Home / Narasi Islam / Politik / Refleksi dari Muhammad SAW: Menjawab Kompleksitas Peradaban

Refleksi dari Muhammad SAW: Menjawab Kompleksitas Peradaban

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Jazirah yang membelah Eropa dan Amerika kala itu belum ada dalam peta. Dunia masih terlalu pagi untuk mencantumkannya, sehingga Yunani dan Romawi saja yang memiliki ruang di sana. Alamnya yang keras tidak memberikan jenak hidup bagi fisik dan mental yang lemah. Siang seperti semburan neraka dan malamnya sangat tajam menusuk tulang menjadikan rahim peradaban seperti mandul di Arabia. Maka tidaklah heran jika penduduknya yang nomaden memiliki karakter militeristik, keras, kurang peka akan nilai-nilai santun; dan kritis. Bahkan untuk ukuran tertentu kelewat kritis. Isolasi alamlah yang kemudian menjadikan bangsa Arab pernah terseret masa gelap kemanusiaannya. Masa gelap dalam ideologi, peradaban, karakter mulia, termasuk masa gelap akan pahlawan moral. Jeda ini berlangsung kurang lebih 600 tahun sejak wafatnya Nabi Isa AS di sekitaran Palestina dan cucu-cucu Nabi Ibrahim AS di Mekah.

Mungkin kondisi geokultur-sosial di atas agak mengena akan jazirah dan masyarakat pra-Nabi Muhammad SAW. Hal ini kemudian membangun karakter besar jazirah Arab baik itu positif dan negatifnya. Jantan dan ksatria akan ucapan serta janji adalah salah satu sisi positifnya. Sedangkan kesetiaan tanpa batas (yang didefinisikan sebagai fanatisme) kerap merupakan bibit peperangan suku ratusan tahun, sekaligus alasan bertahannya suku-suku itu di gurun. Memori bahasa yang luar biasa, ahli strategi militer, pebisnis sejati, kemampuan daya cipta material yang mapan, kaum proletarnya yang kerap dugem (versi itu tentunya), penganut gender yang taat, sampai pada rasisme adalah sekian banyak bangunan psikososial masyarakat Arab, khususnya yang mendiami Mekah, Yatsrib dan sekitarnya. Ironisnya adalah: ‘kebudayaan’ ini justru berada pada margin hedonis dan oligarkinya kemegahan Persia dan Romawi. Kedua imperium berupaya mempertahankan karena Arab merupakan bufferstaat (pembatas) kekuasaan mereka.

Bagaimana skenario Allah sehingga Muhammad muda mampu menghadapi kondisi ini? Jawabannya ada 3 tahapan; pre-kondisi, kematangan, dan separasi fakta. Diharapkan dengan dipaparkannya hal yang bersifat prinsip ini akan menjadikan salah satu solusi dalam refleksi individu kita dalam menjawab multikrisis bangsa ini. Output yang diharapkan adalah terciptanya jiwa yang siap jadi pewaris para Nabi. Ulama. Jiwa yang didefinisikan Qur’an sebagai: ”..orang yang (hanya) takut kepada Allah”.

Pre-Kondisi

Akhlak yang mulia adalah modal dasar dalam kepribadian Muhammad dengan titik berat pada ruhnya kontrak sosial; yaitu kepercayaan. Gelar al-amiin bagi masyarakat paternalistil-yang banyak memandang dari materi, melihat moral semata-mata milik orang lemah-merupakan akumulasi dari kehausan masyarakat akan norma serta awal kesadaran fitrah penduduk Mekah. Gelar itu tidak diberikan kepada moyang Muhammad sekaliber Abu Thalib, Abu Muthalib, Abdu Manaf atau Qussay sekalipun yang jauh memiliki sense of power ketimbang Muhammad yang sekadar yatim piatu. Modal ruh (kejujuran iman) ini yang kemudian menjadi pijakan integritas beliau. Dari sana kafir Quraisy sukar untuk menghantam sisi yang paling rentan dari seseorang: integritas. Tengoklah komentar cendekiawan beken Abu Bakar -yang saat itu belum masuk Islam,- ketika mendapat aduan tentang Muhammad dari sesama cendekiawan lainnya -yang berharap akan berkomentar menyudutkan beliau- : aku percaya apa yang ia katakan karena ia (Muhammad) adalah Al-Amiin. Suatu pengakuan integritas yang utuh dari tokoh yang tidak pernah diragukan integritasnya oleh bangsawan Quraisy manapun.

