01:14 - Minggu, 31 Agustus 2014
Arihta Pandia, S.Si, Apt.

Aplikasi Teori Kimia Oleh Kader PKS

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Arihta Pandia, S.Si, Apt. - 28/02/13 | 09:30 | 16 Rabbi al-Thanni 1434 H

pks-benderadakwatuna.com - Belakangan ini saya jadi ingat kembali pelajaran di sekolah dulu, sepertinya saat SMP sudah dipelajari teori ini dan diperdalam lagi waktu saya SMA apalagi waktu itu saya mengambil jurusan Biologi yang dikenal dengan istilah A-2. Ternyata waktu kuliah saya mengambil jurusan farmasi yang banyak membahas ilmu kimia maka makin mudahlah saya memahami teori kimia yang satu ini.

Meski demikian saya meyakini bahwa setiap insan yang telah mengecap pendidikan di Indonesia ini, walaupun tidak mengambil jurusan eksakta yang membahas secara detail ilmu kimia insya Allah bisa memahami teori kimia yang saya maksud ini karena pada dasarnya teori ini sudah kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja kita tidak bisa atau belum bisa mendefinisikan bahwa sesungguhnya fenomena yang kita lihat dan rasakan adalah aplikasi dari sebuah teori dalam ilmu kimia.

Teori yang saya maksud adalah ikatan kimia. Dalam ilmu kimia ada banyak jenis ikatan, baik ikatan antara satu unsur kimia dengan unsur kimia lainnya atau ikatan antara satu unsur kimia dengan senyawa lainnya. Agar lebih mudah dipahami sebut saja salah satu jenis ikatan dalam kimia adalah ikatan ionik, kadang disebut juga ikatan elektrovalen. Ikatan ini terjadi karena adanya gaya elektrostatis antara ion positif dan ion negatif. Ikatan ion, seperti ikatan kimia lainnya bertujuan agar setiap unsur yang berikatan mendapatkan kestabilan seperti halnya unsur gas mulia. Contoh ikatan ionik misalnya pada senyawa NaCl atau yang biasa kita kenal sebagai garam dapur.

Dalam ikatan ionik yang terjadi dalam NaCl, bisa dipandang terjadi serah-terima elektron, yakni satu elektron diberikan Na kepada Cl, jadi dalam hal ini serah terima (ijab-qobul?) elektron sangat bermanfaat bagi keduanya (Na dan Cl) untuk mencapai kestabilan. Namun demikian ikatan terjadi karena adanya gaya elektrostatik antara muatan ion yang berbeda. Ikatan ion adalah ikatan yang sangat kuat, sehingga senyawa ion rata-rata tinggi titik lelehnya. Sebab, perlu energi tinggi untuk memutus ikatan ion tersebut. Sebagai contoh NaCl titik lelehnya mencapai 600 derajat celsius. Sekali lagi untuk melelehkan atau memutuskan ikatan ionik pada NaCl butuh energi panas sebesar 600 derajat celsius!

Lalu apa hubungannya ikatan ionik ini dengan kader PKS? Menurut saya ikatan antara kader PKS dengan komunitasnya dalam hal ini Partai Keadilan Sejahtera analoginya sama dengan ikatan ionik dalam senyawa NaCl. Ikatan antara kader dengan PKS terjadi karena adanya rasa saling membutuhkan untuk mencapai kestabilan dan kesempurnaan dalam mewujudkan nilai-nilai Islam. Antara kader dengan PKS sudah terjadi ijab qobul dan janji setia untuk mencapai satu tujuan yakni meninggikan kalimah Allah di muka bumi ini khususnya negara kita Indonesia tercinta. Seperti halnya senyawa NaCl yang memiliki titik leleh 600 derajat celsius, demikian pulalah ikatan antara kader PKS dengan komunitas PKS sebagai sebuah organisasi/partai sangat kuat sekali ikatannya, tentu saja tidak bisa didefinisikan dengan nilai derajat celsius.

Yang bisa kita pahami adalah bahwa ternyata tidak gampang memutuskan ikatan antara PKS dengan kadernya karena ia mempunyai titik leleh yang sangat tinggi! Entah perlu energi seberapa besar untuk memutuskan PKS dengan kadernya, karena ikatan antara mereka saksinya Allah SWT, Sang Maha Pencipta, dan ikatan itu juga terjadi atas nama Allah SWT, tidak atas nama-nama lainnya.

Oleh karena itu mudah sekali dipahami bahwa adanya kasus kriminalisasi terhadap pimpinan PKS Ustadz Luthfi Hasan Ishaaq atau mungkin akan muncul kasus-kasus lainnya sama sekali tidak akan melelehkan kader-kader PKS. Kasus-kasus tersebut mungkin panasnya hanya beberapa derajat celsius, sama sekali gak ngaruh! Kata anak muda dalam bahasa gaulnya. Berangkat dari aplikasi teori kimia tersebut juga dapat dipahami mengapa kader PKS tidak ada yang menjadi kutu loncat pindah ke partai lain. Jawabannya ya itu tadi karena antara PKS dengan kadernya sudah ada ikatan ionik yang titik lelehnya sangat tinggi. Namun kalau pun nantinya ada yang mengaku kader PKS pindah ke partai lain, itu artinya ikatan yang ia jalin dengan PKS bukanlah ikatan ionik, tetapi ikatan-ikatan lain yang bersumber hawa nafsu semata.

Jika memahami teori ini maka pihak-pihak yang ingin memutuskan, memecah belah PKS, membubarkan PKS, memusnahkan PKS harus menyiapkan energi maha besar agar rencananya terlaksana. Dan seberapa besar energi yang dibutuhkan tersebut sungguh tidak dapat didefinisikan, karena ikatan tersebut pelindungnya adalah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Perkasa. Wallahu A’lam.

Arihta Pandia, S.Si, Apt.

Tentang Arihta Pandia, S.Si, Apt.

Menyukai dunia tulis menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar. Karya pertamanya yang dimuat di media berupa cerita anak-anak yang berjudul ‘Penemu Harta Karun Yang Cerdik’, dimuat di Harian Analisa… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (3 orang menilai, rata-rata: 6,33 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://twitter.com/BangArul Syahrul Muflikhun

    setuju

  • http://twitter.com/kamentrader Prasdianto

    Ibu yg terhormat, alam semesta dengan hukum-hukum yang berjalan di dalamnya, sesungguhnya tidak peduli dengan manusia. Abstraksi dari pencanderaan fenomena yang manusia lihat di alam, semata-mata mencoba mencari satu keteraturan. Maka dari itu, kata Universe muncul. Uni, satu , Verse, Versi. Tapi terlalu gegabah kalau mendapuk 1 Versi itu milik 1 golongan agama saja. Satu versi yg dimaksud juga tidak bersusah payah mencocokan diri dengan urusan 1 spesies di jagad yang maha luas ini. Dan saran saya, berhentilah mencocok- cocokan kejadian remeh di dunia (Politik, Partai, Fanatisme buta pada Qiyadah) pada fakta-fakta sains. Karena yang terjadi adalah pembenaran bukan kebenaran. Wassalam

Iklan negatif? Laporkan!
69 queries in 1,741 seconds.