Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Generasi Narkoba

Generasi Narkoba

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet).
Ilustrasi (inet).

dakwatuna.com – Pemuda bagi sebuah bangsa menjadi tumpuan masa depan. Bahkan bisa diistilahkan, melihat masa depan sebuah bangsa bisa dari pemudanya saat ini. Jika saat ini sebuah bangsa dengan pemudanya senang akan hura-hura. Maka masa depan bangsa tidak jauh beda dengan gambaran pemuda tersebut. Senang hura-hura yang akan menghabiskan kekayaan bangsanya dan cenderung bersikap acuh tak acuh.

Jika kita melihat realitas saat ini, sebagian pemuda bangsa Indonesia adalah pecandu narkoba. Tentu saja dengan segala jenis narkoba. Mulai dari pil ekstasi, ganja, putaw, dll sudah tak asing bagi mereka. Dan uniknya dari mereka yang ketergantungan adalah usia-usia dini dan produktif. Bisa dibayangkan kelak negeri ini jadi apa. Jika diteruskan dengan pemuda pecandu.

Kita semua telah berusaha menghadang bahaya narkoba. Mulai dari aparatur Negara yang diwakili BNN, ormas masyarakat seperti GRANAT, maupun jalur-jalur pendidikan bahkan iklan. Tapi seakan kuman yang membandel, dibersihkan satu tempat, ditempat yang lain tumbuh lebih banyak. Karena sebagian kita masih senang dengan kotoran.

Kita cenderung menyelesaikan masalah seperti menebang batang pohon. Akarnya tak pernah tersentuh. Penyelesaian dengan menangkap bandar narkoba, pemakai yang direhabilitasi dan memutus jalur distribusinya. Ini usaha bagus, tapi tetap seperti memotong batang pohon saja. Akar permasalahannya tidak dicabut atau diselesaikan.

Akar dari permasalahan semua masalah yang salah satu masalah adalah narkoba yakni belum matangnya aqidah. Aqidah yang matang tidaklah ditentukan dari usia yang matang. Tidak pula dari gelar yang mentereng atau jabatan yang mapan. Kematangan aqidah merupakan karunia dari Allah ta’ala. Yang tidak bisa didapatkan hanya sekadar baca buku dan mendengar ceramah saja. Walaupun ini bisa menjadi sarananya. Tapi lebih dari itu, proses mengenali diri kita dan untuk apa kita ada itu yang lebih penting. Sebagaimana firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [٥١:٥٦]

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Memperhatikan ayat di atas secara mendalam, maka apa tujuan kita hidup adalah jelas yakni ibadah dan menghamba diri hanya kepada Allah semata. Dan ini saja tugas kita. Tapi kita lihat kenyataan mereka yang menjadi pecandu. Mereka mengejar kenikmatan dari seribu tuntutan yang menyiksa dengan jalan pintas berupa narkoba.

Memang tak dipungkiri, efek dari keruwetan zaman dan gejolaknya yang sangat cepat. Melahirkan manusia yang pragmatis dalam bersikap. Salah satunya mengejar nikmat dengan serba instant. DR. Mujahid Ansori, pernah berkata dalam ceramahnya di Masjid Al Wahyu,”2 tipe yang tetap tenang di zaman yang ruwet ini: 1. orang yang lola’ lolo’ 2. orang yang berdzikir dengan tingkat puncak kekhusu’an.

Berdzikir sampai tingkat puncak ketenangan tidaklah didapat kecuali dari keyakinan dan kepasrahan total kepada Pencipta ketenangan itu sendiri. Ketika sudah mendapat ketenangan ini, apakah masih mencari ketenangan dengan sumber yang lain? Tentu tidak dengan jawaban yang mantap.

Hal ini bisa juga sering disebut dengan mendapat manisnya iman. Sebagaimana hadits dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi wa salam bersabda:”Tiga sifat yang ada pada diri seseorang, ia akan mendapat manisnya iman: 1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya. 2) Ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah 3) Ia membenci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci apabila dilempar ke dalam api” (Muttafaqun ‘Alaih). Manisnya iman bisa menjadi candu yang luar biasa. Uniknya tubuh tidak akan rusak. Keluarga tidak akan berantakan. Prestasi lebih gemilang. Wajah lebih bersinar. Hidup terasa luas. Kemudahan berlimpah ruah. Dan manisnya iman bisa didapat dari mendahulukan Allah dan Rasul-Nya dari segala hal. Memahami dari sini ada bentuk pengabdian dan kepasrahan total kepada Allah. Nah, jika seseorang mencapai hal ini, maka pintu-pintu syetan yang salah satunya narkoba tentu tidak ada efek sedikit pun.

Kalau kita merunut masa lampau, karena kita harus berkaca kepada para pendahulu umat ini. Maka kita tidak mendapati kasus-kasus seperti di era modern ini. Seperti penyalahgunaan narkoba (padahal tanaman opium sudah ada ribuan tahun), kenakalan remaja, seks bebas yang massif dan terang-terangan. Karena sistem bermasyarakat dan pendidikan ditekankan dalam pematangan aqidah. Semoga bermanfaat. Amin. Wallahua’lam.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Lihat Juga

Jangan Jadi Generasi Tahu Bulat