Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kunci Kesuksesan

Kunci Kesuksesan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

kancing-beureumdakwatuna.com Islam sebagai rahmat bagi semesta merupakan paket lengkap yang tidak memerlukan tambahan sedikit pun. Ia adalah sebuah ajaran multi dimensi yang bisa dipraktekkan di segala bidang, di semua tempat. Ia ibarat rumah yang bisa memenuhi semua kebutuhan penghuninya, bahkan ia bisa turut memfasilitasi orang-orang yang berada di luar rumah itu.

Di dalam Islam, terdapat banyak cara yang memang sudah Allah siapkan penganutnya mencapai kesuksesan (kebahagiaan) di dunia, terlebih kesuksesan abadi di akhirat kelak. Bahkan, hanya dengan melaksanakan satu cara saja, maka kesuksesan bisa digenggam oleh seorang hamba yang benar dalam meyakini dan menjalaninya. Tentunya, jika hal tersebut dilakukan dengan benar sesuai dengan apa yang terdapat di dalam al-Qur’an dan hadits Rasul.

Salah satu cara yang bisa ditempuh agar seorang hamba mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat itu adalah Tawakal. Sebuah kata multi makna yang seringkali disalahmaknai oleh umat Islam itu sendiri. Di mana tawakal sering dipahami sebagai pasrah tanpa upaya. Hal inilah yang perlu diluruskan agar umat Islam kembali memegang tampuk kekuasaan dunia guna menebarkan kejayaan di semua bidang.

Disebutkan dalam sebuah riwayat oleh Ibnu Hibban, bahwa ada seorang badui yang tidak mengikat untanya dengan berdalih bahwa ia bertawakal. Lantas, sang nabi pun bersabda, “Ikatlah untamu dan bertawakallah.”

Kita juga mendapati bahwa Rasulullah dan Abu Bakar ash-Shidiq bersembunyi di gua Tsur saat dikejar orang-orang kafir dalam peristiwa hijrah. Sedangkan jika mau, maka beliau berdua bisa saja menampakkan diri karena keduanya dalam lindungan Allah. Namun, persembunyian yang dilakukan oleh keduanya adalah satu sarana ikhtiar yang kemudian dengannya mereka bertawakkal.

Di dalam setiap peperangan pun demikian. Beliau memakai baju besi, mempersiapkan senjata, bekal juga strategi sebagai wujud ikhtiar. Dan selebihnya, kaum muslimin bertawakal. Menyerahkan semuanya kepada Allah. Maka, tawakal adalah mengambil sebab yang diperintahkan kemudian menyerahkan urusannya kepada Allah.

Ciri Keimanan

Iman adalah kombinasi antara yakin, ucapan dan tingkah laku. Maka iman, mempunyai bermacam ciri. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (QS al-Anfal [8]:2)

Tawakal merupakan satu dari sekian banyak ciri keimanan seorang hamba. Dalam banyak ayat, Allah juga berkali-kali menegaskan bahwa yang bisa melakukan tawakal hanyalah orang-orang yang benar Islam dan imannya.

Berkata Musa, “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.” (QS Yunus [10]: 84) Tawakal, adalah bukti, apakah keyakinan kita kepada Allah sekadar ucapan, atau benar adanya, “Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS Ali Imran [3]:122)

Kunci Kesuksesan

Kesuksesan sejati bagi seorang muslim yang mukmin adalah ketika mereka bisa meyakini Allah di atas segalanya. Maka tawakal merupakan sebuah pengakuan tulus bahwa manusia sejatinya memang lemah sedangkan Allah Maha Kuat atas segala sesuatu. Sehingga, mereka menggantungkan semuanya kepada Sang Maha setelah usaha yang dilakukan mencapai derajat maksimal.

Tawakal adalah sebuah janji dari Allah. Bahwa siapa yang melakukannya, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya. Allah berfirman, “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS ath-Thalaq [65]:3)

Dalam menafsirkan ayat ini, Sayyid Quthb mengatakan, “Maka sikap bertawakal kepada Allah adalah sikap bergantung dan berserah diri kepada kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa dan kekuatan yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas apa yang diinginkanNya, yang Maha Menyempurnakan atas apa yang dikehendakiNya.

