Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Cetak Biru Generasi Putih

Cetak Biru Generasi Putih

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah...” (QS. Ali Imran: 110)

Predikat khairu ummah telah tersemat dalam pribadi tiap muslim sejak masa generasi pertama hingga kini, insya Allah. Sang pendidik terbaik, Rasulullah adalah cetak biru sebuah pribadi muslim yang unggul di berbagai bidang. Para sahabat, salafus shalih, dan ilmuwan-ilmuwan muslim yang lahir dari peradaban Baghdad, Cordova, Kairo adalah bukti bahwa dien ini tidak pernah kehilangan stok manusia terbaiknya.

Tapi kini umat Islam seperti buih yang tiada daya dan kekuatan untuk menyinari setiap jengkal masa hidupnya. Islam hanya dijadikan sebuah ritual ibadah dan Tuhan hanya diletakkan di dalam masjid saja. Selanjutnya? Hari-hari dihabiskan untuk bergemul dalam kepenatan hidup yang tak kunjung usai. Lupa bahwa dulu Ibnu Haitam, Ar-Razi dan Al-Khawarizm sepanjang hari berkutat dengan buku dan berbagai penemuan yang mencengangkan dunia.

Asupan gizi bagi masyarakat kita setiap hari tidak pernah lepas dari pemberitaan mengenai keributan, perceraian, pertikaian, korupsi dan segala bentuk kejahatan dan pelanggaran lainnya. Sebuah pantulan besar dari jiwa-jiwa yang tidak lagi bersih. Maka wajar saja bila negeri ini dilanda tsunami depresi dan pesimisme yang semakin menumpuk setiap harinya.

Hukum dipertontonkan dan menjadi bulan-bulanan media massa setiap hari. Betapa miris melihat dagelan manusia yang mengatasnamakan hukum dan keadilan menyapu bersih ‘kejahatan-kejahatan kecil’ warganya dan memupuk suburkan perilaku-perilaku menyimpang para pejabatnya. Para penguasa dan orang-orang kaya berbondong-bondong mencari perlindungan dibalik kebesaran jubah hakim, jaksa dan pengacara.

Satu persatu pameo negatif tentang hukum bermunculan. Hukum dapat dibeli layaknya barang dagangan. Seperti pisau yang tumpul di bagian atas dan tajam di bagian bawah. Diskriminasi, tebang pilih, rekayasa proses peradilan dan lemahnya imunitas di tubuh perangkat penegak hukum hingga mudah tergoda suap bahkan kini muncul istilah ‘gratifikasi seksual’. Quo vadis penegakan hukum di negara yang melabelkan diri sebagai Negara Hukum menjadi kerisauan bagi setiap jiwa yang tergerak untuk mengembalikan izzah bangsa.

Kondisi ini mungkin lahir dari sebuah generasi yang hanya menghasilkan mahasiswa-mahasiswi ber-IPK cumlaude tanpa nurani. Tekanan dan permintaan akan sumber daya manusia yang cepat lulus, cepat kerja dan cepat kaya seakan momentum bagi kelahiran generasi baru ini. Sebuah fenomena yang mengikis idealisme kemahasiswaan yang digodok di awal tahun kedatangan para pejuang muda di kampus-kampus perjuangan.

Bangsa ini membutuhkan sebuah generasi yang memutihkan setiap noda hitam dalam kancah hukum dan peradilan. Memutihkan paradigma keadilan formal (formal justice) menjadi sebuah keadilan substantif yang dirasai oleh setiap kepala di Indonesia. Nisbi? Bukankah kita sering mendengar kisah Umar bin Abdul Aziz yang fenomenal itu? Ya harapan itu masih ada. Semangat pembaharuan itu tetap terjaga dalam jiwa-jiwa yang meyakini bahwa ia adalah khairu ummah.

Maka, membuat sebuah strategi pembenahan dan penataan ulang, alur program serta kejelasan langkah menjadi suatu yang niscaya sebab bangsa ini merindukan Islam sebagai solusi dari semua permasalahan manusia –mu’alajat li masyakil al-insan. Cetak biru sebuah generasi putih itulah refleksi dari generasi rabbani yang terakselerasi Ilahi. Wallahu ‘alam bish shawab…

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 5,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi S1 Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ketua Keputrian Lembaga Dakwah SERAMBI (Senantiasa Ramah Bernuansa Islam) FHUI 2013.

Lihat Juga

Wahai Umat Akhir Zaman, Timur Bukan Barat!