang diramu oleh media. Sehingga energi kita tidak habis hanya untuk saling menyalahkan dan menghujat.

Mari satukan energi dan potensi demi pembangunan Indonesia.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Faisal Ibn Sabi
Lahir bulan Juni 1982. Tinggal di Aceh Besar.

Lihat Juga

Menggagas Generasi Berkemajuan Melalui Pendekatan Karakter Anak