Integritas akhlak ini pula yang kemudian dapat mendongkrak akseptabilitas pada masyarakat jahiliyah, baik yang tahu atau yang buta terhadap Islam. Sejarah mencatat akselerasi pemeluk Islam saat Fathul Mekah bukan karena faktor kekuasaan, karena jelas penyataan Nabi: “hari ini hari marhamah, yang masuk Ka’bah terlindung, yang masuk rumah abu sufyan terlindung…”. Tidak ada satu pun yang menunjukkan harus masuk Islam, justru rumah Abu Sufyan yang saat itu masih merupakan kafir dijadikan sebagai salah satu manuver politik yang cerdas.

Integritas akhlak ini terlihat lagi dalam bisnis. Bangsa pebisnis, yang potensial melahirkan praktek riba, suap, monopoli, aksi ambil untung merupakan lingkaran setan yang telah berakar pada masyarakat jahiliyah. Penerjemahan al-amiin dalam melakukan transaksi di Syam oleh Muhammad muda saat itu cukup menjadi headline news di kalangan bangsawan pasar. Walau sempat di kritik oleh beberapa saingannya tetapi tidak ada konsumen yang melakukan aksi protes karena bertransaksi dengannya. Ini menunjukkan pasar merespon positif, sementara kritik saingannya hanya indikator bahwa sistem bisnis yang dijalankan selama itu memang status quo.

Jadi yang paling menonjol dari pre-kondisi kerasulan beliau adalah integritas. Tidak ada mukjizat khusus atau kompetensi spesial yang Allah diskonkan kepada beliau, atau gratis sekalipun! Inilah alasan utama keberadaannya, dan juga orang-orang yang menjadi pendampingnya. Dari integritas akhlak maka dapat dimengerti mengapa rasisme dan gender yang merupakan isu sentral sekaligus penopang dominasi Quraisy atas suku-suku lain dapat dilenyapkan dalam waktu kurang dari 23 tahun. Suatu gerakan moral yang mirip di Afrika melalui Nelson Mandela-nya di mana butuh 146 tahun untuk itu.

Menanti Kematangan             

Kemapanan secara psikologis adalah ketika seseorang mulai mencapai usia 40 tahun, dan Allah Maha Tahu ilmu psikologi ini sehingga saat itu mulai mempercayakan risalah kenabian. Sejarah tidak mencatat nabi-nabi muda yang hanya begitu saja diangkat menjadi rasul tanpa adanya kematangan pribadi baik itu sisi spatial atau sisi temporalnya. Maka kondisi selanjutnya untuk refleksi dari seorang pembaharu umat adalah kematangan. Kematangan hanya bisa dilakukan ketika konsisten mengakumulasikan nilai-nilai prekondisi dalam waktu yang lama. Dan ini berat. Kelewat berat. Lebih dari 15 tahun Muhammad mempertahankan idealisme pada realisme yang terlalu pragmatis di depan mata. Merajut ide-ide perubahan melalui khalwat-nya dalam sepi-sepi yang panjang. Membangun dalam diam, berkarya dalam sunyi.

Proses ini pada dasarnya adalah ujian keikhlasan. Ketika tidak satu pun mata memperhatikan, tidak ada salvo atau bravo terhadap karya yang kita buat, apakah kita akan konsisten pada prinsip yang membangun karya itu? Kunci kematangan yang paling nyata dari Muhammad adalah sertifikasi keikhlasan. Dan untuk menjalaninya setiap Nabi akan merasai masa-masa sunyi panjang yang tidak terlalu nyaman. Nabi Musa as melewati 14 tahun menanti kematangannya, Nabi Isa as melewati sepi 12 tahunnya guna memperoleh sertifikasi keikhlasan, sementara Nabi Ibrahim as harus melampaui dialog-dialog diri yang kritis 18 tahun.

Kematangan yang diperoleh dari sertifikasi langit ini adalah akumulasi pembangunan karakter internal yang kokoh, baik pada sisi naluri maupun pada sisi nurani. Pada sisi naluri ia akan memupuk daya cipta rasional yang jernih dan objektif. Hal ini kemudian terbukti pada peristiwa pembebasan tawanan Badar, strategi Khandaq, pendelegasian Yaman -yang semuanya bukan merupakan kontribusi dominan Rasul. Sementara untuk sisi nurani akan membangun kepercayaan akan eksistensi Dzat yang Serba Maha secara kongkret dan ajeg. Sisi ini terbukti ketika kecemasan di Badar pecah, gemetar Madinah dikepung saat Khandaq, dan kekalahan pembuka di Hunain; bahwa ada korelasi antara sisi nurani pada Allah dalam membangkitkan epik, mengalahkan realisme, bahkan menggulung ribuan ragu untuk menyulapnya menjadi iman.

