Home / Berita / Nasional / Dua Siswa Dikabarkan Akan Dikeluarkan Karena tidak Mau Merayakan Valentine’s Day yang Diadakan Sekolah

Dua Siswa Dikabarkan Akan Dikeluarkan Karena tidak Mau Merayakan Valentine’s Day yang Diadakan Sekolah

Ilustrasi - Say no to Valentine's Day. (IloveOriginalKawanimut)
Ilustrasi – Say no to Valentine’s Day. (IloveOriginalKawanimut)

dakwatuna.com – Tanggal 14 Februari sering diperingati oleh sebagian kecil kalangan sebagai Valentine’s Day (hari kasih sayang). Budaya dari barat ini mengalir hingga ke Indonesia, salah satunya hingga ke sebuah sekolah.

Terkait dengan hal tersebut, beredar kabar melalui broadcast Blackberry Messenger (BBM) maupun media sosial bahwa terdapat 2 orang siswa Sekolah Menengah Farmasi (SMF) Caraka Nusantara yang mendapatkan intimidasi karena tidak mau menggunakan baju dan atribut pink pada perayaan Valentine’s Day. Intimidasi tersebut justru muncul dari pihak sekolah yang mengancam akan mengeluarkan kedua siswa itu dari sekolah dan tidak diluluskan.

Adalah Fahmi Fauzy Ardi (Fahmi) dan Muhammad Rahmat Muzakki (Zaky) siswa kelas 3 Farmasi Industri Caraka Nusantara yang dikabarkan mendapatkan ancaman tersebut. Kedua siswa ini tidak mau mengikuti arahan untuk mengikuti berbagai kegiatan Valentine’s Day, termasuk menggunakan baju pink yang diselenggarakan pihak sekolah pada tanggal 14 Februari 2013 yang lalu.

Akibat penolakannya tersebut, kedua siswa itu dipanggil oleh kepala sekolah beserta oknum guru lainnya dan kabarnya diintimidasi dengan kata-kata kasar serta diancam tidak diluluskan. Bahkan kedua orang tua siswa juga dikabarkan diancam dengan hal serupa, demikian dikutip dari pesan BBM yang beredar sejak 19 Februari 2013.

Terkait dengan kabar tersebut di atas, muncul pesan BBM berikutnya yang mengabarkan bahwa pihak sekolah kembali memanggil orang tua dari Zaky dan Fahmi untuk membicarakan kembali masalah ini. Panggilan kedua tersebut dilakukan oleh pihak sekolah setelah muncul banyaknya pembelaan terhadap kedua siswa itu dari berbagai kalangan pasca beredarnya kabar pertama di atas via broadcast BBM dan media sosial.

Dalam pertemuan kedua itu disepakati beberapa poin:

  1. Pihak sekolah meminta maaf pada Zaky dan Fahmi dan meminta keduanya kembali menaati peraturan yang ada di sekolah.
  2. Pihak sekolah tidak akan mengeluarkan Zaky dan Fahmi serta tetap mengikatkan mereka di Ujian nasional kompetensi keahlian (UNKK) serta melupakan kesalahan-kesalahan mereka. Dan tidak akan melakukan tekanan-tekanan dalam bentuk apapun.
  3. Sebagai konsensus dari poin ke-1 dan ke-2 maka pihak keluarga harus menghentikan semua upaya advokasi kasus ini, meredam tokoh masyarakat, alumni yang tergabung di Forsika, wartawan, serta tim pengacara.
  4. Dalam rangka meredam aksi dunia maya maka Zaky dan Fahmi akan mengklarifikasi via Facebook dan Twitter bahwa mereka tidak mengalami intimidasi dan hanya menjalani proses “Klarifikasi”.

Terkait dengan kabar ini, sebuah blog memposting artikel (20/2/2013) berjudul #SaveTursina dan mengabarkan bahwa kedua siswa tersebut merupakan pegiat TURSINA (Tali Ukhuwah Remaja Islam Farmasi dan Analis).

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (29 votes, average: 9,21 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • memiliki pendirian yang bagus justru tidak di dukung oleh sekolah… payah sekolahnya

  • poin no 2. di kalimat “serta melupakan kesalahan-kesalahan mereka” apa mereka salah tidak mau merayakan valentine ?. poin2 dari pihak sekolah ini ko ngaco.

    tapi salut buat 2 pelajar ini.

  • sekolah sampah..!! Gak punya identitas,. Pihak Sekolah dkk. dong yg minta maaf..!!! barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk ke dalam kaum trsebut..!

  • Abdullah

    Ini beritanya valid gak sih? Kok hanya beredar dari BBM aja udah langsung jadi berita di media. Validitasnya kan belum tentu shahih. Harus di-tabayyun dulu karena ini menyangkut nama baik suatu lembaga pendidikan terkait.

    Masa kalau untuk berita keterlibatan Presiden PKS saja harus di-tabayyun dulu secara sungguh-sungguh, masa untuk berita semacam ini hanya mengandalkan kabar dari BBM ‘yang konon katanya’. Kalau untuk menjatuhkan suatu pihak berani ngambil dari sumber berita yang masih simpang siur. Tapi untuk kelompok sendiri, bilangnya konspirasi lah, harus di-tabayyun dulu lah, dlsb… Mana KEADILAN pers dan media kalian? Jangan standar ganda begini dong!

    Dulu juga saat beberapa partai terlibat korupsi, diberitakan bahwa KAMMI dan Ketuanya menuntut agar partai-partai tersebut dibubarkan dan mahasiswa diharapkan melawan korupsi di pemerintahan. Tapi saat Ust. Luthfie ditangkap, sikapnya berbeda 180 derajat (terlihat dari berita-beritanya). Ayo tunjukkan profesionalisme kalian dalam memuat berita! Objektif dikit lah…

Lihat Juga

Ilustrasi. (Syaeful Bahri)

Perlukah Orang Tua Mengantar ke Sekolah?