Terkait tawakal sebagai cara agar semua kebutuhan tercukupi, Umar bin Khaththab mendengar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepadamu sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada burung yang berangkat pagi hari dalam keadaan lapar lalu pulang di sore hari dalam keadaan kenyang. (HR Tirmidzi, hadits hasan)

Burung yang pergi mencari makan di pagi hari tidaklah membawa bekal apa-apa. Hanya berbekal insting, mereka terbang dari satu tempat menuju tempat lainnya. Dan karena upayanya itu, karena geraknya itu, Allah memberikan mereka anugerah rezeki yang tak terhingga sehingga ketika sore menjelang, tembolok mereka sudah penuh dengan makanan yang Allah berikan.

Agar Tidak Diganggu Setan

Sayangnya, dalam proses menuju kepada kesuksesan itu, setan sebagai satu-satunya musuh abadi umat manusia tidak akan pernah diam. Bahkan, dalam banyak riwayat disebutkan bahwa setan akan mencari masa sebanyak-banyaknya untuk diajak masuk ke dalam neraka jahannam. Hebatnya, mereka sudah diberi otoritas oleh Allah untuk menggoda manusia agar tersesat dengan berbagai cara, dalam setiap kondisi, di sepanjang kehidupan hingga kiamat terjadi.

Oleh karena itu, kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah agar terlindung dari godaan setan yang terkutuk. Dalam sebuah ayat disebutkan bahwa tawakal merupakan jalan yang dijamin oleh Allah. Bahwa ketika kita melalui jalan tersebut, setan tidak akan bisa mengganggu kita. “Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.” (QS an-Nahl [16]:99)

Dicintai Allah dan Dijamin Surga

Dalam proses perjalanan spiritual seorang hamba, dicintai Allah merupakan tujuan yang tidak bisa ditawar lagi. Bahkan, kaum sufi seringkali mengatakan bahwa surga yang didapatkan pun akan sia-sia belaka ketika cinta dari Allah tidak mereka dapatkan. Maka dicintai Allah, adalah harga mati agar nikmat yang diberikan, di dunia atau akhirat, berupa senang atau susah, bisa menjadikan seorang hamba makin dekat denganNya. Karena kedekatan dengan Allah merupakan salah satu indikasi apakah seseorang dicintaiNya, atau sebaliknya.

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS Ali Imran [3]:159). Dalam ayat ini Allah menegaskan. Bahwa tawakal merupakan salah satu jalan yang bisa ditempuh bagi siapa saja yang ingin dicintai oleh Allah. Dalam ayat ini, tawakal juga berkedudukan sama dengan taqwa, ikhlas dan aneka amal shalih lainnya, di mana pelakunya bisa mendapatkan ganjaran dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

Maka, ketika Allah sudah mencintai seorang hamba, penduduk langit dan bumi pun akan berbondong-bondong mencintai hamba tersebut. Sehingga surga yang Allah janjikan, akan diberikan kepada siapa yang dicintaiNya. Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Beberapa kaum yang hatinya seperti burung (bertawakal), akan masuk surga” (HR Muslim). Sedangkan dalam hadits lain disebutkan, “Surga akan dimasuki oleh 70.000 orang tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak membakar dirinya dengan besi, tidak minta dijampi-jampi, tidak merasa sial karena adanya sesuatu dan bertawakal kepada Tuhannya.” (HR Bukhari)

Yang perlu dicatat, bahwa tawakal dilakukan setelah ikhtiar manusiawi dilakukan dengan sempurna. Kemudian kita menyerahkan semuanya kepada Allah yang Maha Kuasa. Semoga kita termasuk dalam kalangan orang-orang yang bertawakal kepada Allah. Sehingga kesuksesan di dunia dan akhirat akan Allah berikan kepada kita. Aamiin. Wallahu A’laam bish-Showab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar

Lihat Juga

Love, Cinta, Valentine

Cinta Sebagai Energi Kemenangan

Organization