Sertifikasi keikhlasan yang dilandasi pada iman yang hanif seorang Muhammad kemudian mampu menggetarkan kesetiaan ajaran pada pengikutnya tanpa syarat waktu tempuh tertentu. Tidak heran kaum marginal yang bertahun ‘setia’ pada majikannya memiliki kesetiaan abstrak pada Tuhannya Muhammad yang tidak cukup ditukar dengan cambuk, besi panas, bahkan nyawa sekalipun. Satu sisi menciptakan kepedihan HAM luar biasa, akan tetapi secara makro menumbuhkan rasa gentar, kecut, jengah sampai pada takjub pada kafir Quraisy, sampai terlontar ucapan jujur: apa yang Muhammad katakan pada mereka (budak) sehingga rela menukar nyawanya?” demikian gusarnya Abu Jahal. Isolasi sosial sampai hilangnya orang-orang tercinta (istri dan paman sekaligus pelindung), pengusiran (ke Syam), makar pembunuhan (konspirasi 34 suku) sampai pada hijrah pada dasarnya adalah refleksi ketidakberdayaan kafir Quraisy dalam membendung wabah sertifikasi keikhlasan pada setiap sahabatnya.

Jadi saat kematangan kenabian sampai sebelum hijrah secara kongkret adalah akumulasi dari karya-karya panjang dalam sunyi; membangun keikhlasan yang dilandaskan naluri jernih dan objektif serta nurani kokoh akan eksistensi Allah. Keteladanan proses inilah yang sebaiknya dibangun dalam individu umat Islam. Berjuang dalam ramai, berkarya dalam riuh kerap membangkitkan sisi ego ‘playmaker’ bangsa ini sehingga menghentikan nurani kepada Allah karena sisi riya berpotensi untuk ambil peran.

Setelah integritas iman dijadikan sebagai soko guru, selanjutnya implementasi integritas itu dalam ujian sang waktu; keberanian menempuh dalam jenak-jenak sabar dan istiqamah. Inilah sisi yang paling berat dari seorang Muhammad. Ada pajak yang beliau bayar dari kekaguman umatnya, yang mungkin sahabatnya sendiri tidak mengetahui. Mungkin hanya Aisyah ra yang tahu penggalan pajak itu ketika Rasul terisak di ruku dan sujud dalam sunyi sementara Aisyah sendiri telah lelah melawan kantuk hanya untuk tahu ‘seberapa lama?’ Rasul menyandarkan nuraninya setiap malam, sementara siang beliau adalah ajang sibuk bisnis, dakwah, militer sampai pertanian.

Pembangunan miniatur sosio-politik Madinah di tengah kapitalisme bisnis Yahudi, konspirasi sosial kafir, ancaman Romawi dan Persia, sampai pada berdiri di tengah sisa-sisa veteran perang Bua’ts adalah hasil karya yang lahir dari kombinasi integritas serta keikhlasan sosial yang dijalaninya satu dekade di Mekah.

Separasi Fakta

Adalah fakta ketika di penghujung tahun 12 Hijriyah: ada sekitar 86 peperangan yang langsung dikomandani Rasul dengan rekor 85 Menang KO- 1seri; angka kriminalitas 0% di Yatsrib; kekuatan militer solid, apik, dan disegani yang kemampuan minimal prajuritnya setara kolonel-kolonel Romawi; iklim investasi dari Syam dan Thaif yang positif; neraca perdagangan yang selalu surplus; sistem Hankamrata yang sangat teruji; rasionalitas iman yang mapan; 140 ribuan sahabat berderajat ‘hanif’; koloni-koloni yang rukun di sekitaran Madinah; mantan budak-budak yang sejajar dengan mantan majikannya sendiri; kartini-kartini yang rahimnya produktif melahirkan mujahid baru dengan angka harapan hidup tinggi; hingga sepinya tabib bukan karena tidak mampu untuk bayar tetapi karena cukup langka mencari wabah penyakit atau sekadar seorang muslim yang sakit gigi!. Namun di tengah keseluruhan aspek itu, Rasul dan sahabatnya mampu membuat terobosan: memisahkan antara fakta dan perasaannya!

Tidak bisa dipungkiri keseluruhan fakta di atas kepemimpinan Rasul merupakan gemilang sejarah dalam mewujudkan tatanan masyarakat ‘madani’, yang untuk versi lebih rendah dari itu Tutmosis II di Mesir membelanjakan 80 tahun mimpi mubadzir moyangnya dengan ribuan korban, atau Raja Ashoka di India yang menghabiskan 45 tahun dalam peperangan yang panjang. Tapi perasaan tentang fakta inilah yang ditanamkan Rasul pada dirinya sendiri dan sahabatnya: bahwa semua adalah karya kolektif, dukungan utama Allah karena terlalu banyak yang tidak bisa dikendalikan manusia. Dari sini tidak pernah sekalipun beliau atau sahabat secerdas Abu Bakar atau Umar yang menepuk dada, padahal sah saja –secara humanis- jika itu mereka lakukan seperti yang diproklamirkan Fir’aun di depan umatnya “Akulah Tuhanmu Tertinggi”. Tapi beliau sebagai pahlawan memandang dengan satu prinsip: ini bukan tujuan!

Hanya ketika kekuasaan beserta fasilitasnya: kemudahan, popularitas, kekuatan, uang, bahkan seks bukan sebagai tujuan, maka ketika itu yang terpikir adalah bagaimana menyelesaikannya sebaik mungkin tanpa berupaya memikirkan bagaimana kekal dalam sejarah. Dan Allah Maha Adil, Rasul dan sahabatnya yang tak pernah menorehkan prasasti batu untuk di kenang kepahlawanannya malah mengabdi dalam jiwa hari muslim yang lebih kuat dari sekadar Prasasti Bukit Canggal atau Piramida sekalipun.

Benang merahnya, sangat penting untuk memisahkan antara fakta karya-karya yang telah kita buat dengan perasaan tentang fakta itu. Di sini keteladanan tertinggi yang justru antagonis dengan luapan karya selama ini. Kekuasaan yang terbentang, masyarakat yang makmur, sahabat yang mengagumi, Yahudi yang sangat segan kepada beliau, sampai ‘pujian langsung’ Allah kepadanya tidak berupaya menjadikan Muhammad SAW ingin sedikit mencicipi rasa terima kasih itu. Faktanya justru paradoks. Ketika datang Jibril memberitahukan sertifikasi dosa padanya, beliau lebih sering bersujud memohon ampun dengan sabdanya yang terkenal “bukankah layak jika aku menjadi hamba yang bersyukur (melalui sujud ini)?”

Hal ini yang kemudian diestafetkan kepada khulafaurrasyidin-nya. Dibukanya pintu-pintu dunia dan kemakmuran yang permanen justru semakin mempertajam mata batin. Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra dalam kondisi ini tidak berperang dengan siapa pun, tetapi dengan dirinya sendiri; apakah ini akan semakin mendekatkan kepada idola mereka atau semakin menjauhkan. Dan mereka tajam untuk itu sehingga ayat ini sangat terkenal di kalangan sahabat: “… dan itulah negeri (akhirat) Kami peruntukkan bagi orang-orang yang tidak (berkeinginan) menyombongkan diri dan (tidak pula) berbuat kerusakan…”

Penutup

Ketiga teladan utama: integritas akhlak, proses sertifikasi keikhlasan, separasi antara fakta dan perasaan tentang fakta adalah sisi lain secara global perjuangan beliau bersama sahabatnya. Dari ketiga inilah melahirkan pribadi shiddiq, tabligh, amanah, fathonah dan psiko-sosial yang mumpuni sampai lestarinya ajaran hingga sekarang. Tidak saya ungkapkan sedikitpun fasilitas mukjizat yang kerap menjadikan umat sukar meneladani Rasul-Nya, karena pada dasarnya keberadaan kita sendiri sudah merupakan mukjizat. Mukjizat pada era Muhammad SAW lebih merupakan peristiwa sebab akibat yang bermuara pada satu pedoman rasionalitas samawi: Qur’an. Karena justru mukjizatnya adalah Qur’an.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Arif Hidayat
Pengajar di Universitas Pendidikan Indonesia.

Lihat Juga

(inet)

Nilai Waktu